Prosa (Satu), Kopi, dan Cokelat


“Apa kau percaya reinkarnasi?”

Sore itu panas, dan kami berdua menghabiskan waktu dengan duduk-duduk di teras rumah sambil mengawasi sekumpulan semut hitam yang berbaris rapi di sudut antara lantai dan dinding. Di hadapan kami masing-masing terletak secangkir minuman yang masih mengepulkan uap panas; kopi untuknya dan cokelat untukku.

“Reinkarnasi belum terbukti secara saintifik.”

“Aku tidak bertanya soal itu. Aku bertanya, apakah kau percaya reinkarnasi?”

Ia mengangkat bahu. “Kepercayaan itu suatu paradoks. Kalau kau memilih untuk percaya, maka kau akan terputar-putar di sana. Begitu pula sebaliknya.” Ia menyesap kopinya. “Lain halnya jika kau membuang persoalan percaya atau tidak percaya, dan hanya berpegang pada bukti-bukti konkrit.”

“Seandainya ada bukti?”

“Seandainya ada bukti, buat apa aku percaya? Kau memercayai sesuatu hanya jika sesuatu itu tidak memiliki bukti. Jika ada bukti, esensi dari kepercayaan itu tidak akan dibutuhkan lagi.”

Gantian aku yang menyeruput cokelatku. Minuman itu masih panas, dan aku menghirupnya dengan hati-hati sebab aku tidak ingin kehilangan indra pengecapku selama beberapa hari ke depan.

“Seperti kau lihat,” ia melanjutkan, “seandainya aku cenderung percaya akan adanya reinkarnasi, maka alam bawah sadarku akan cenderung mencocok-cocokkan berbagai fenomena yang ada untuk mendukung kepercayaanku itu. Demikian pula sebaliknya, jika aku cenderung tidak memercayai reinkarnasi, maka aku akan cenderung menihilkan argumen-argumen yang membuktikan adanya reinkarnasi, dan secara tidak sadar aku akan mengarahkan bahwa hipotesis nol adalah benar.”

“Semacam anti-cocoklogi, maksudmu?” Aku tertawa.

“Benar.” Ia ikut tertawa. “Dalam persoalan percaya atau tidak percaya, kau akan terus-menerus melakukan kesalahan alfa maupun kesalahan beta, tergantung kau ada di pihak yang mana.”

“Kau tahu, aku selalu beranggapan bahwa orang-orang yang memperdebatkan sesuatu yang hanya berdasarkan kepercayaan semata adalah membuang-buang waktu belaka. Contoh termudah adalah perdebatan mengenai keberadaan Tuhan. Terlepas dari definisi operasional mengenai Tuhan, mari kita pandang persoalan itu dari sudut pandang yang berbeda.”

Aku meneruskan, “Anggaplah aku seorang religius. Tentu aku akan menganggap bahwa mereka yang tidak percaya adalah orang-orang yang belum tercerahkan, dan aku akan berdoa sepenuh hati supaya suatu saat kelak Tuhanku akan membuka mata hati mereka untuk melihat kebenarannya. Aku sendiri tidak memerlukan bukti sebagai dasar imanku, sebab iman tidak menuntut adanya bukti. Lagipula, bukankah aku akan memandang segala hal yang berlangsung dalam hidup ini sebagai suatu bukti langsung maupun tidak langsung mengenai keberadaan sang causa prima?”

“Lanjutkan.”

“Di sisi lain, jika aku adalah seorang skeptis, hal itu sama saja. Aku akan meyakini bahwa segala hal yang berbau religi dan iman adalah tidak lebih dari delusi yang diturunkan turun-temurun sebab manusia adalah makhluk lemah yang belum mampu menerima kemungkinan bahwa keberadaan semua yang ada ini adalah kebetulan belaka. Berdasarkan keyakinan itu, aku akan menuntut bukti dari mereka yang menolak hipotesis nol. Kau lihat, di sinilah masalahnya. Kalau aku seorang ateis, bahkan jika Tuhan sendiri menampakkan dirinya di hadapanku dan mengubah air menjadi anggur pun, aku tetap akan mengucek-ucek mata, menampar pipi, mencubit lenganku sendiri untuk membuktikan bahwa aku tidak sedang bermimpi. Kemudian, setelah yakin aku tidak sedang bermimpi, aku akan langsung mencari psikiater untuk berkonsultasi sebab tentunya aku menganggap diriku entah berhalusinasi ataupun terkena waham induksi.”

Ia tergelak. “Begitukah?”

Aku mengangkat bahu. “Mungkin aku terlalu mendramatisasi. Yang ingin kukatakan adalah, jika kau memilih untuk percaya, kau tidak akan memerlukan bukti. Sedangkan jika kau memilih untuk tidak percaya, maka bukti apapun tidak akan pernah cukup.”

“Itu kesimpulan yang unik,” Ia tersenyum, “mengingat sampai saat ini pun bukti-bukti itu sendiri masih diinterpretasikan secara berbeda jika dipandang dari sudut pandang yang berbeda.”

Aku balas tersenyum. “Tidak apa-apa. Toh, seperti kata-katamu, jika ada bukti, buat apa kita percaya?”

“Jadi, bagaimana denganmu? Apakah kau memercayai causa prima dan lebih menyukai kata-kata Einstein, ‘Tuhan tidak sedang bermain dadu dengan alam semesta,’ ataukah kau memilih untuk meyakini bahwa seluruh eksistensi yang telah kita ketahui ini tidak lebih dari sekadar kebetulan kosmik tanpa pencipta seperti dikatakan – lagi-lagi – Einstein, bahwa Tuhan adalah produk ciptaan manusia yang dibentuk sesuai citranya dan bukan sebaliknya?”

Aku terkekeh, “Kau tidak boleh mengutip kalimat sepotong-sepotong tanpa memahami keseluruhan konteksnya.” Aku berpikir sejenak sebelum melanjutkan, “Memangnya apa yang salah dengan konsep bahwa kita adalah suatu kebetulan kosmik?”

“Entah,” Ia menelengkan kepala ke satu sisi, “Hanya saja, kau tahulah, selama ini manusia selalu menganggap penting tujuan hidup mereka, dan untuk mengadakan tujuan hidup itu, tentu mereka menginginkan adanya suatu tujuan penciptaan. Kebanyakan orang masih agak syok jika diberi tahu bahwa mungkin saja mereka ini sebenarnya ‘tercipta’ tanpa tujuan apa-apa, cukup lahir lalu hidup dan mati saja karena memang begitulah jalannya kehidupan.”

“Kau benar. Kebanyakan orang masih sulit memilah-milah antara eksistensi diri dan tujuan penciptaan. Mereka menyangka bahwa jika tujuan dirinya diciptakan hanyalah sesuatu yang tidak begitu spesial atau bahkan tidak jelas sama sekali, maka nilai dirinya pun otomatis menjadi tidak berarti. Mereka kehilangan harapan dan arti hidup.”

Kami berdua terdiam sejenak. Lalu aku menambahkan, “Padahal, terlepas dari ada tidaknya tujuan khusus penciptaan itu, bukankah kita sendiri yang menentukan arti dan tujuan hidup kita? Jika di tengah jalan kau kehilangan arah, kau tidak boleh berhenti berjalan, bukan? Kau meneruskan langkah dan terus mencari hingga akhirnya kau tiba di suatu tempat yang paling membuatmu merasa nyaman. Sebab demikianlah halnya dengan tujuan hidup manusia. Tidak ada jalan yang benar atau salah, sebab sudut pandang semua orang adalah tidak sama.”

Aku merasakan tatapannya padaku. “Ah, sekarang kau berfilsafat,” guraunya.

“Oh, ya?” Aku menggodanya. “Seakan kau tidak saja.”

Semut-semut hitam yang tadi berbaris menuju sarang kini tercerai-berai, tampaknya mereka menemukan sumber makanan baru yang perlu diangkut ke sarang. Aku menaburkan sedikit remah-remah rotiku di dekat mereka.

“Tahukah kau, sekarang para ilmuwan mengatakan bahwa alam semesta ini terus bertumbuh dan menurut mereka, hal itu terjadi karena manusia berpikir demikian? Katanya, kita menciptakan alam semesta – dan oleh karena itu, diri kita sendiri – dengan berpikir mengenainya.”

Cogito, ergo sum.

“Apakah menurutmu Descartes sudah menyadari hal itu semasa hidupnya, ataukah yang dimaksudkannya hanya sebatas eksistensi kesadaran manusia saja?”

Ia tampak berpikir. “Aku tidak tahu – namun bukankah secara tidak langsung itu juga berarti bahwa kita menciptakan takdir kita sendiri?”

“Jadi kau tidak setuju predeterminisme?” Aku menggodanya lagi.

Ia tertawa. “Tentu tidak. Aku percaya pada kehendak bebas, dan diagram Venn antara predeterminisme dan kehendak bebas tidak akan pernah saling berpotongan. Kau cuma boleh memilih salah satunya saja.”

“Tapi bukankah dalam buku-buku cerita ‘tentukan-sendiri-kisahmu’, meskipun memang kita diberi pilihan ‘jika kau memakan apel, buka halaman sebelas’ atau ‘jika kau mengusir nenek jahat, buka halaman dua belas’, toh lanjutan kisahnya sudah tertulis di halaman-halaman tersebut. Kita hanya menentukan arah, tetapi tidak mengubah jalan cerita.”

“Mungkin saja, tapi demikian pula hidup ini. Banyak orang tidak memercayai kebetulan sebab mereka selalu mengambil hikmah. Masalahnya, halaman berapa pun yang kau buka dan akhir cerita apapun yang kau dapatkan, akan selalu ada pelajaran yang bisa dipetik di sana. Ini bukan masalah ‘jalan yang kupilih tentunya benar sebab aku belajar banyak dengan melaluinya’, melainkan bahwa kita sendirilah yang memilih untuk memetik pelajaran di sana, dan dengan demikian menjadikannya jalan yang tidak sia-sia untuk dilalui. Inilah maksudku dengan kehendak bebas.”

“Ha. Bukankah tadi kau yang menyebut-nyebut mengenai kebetulan kosmik?”

“Benar. Seperti misalnya jerapah-jerapah Lamarck yang berevolusi memanjangkan leher, kemudian beberapa orang mengklaim bahwa tidak mungkin kebetulan semata bahwa evolusi mengarah pada pemanjangan leher untuk beradaptasi, lalu mereka terjebak dalam konsep adanya suatu entitas yang maha mengatur.”

“Tetapi bukankah itu yang dinamakan seleksi alam?”

“Memang, tetapi toh kita tahu bahwa jerapah beradaptasi memanjangkan leher hanya karena spesies dengan ciri demikianlah yang masih tersisa hingga sekarang. Mungkin saja waktu itu mereka mengadakan sekian banyak bentuk adaptasi, ada yang berleher panjang, ada yang menumbuhkan sayap, ada yang mengganti makanan, dan sebagainya; tapi ternyata evolusi pilihan mereka gagal, atau mereka berubah menjadi bukan jerapah. Bagaimanapun, alam semesta ini masih menyimpan banyak misteri.”

Aku mengangguk. “Aku tidak keberatan dengan itu.”

“Aku pun demikian. Mengapa harus takut menjadi tidak bermakna? Semua orang berkata bahwa setiap manusia itu sama pentingnya, namun bukankah secara tidak langsung perkataan itu juga mengimplikasikan bahwa setiap orang sekaligus adalah sama tidak pentingnya?” Ia terkekeh sendiri. “Untunglah hingga saat ini baru manusia yang memiliki ego; aku tidak bisa membayangkan jika makhluk hidup lain mulai mengembangkan kesadaran tingkat tiga pula.”

The significance of being insignificance.” Aku ikut tertawa.

“Kau tidak nyambung.” Ia meledekku.

Aku menjulurkan lidah padanya lalu menghabiskan sisa cokelatku yang kini telah dingin. Kulihat cangkir di hadapannya pun telah kosong tanpa sisa.

“Bagaimanapun, ini adalah percakapan yang menarik,” ujarku.

“Setiap percakapan denganmu adalah menarik.” Ia tersenyum.

Aku merasakan panas mulai merambat di kedua pipiku. “Tapi kau selalu menjadi pihak yang skeptis,” aku membalasnya, pura-pura mengalihkan pembicaraan.

“Kau tidak menyukai orang yang skeptis?”

“Aku menyukai orang-orang yang skeptis.” Aku tersenyum pada cangkir cokelatku yang kini kosong. “Aku kadang-kadang terbang terlalu tinggi, dan orang-orang skeptis selalu membantuku untuk ingat kembali menjejakkan kakiku ke tanah.”

“Apa salahnya dengan terbang terlalu tinggi? Bukankah kita sudah sepakat bahwa kehidupan kita dengan kesadaran kita yang sekarang, hanya berlangsung satu kali? Lagipula kita juga sudah sepakat bahwa tidak ada jalan kehidupan yang benar ataupun salah; yang ada hanyalah jalan yang cocok atau tidak cocok. Burung sama pentingnya dengan cacing, dan keduanya sekaligus sama tidak pentingnya.” Ia tertawa mendengar leluconnya sendiri.

“Aku tidak ingin menjadi Icarus.” jawabku.

Ia tertawa lagi. “Kau tidak perlu menjadi Icarus. Kau cukup menjadi Daedalus saja. Dengan begitu kau akan selamat.”

Aku tersenyum menatapnya. “Tapi kisah hidup Daedalus tidak seromantis kisah hidup Icarus.” Ia tampak agak terperangah, sampai kemudian aku tertawa terpingkal-pingkal melihat reaksinya. “Kau seharusnya melihat ekspresimu barusan.”

“Yah, aku tidak menyangka kau menginginkan kisah hidup seromantis itu, meskipun tragis.”

“Kau tidak boleh menyalahkanku. Bagaimanapun, kisah-kisah romantis selalu lebih disukai daripada kisah hidup yang biasa-biasa saja. Meskipun film-film roman hanya berlangsung sepanjang dua jam dan selalu berakhir di adegan pernikahan atau ciuman sepasang kekasih, tanpa pernah mengisahkan pertengkaran-pertengkaran maupun perpisahan yang terjadi setelahnya, toh tidak ada yang peduli. Kau tahu kenapa? Sebab manusia membutuhkan harapan.”

Aku memandang matahari besar berwarna jingga yang mulai menghilang di balik ujung-ujung pepohonan, kemudian melanjutkan, “Meskipun, toh, akhirnya mereka gagal, namun mereka merasa puas karena sudah mencoba dan membuktikan sendiri. Ini seperti halnya pergi ke peramal sebelum berjudi. Kau diramal bernasib baik, lalu kau pergi mempertaruhkan uangmu. Jika kau menang, kau akan bersorak-sorai dan menganggapnya sebagai kecocokan ramalan. Jika kau kalah, kau akan memaki sang peramal namun takkan menyalahkannya, sebab kaulah yang memutuskan untuk berjudi – lagipula, toh dia cuma peramal; mana ada peramal yang ramalannya selalu tepat?” Aku tersenyum. “Kau lihat, di situlah triknya. Semua orang sebenarnya sudah tahu bahwa selalu ada kemungkinan berhasil dan gagal dalam setiap tindakan. Mereka hanya butuh sedikit dorongan, sedikit semangat dari orang lain yang mengatakan, ‘ayo, kau pasti bisa’ – lalu kepercayaan diri dan harapan mereka pun tumbuh. Inilah kehebatan sekaligus kelemahan manusia.”

Saat aku mengalihkan pandangan dari matahari yang menghilang di balik hijaunya pucuk-pucuk pinus, aku mendapati ia sedang menatapku.

“Apakah kau menyesal karena telah melakukan perjudian itu denganku?” Ia tersenyum, manis sekali.

Otomatis aku juga tersenyum – senyumnya adalah jenis senyuman yang selalu bisa membuat orang balas tersenyum, tidak peduli siapapun dan bagaimanapun situasinya. Lalu aku menggeleng. “Tentu saja tidak,” kataku, “sebab aku memiliki kehendak bebas, dan aku memilih untuk selalu melihat sisi indah dari perjalanan kita berdua.”

Kami berpandangan selama beberapa saat, dan dalam keheningan itu kami saling memahami satu sama lain, sebab kami bukan lagi jatuh cinta pada fisik maupun penampilan, ataupun karakter dan kepribadian – kami telah jatuh cinta pada jiwa dan pikiran satu sama lain, dan butuh waktu yang lebih lama untuk mengikis cinta semacam itu.

Beberapa menit berlalu sebelum matahari akhirnya benar-benar tenggelam di balik pepohonan, menyisakan semburat kemerahan yang mulai digantikan oleh kelabunya malam. Bulan setengah lingkaran ganti menampakkan diri, dan kami berdua membereskan cangkir-cangkir kopi dan cokelat lalu berjalan masuk ke dalam rumah.

Advertisements

2 thoughts on “Prosa (Satu), Kopi, dan Cokelat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s