( ¯ ͜ ¯ )*


(*baca: Cina)

Meskipun banyak orang yang kurang nyaman mendengarkan atau mengucapkan kata “Cina”, namun secara pribadi saya lebih sreg menggunakan kata “Cina” dibandingkan “Tiongkok” ataupun “Tionghoa”. Mengapa? Sebab kata “Cina” lebih hemat huruf dan lebih mudah diucapkan.

Ada banyak kisah-kisah pribadi sehubungan kata Cina ini. Beberapa tahun yang lalu misalnya, saya sedang berjalan kaki bersama tante saya di sebuah trotoar ketika seorang anak laki-laki usia SD-SMP yang juga sedang berjalan kaki berpapasan dengan kami dan tiba-tiba saja berteriak, “Cina!” dengan nada mengejek. Karena sudah biasa, ya saya anggap angin lalu saja. Tetapi tante saya mendatangi anak tersebut dan bertanya dengan kalem, “Memangnya kenapa kalau Cina?” Waktu itu saya terperangah juga. Akhirnya si anak cuma diam dan ujung-ujungnya tante saya menasihati, “Lain kali jangan begitu ya. Tidak sopan.” Hahaha. Ketika saya berkomentar mengenai hal tersebut, seingat saya tante saya hanya mengatakan, “Mumpung dia masih kecil, harus dikasih tahu baik-baik supaya besar nanti tidak jadi rasis.”

Yang agak membuat saya syok adalah kejadian beberapa waktu lalu saat sedang mendengarkan kuliah dari salah satu dosen. Saat itu dosen saya sedang menceritakan pengalamannya menangani pasien. Beliau bercerita bahwa ada salah seorang pasiennya yang kebetulan orang Cina, ketika membayar ternyata menggunakan kartu BPJS. Di situ beliau mengungkapkan keheranannya sebab selama ini stigma yang beredar adalah bahwa semua orang Cina itu kaya, dan oleh karenanya jarang dijumpai pasien orang Cina yang membayar bukan dengan uang pribadi. (Meskipun menurut saya BPJS tidak ada hubungannya dengan status ekonomi, sebab katanya di kemudian hari semua penduduk Indonesia akan [berhak] terdaftar pada layanan BPJS ini.) Yang membuat saya tersenyum adalah beliau berkata, “Selama ini kita selalu menganggap orang Cina itu kaya, tapi ternyata ada juga ya, orang Cina yang tidak kaya.” Soalnya, beliau itu sudah Ph.D dan lulusan luar negeri, jadinya saya tidak menyangka bahwa beliau masih menganggap serius stereotipe-stereotipe lokal.

Selanjutnya saya menceritakan pengalaman saya dan dosen saya itu kepada mama saya, dan kami mendiskusikan mengapa bisa sampai timbul anggapan bahwa semua orang Cina (di Indonesia) adalah pasti kaya. Salah satunya mungkin ya karena memang proporsi atau persentase penduduk Indonesia yang keturunan Cina lebih sedikit dibandingkan pribumi, sehingga tentu saja masuk akal kalau proporsi kelas menengah ke bawahnya juga lebih sedikit. Itu pendapat saya. Tetapi mama saya menambahkan, “Mungkin karena jarang ada orang Cina yang jadi peminta-minta di pinggir jalan, sehingga tidak terlalu kentara.” Iya juga sih. Bukannya tidak ada sama sekali, tapi memang jarang. Mama saya berkata, kalau ada orang Cina yang miskin, mereka tidak menggembar-gemborkan kemiskinannya, dan tetap bekerja sebagai apapun yang bisa mereka kerjakan. Katanya, kalau ada orang yang berkata tentang “orang Cina selalu kaya” ke mama saya, dia menjawab dengan “Ah, tidak semua kok. Buktinya masih ada keluarga jauh saya yang bekerja sebagai tukang cuci dan anaknya sebagai tukang becak.” Katanya, biasanya teman-teman mama saya akan heran dan kaget setelah diberi tahu demikian. Dan itu memang benar. Hanya saja, kadang-kadang manusia enggan mencari tahu mengenai hal lain selain yang sudah disodorkan di depan hidungnya secara turun temurun.

Berbagai stereotipe telah dilekatkan pada kata “Cina”, baik stereotipe bernada positif maupun negatif. Ada stigma positif yang melekat pada orang Cina, seperti pekerja keras, rajin, dan sebagainya, dan ada pula stigma negatif yang melekat pada orang Cina, terutama sifat perhitungan alias pelit. Bahkan saya dan teman-teman saya pun tidak jarang saling mengejek dengan sebutan “Cina” untuk menggoda teman yang pelit. Padahal kami sama-sama Cina. 🙂 Seringkali saya merasa geli jika seseorang meminta maaf atau permisi sebelum mengucapkan kata Cina, misalnya, “Maaf, bukannya bermaksud rasis tapi blablabla dan seterusnya.” Jujur saja, saya sendiri tidak pernah merasa tersinggung ataupun risih jika disebut Cina. Soalnya, mengapa harus tersinggung sehubungan dengan identitas etnis kita? Toh, saya memang Cina sejak lahir, seperti halnya saya berjenis kelamin perempuan secara genetik, dan tidak ada yang dapat mengubah hal tersebut.

Dibandingkan dengan rasa tersinggung atau risih atau malu, saya lebih cenderung merasa waswas jika diteriaki “Cina!” Ada masanya ketika diteriaki Cina itu sesuatu yang menakutkan. There were times when people did bad things to you, just because you’re (Indonesian) Chinese. Zaman-zaman itu adalah ketika saya masih duduk di bangku SD hingga SMP, dan pada saat-saat tertentu masih ada perlakuan diskriminatif yang saya alami bahkan sampai saat kuliah. Kadang-kadang, hingga sekarang, ada rasa mencekam yang timbul jika mendengar kata “Cina” yang ditujukan pada saya, mungkin akibat sisa-sisa kerusuhan tahun 1997 di Makassar (kerusuhan antar-etnis di Makassar terjadi setahun sebelum kerusuhan besar Mei 1998 di Jakarta dan lain-lain).

Ada kalanya saya bangga menjadi orang Cina, ada pula saatnya ketika saya merasa malu sebagai orang Cina, seperti halnya ada kalanya saya bangga menjadi orang Indonesia dan ada kalanya saya merasa malu sebagai orang Indonesia. Saya rasa hal tersebut wajar-wajar saja, sebab jika saya hanya merasa bangga tanpa pernah menerima sisi-sisi negatifnya, berarti saya fanatik dan jika saya terus-terusan malu tanpa pernah mengakui sisi-sisi positifnya, maka kasihan sekali saya telah terlahir dengan genetik yang saya sesali. Terlepas dari semua itu, ras maupun etnis adalah sesuatu yang sifatnya bawaan lahir, sedangkan stigma-stigma yang melekat padanya adalah hasil dari proses bermasyarakat, dan saya yakin orang yang bijak pasti memahami perbedaan antara kedua hal tersebut.

Tulisan ini tidak bermaksud rasis ataupun fanatik etnis, hanya saja saya merasa kita semua sudah cukup dewasa untuk dapat mengerti bahwa stigma maupun stereotipe yang melekat pada suatu kelompok tidaklah mencerminkan keseluruhan anggota kelompok tersebut. Kita sudah cukup maju untuk memahami bahwa majas pars pro toto maupun totem pro parte belum tentu cocok diterapkan dalam semua kondisi. Sudah tidak zaman pula untuk merasa tersinggung atau terhina jika disebut Cina (kecuali kalau dilontarkan dengan nada mengintimidasi – itupun kita sepatutnya menjadi siaga/waspada, dan bukannya tersinggung/terhina), dan tentunya sudah tidak zaman pula untuk mengejek atau mengintimidasi atau mendiskriminasi seseorang secara kekanak-kanakan hanya karena ia Cina. Mengapa? Karena orang keren tidak perlu bersembunyi di belakang SARA ataupun menyerang SARA orang lain untuk menunjukkan kualitas dirinya. 🙂

Topik terkait: Laporan Minoritas Stupid Standardization by Society

Advertisements

2 thoughts on “( ¯ ͜ ¯ )*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s