Ernest Vail :)


(disadur dari “The Last Don” oleh Mario Puzo)

“Film membuat novel jadi tidak relevan. Apa gunanya menulis kalimat indah tentang alam bebas, melukiskan dunia yang panas membara, matahari terbenam yang indah, barisan pegunungan berselimut salju, dan debur ombak samudra yang membuat orang terpesona?”

“Apa yang bisa ditulis pengarang tentang cinta dan kecantikan wanita? Apa gunanya menuliskan semua itu kalau kau bisa melihatnya di layar lebar dalam Technicolor? Oh, wanita-wanita misterius dengan bibir merah penuh, mata mereka yang membius. Apa gunanya menuliskan itu, kalau kau bisa melihat mereka tampil tanpa penutup dada dengan pinggul menggoda? Kelihatannya malah lebih bagus daripada kenyataan sebenarnya, apalagi jika dibandingkan penggambaran di buku. Dan bagaimana pengarang bisa menulis tentang kehebatan para pahlawan yang membantai musuh mereka hingga ratusan, mengatasi rintangan dan berbagai godaan, kalau semua pemandangan itu bisa dimunculkan di depan matamu, wajah-wajah kesakitan dan tersiksa di layar lebar? Para aktor dan kameraman melakukan segalanya tanpa memproses semua itu melalui otak. Sly Stallone sebagai Achilles dalam Iliad. Satu-satunya yang tidak bisa dilakukan oleh film adalah menembus pikiran para tokohnya; film tak bisa meniru proses berpikir, menampilkan kompleksitas kehidupan.”

“Tapi kau tahu apa yang paling parah? Aku seorang elitist. Aku ingin menjadi seniman, sebab aku ingin menjadi orang yang istimewa. Yang kubenci adalah film merupakan seni yang sangat demokratis. Siapa pun bisa membuat film. Kau benar, Claudia, aku pernah melihat film yang membuatku meneteskan air mata, tapi aku juga tahu bahwa orang-orang yang membuatnya adalah orang-orang yang sinting, tidak sensitif, tidak berpendidikan, dan tidak punya moral setitik pun. Penulis skenarionya buta sastra, sutradaranya egois, produsernya penjagal moralitas, dan para aktornya menampilkan kemarahan di film dengan meninju tembok atau kaca. Tapi orang suka menonton film. Kenapa? Sebab film menggunakan seni patung, lukisan, musik, tubuh manusia, dan teknologi untuk membentuk dirinya, sementara senjata seorang novelis hanyalah serangkaian kata-kata yang tercetak di atas kertas putih. Dan sejujurnya, itu tidak terlalu menyedihkan. Itulah yang namanya kemajuan. Seni baru yang hebat. Seni yang demokratis. Tanpa susah payah.”

– Ernest Vail
(Mario Puzo, The Last Don)

 

The book is a film that takes place in the mind of the reader. That’s why we go to movies and say, “Oh, the book is better.”
– Paulo Coelho, answering the question: “Why don’t you allow The Alchemist to become a movie?”)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s