Repetisi Interuptus


I

Aku meraih dan menggenggam tangan kanannya dengan tangan kiriku, mencoba menyerap kekuatan dari sana. Tolong, kuatkan aku.

Mungkin inilah sebabnya manusia dikaruniai jasad fisik; setiap orang memang bisa merasakan luapan cinta dengan memandang mata kekasihnya, tetapi apakah yang lebih menguatkan daripada rangkulan, apakah yang lebih menenangkan daripada belaian, dan apakah yang lebih menggairahkan daripada belitan-belitan sembunyi-sembunyi dari sepasang anak manusia yang selalu dilakukan secara mencuri-curi, hanya karena masyarakat menistakan demikian?

Kau bisa mencintai dengan pandangan. Kau bisa mencintai dengan kata-kata. Namun kau takkan pernah bisa merealisasikan cinta tanpa perwujudan fisik. Tolong, kuatkan aku.


II

Dia adalah masa lalu. Dia adalah kenangan. Dia adalah orang yang pernah menjadi pusat tata surya dalam duniaku, sebelum aku menyadari bahwa ternyata alam semesta ini terdiri dari lebih dari satu tata surya. Aku berpindah dari satu dunia ke dunia lain; aku berpindah dari satu tata surya ke tata surya lain. Dan selama itu pula aku memetik buah dari setiap konstelasi-konstelasi yang pernah kusinggahi, mencoba menemukan kepingan-kepingan berharga yang layak untuk disimpan dalam memori otakku yang terbatas seperti halnya harta karun yang menjadi berharga karena keberadaannya yang langka.

Dia adalah masa lalu. Dia adalah kenangan. Kupikir apa yang hadir di masa lalu selalu pasti menjadi masa depan, tetapi ternyata mereka berkata bahwa waktu hanyalah ilusi, dan masa depan tidaklah linear. Oleh karena itulah, sekarang aku akan menempatkan dia hanya di dalam album-album foto dan catatan diariku. Kelak aku akan memandang gambar-gambar buram itu dan bernostalgia, atau mungkin aku akan membaca ulang tulisan-tulisan tanganku yang penuh dengan lunturan tinta pulpen sebab aku menulisnya sambil menangis. Tetapi pada saat itu, siapa yang akan peduli? Sebab dia adalah masa lalu dan kenangan. Dia hanyalah masa lalu. Dan dia hanyalah kenangan.


III

Tahukah kau mengapa para martir dan pahlawan yang gugur dalam peperangan senantiasa lebih dipuja-puji dibandingkan mereka yang ditinggalkan dan tak ikut berperang? Padahal mereka yang ditinggalkan sama menyakitkannya dengan mereka yang pergi berperang. Mereka yang ditinggalkan harus menanti dalam ketidaktahuan dan ketidakpastian yang bergulir hari demi hari, jam demi jam, menit demi menit, detik demi detik. Mereka menanti takdir mereka dalam kepasifan, sambil merutuki nasib dan bertanya-tanya mengapa mereka hanya membunuh waktu dan bukannya mengalahkan musuh.

Tahukah kau mengapa para martir dan pahlawan yang gugur dalam peperangan senantiasa lebih dipuja-puji dibandingkan mereka yang ditinggalkan dan tak ikut berperang? Sebab para martir dan pahlawan menggoreskan cerita mereka dengan darah, sedangkan para jelata menulis kisah mereka hanya dengan keringat dan air mata. Darah yang merah dan terang ketika basah, dan darah yang merah dan cokelat ketika kering. Sedangkan keringat dan air mata akan menguap dan hanya menyisakan garam-garam fisiologis berwarna putih yang tak kasat mata ketika terkikis oleh waktu, dan perlahan mereka pun akan terlupakan dari sejarah. Darah akan abadi, sedangkan keringat dan airmata hanya menyisakan peluh dan tangis.


IV

Dan kita berhenti pada koma, menghirup napas dan sejenak menikmati kekosongan yang ada di sana. Koma adalah perhentian sementara, sebelum kita mengakhiri kalimat dalam titik.

Tetapi siapakah yang mengatakan bahwa hidup berakhir pada titik? Mengapa manusia membatasi keberadaannya hanya dengan sebuah kalimat?

Aku menolak menerima hal itu. Aku akan berhenti pada koma, kemudian berhenti pada titik, tapi aku juga akan memulai satu kalimat lain dan mengawalinya dengan huruf kapital, seperti halnya kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sebab cerita-cerita anak manusia tidaklah dimulai dengan “pada suatu hari” dan diakhiri dengan “tamat”, sebab kisah manusia tidak mengenal yang dinamakan dengan “dan mereka pun hidup berbahagia selama-lamanya”, sehingga manusia takkan mau menutup kalimat-kalimat pada titik. Akan selalu ada kisah baru untuk diguratkan pada lembaran-lembaran papirus yang kini berubah menjadi kertas, dan – siapa tahu – kelak hanya akan tersimpan dalam mikrochip-mikrochip seukuran mini yang dapat diselipkan ke dalam otak.

Dan para manusia-manusia pemimpi, yang ingin menyelamatkan manusia dari hilangnya asa, kemudian memotong-motong dan memilah-milah cerita-cerita itu pada titik yang tepat, kemudian menuangkannya pada lembaran-lembaran komersil dan menambahkan kata “tamat” setelah tanda titik terakhir.


V

Sukakah kau dengan duniaku? Kita telah berpetualang dari satu dunia ke dunia lain, dari satu pikiran ke pikiran lain – namun sukakah kau dengan duniaku? Sebab kita memiliki bahasa yang berbeda, karena manusia menantang Tuhan dan mendirikan Babel. Aku ingin menggugat Tuhan; bukan aku yang membangun Babel – aku bahkan tidak pernah berkeinginan untuk menggantikan posisi Tuhan di tempatnya yang tertinggi. Tidakkah Tuhan tahu bahwa kursus mempelajari bahasa asing itu biayanya mahal?

Sukakah kau dengan duniaku? Bisakah kau memahami alur pemikiranku yang melompat-lompat, dapatkah kau mengerti keinginanku untuk merasa sekaligus tidak merasa? Tahukah kau bahwa terkadang aku pun benci dengan duniaku sendiri, dan betapa aku berharap bahwa duniaku dan duniamu, dunia kita dan dunia mereka, adalah satu dunia yang tak terpisahkan oleh dimensi moral dan pikiran? Betapa indahnya jika kita semua adalah satu, sebab dalam homogenitas, takkan ada yang dicerca hanya karena ia berbeda.

Jadi, sukakah kau dengan duniaku?


VI

Sayang, hapuslah air matamu. Tetapi aku tidak menangis, katamu. Kau menangis. Tidak. Kau menangis. Oke baiklah, aku menangis; lalu kenapa?

Tahukah kau mengapa aku menangis? Tahukah kau mengapa kau menangis? Mengapa kita perlu alasan untuk menangis? Apakah menangis memerlukan alasan? Sebab jika demikian, maka cinta dan benci dan tertawa pun memerlukan alasan.

Tentu kau perlu alasan. Begitulah mereka membuat peraturan di sini. Jika kau tidak memiliki alasan untuk suatu perbuatan yang kau lakukan, mereka akan menganggapmu gila dan mengurungmu di dalam rumah sakit putih yang dinding-dindingnya bertelinga.

Lalu mengapa kita berbeda? Orang-orang tak pernah mempertanyakan mengapa anjing menggonggong dan mengapa burung berkicau. Sebab mereka hewan, Sayang. Lantas mengapa menjadi hewan jauh lebih bebas daripada menjadi manusia? Sebab hewan tidak memiliki ego yang perlu dipertahankan.

Kau salah. Oh ya? Menjadi manusia justru lebih bebas dibandingkan menjadi hewan. Menjadi manusia, kau bebas membenci. Kau bebas mencintai. Kau bebas tertawa. Dan kau bebas menangis. Kau bebas melakukan apapun yang kau inginkan, asalkan kau selalu menyediakan alasan yang tepat untuk setiap perbuatan yang kau lakukan. Kau bebas merasa, dan kau juga bebas untuk berbohong dan menipu. Dan begitu pula halnya dengan semua manusia lain di sekitarmu.

Kau takut? Takut? Menjadi manusia. Menjadi manusia. Menjadi manusia.


VII

Sayang, aku lelah. Aku lelah oleh kata-kata yang tak terucapkan, aku lelah oleh perasaan-perasaan yang tak tersampaikan. Aku lelah untuk menerima ketika aku ingin diterima. Aku lelah untuk menghibur ketika aku ingin dihibur. Aku lelah untuk mendengarkan ketika aku ingin didengarkan. Aku lelah untuk peduli ketika aku ingin mengabaikan. Aku lelah untuk tidak mengacuhkan ketika aku ingin merasa. Aku lelah menjadi diriku.

Mengapa orang-orang gemar mengulang-ulang cerita sedihnya di hadapan orang lain? Awalnya kupikir mereka hanya ingin meluapkan perasaan, membuang sisa-sisa kemarahan dan kebencian yang membebani mereka, sebab aku pendengar yang baik. Aku selalu menjadi pendengar yang baik. Aku telah terbiasa untuk mendengarkan dalam diam, karena ada saat-saat di mana berbicara hanya akan menyakitkan sanubari. Aku telah terbiasa untuk menyerap kesedihan-kesedihan orang-orang yang bercerita padaku, mengangguk setiap beberapa kalimat dan menggeleng pada kalimat yang lain. Aku telah terbiasa mendengarkan sumpah serapah yang ditujukan bukan untuk diriku sendiri, namun toh apalah bedanya, jika orang-orang yang saling memaki adalah orang-orang yang kusayangi. Aku telah terbiasa menyimak dalam keheningan, dan bersikap seakan-akan aku adalah sang manusia tangguh yang mampu meringankan beban setiap orang yang datang membawa kisah.

Kemudian mereka akan pergi dengan hati yang lega dan ringan, sebab mereka telah membuang rasa-rasa marah dan benci mereka padaku, seperti halnya para umat yang taat menghadap Pastor pada hari Minggu untuk memperoleh absolusi rutin. Dan tinggallah aku dengan pengetahuan terlarang mengenai sumpah serapah dan caci maki dan kebencian yang harus kutanggung sendiri, padahal bukan aku yang membenci dan bukan aku yang dibenci.

Sayang,  aku lelah. Apakah lebih baik tahu namun kecewa dan sakit hati, ataukah tidak tahu dan bahagia namun dibohongi? Apakah aku akan bahagia jika aku tak pernah mendengar mengenai kebencian dan amarah, padahal hal itu adalah realita yang menghancurkan orang-orang di sekitarku? Apakah aku akan bahagia jika aku tak pernah mendengar mengenai kebencian dan amarah, padahal mereka menanggungnya sendiri tanpa ada seorang pun untuk tempat menyandarkan kepala dan menumpahkan air mata? Apakah aku akan bahagia jika aku menyangka bahwa mereka bahagia, padahal sebenarnya mereka memendam amarah dan kebencian terhadap satu sama lain?

Tahukah kau, ternyata ada orang-orang yang memang gemar menyimpan amarah dan kebencian. Mereka akan datang padaku, berlomba-lomba mengisahkan kemalangan dan penderitaan seakan aku sedang mengadakan sebuah sayembara nasib buruk. Mereka akan mengulang-ulang cerita tersebut dan menambahkan satu-dua detail baru di setiap alinea. Dalam kisah-kisah kemalangan tersebut, mereka akan menempatkan diri entah sebagai martir ataupun sebagai pahlawan. Sebab martir dan pahlawan mengorbankan darah, dan oleh karenanya patut mendapat kehormatan tertinggi dalam setiap kisah. Mereka akan bangga sebab berani berkorban dan telah berkorban, seolah-olah hidup berbahagia, aman, damai, dan tenteram adalah sebuah dosa.

Apakah mereka sebenarnya pun ingin bahagia, aman, damai, dan tenteram – namun mereka tidak mampu? Sebab kebahagiaan dan keamanan dan kedamaian serta ketenteraman tidak mampu menenangkan jiwa mereka yang haus akan simpati dan empati dari orang lain. Aku tidak mengerti, Sayang. Namun mereka tetap datang. Dan aku tetap mendengarkan.

Padahal ada kata-kata yang sebaiknya tetap tidak terucapkan. Dan ada perasaan-perasaan yang sebaiknya tetap tidak tersampaikan.

Sayang, aku lelah. Bolehkah untuk kali ini saja, akulah yang mengisahkan, dan mereka yang mendengarkan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s