Polemik Aborsi


Pernyataan: artikel ini hanya merupakan opini dan tidak dianjurkan untuk dijadikan sebagai bahan rujukan ilmiah karena bersifat subjektif dan mengandung bias.

Latar belakang ditulisnya artikel ini ialah karena penulis melihat banyaknya kasus aborsi ilegal yang terdeteksi saat ini. Hal tersebut tentunya memberikan imbas tidak langsung pada kedokteran forensik (baca: saya). Miris rasanya menyaksikan tingginya tingkat aborsi, sementara masih ada beberapa orang yang setengah mati berupaya mendapatkan anak.

Dalam istilah medis, aborsi ialah penghentian kehamilan (pengeluaran hasil konsepsi) saat usia kehamilan belum mencapai usia 20 minggu atau berat badan janin di bawah 500 gram (janin belum dapat hidup di luar kandungan tanpa bantuan). Aborsi dalam dunia medis terbagi menjadi dua, yakni abortus spontan (aborsi yang terjadi dengan sendirinya, atau biasa disebut keguguran) dan abortus provocatus (aborsi yang disengaja). Adapun pengeluaran hasil konsepsi saat usia kehamilan sudah melebihi 20 minggu atau berat badan janin lebih dari 500 gram digolongkan sebagai kematian janin dalam rahim (KJDR). Abortus provocatus terbagi lagi menjadi abortus provocatus medicinalis (abortus therapeutic), yakni tindakan pengguguran kandungan oleh karena adanya indikasi medis, baik indikasi dari ibu maupun dari anak, dan abortus provocatus criminalis, atau tindakan pengguguran kandungan yang dilakukan dengan sengaja dan tanpa disertai indikasi medis. Beberapa referensi juga menyertakan kategori eugenic abortion dan elective abortion. Abortus provocatus medicinalis ini dilindungi oleh undang-undang.

Sedangkan menurut hukum, aborsi adalah segala tindakan yang dilakukan dengan sengaja yang berakibat pada keluarnya janin hasil konsepsi sebelum janin tersebut mencapai usia kehamilan yang lengkap, tanpa memandang usia kehamilan saat itu maupun berat badan janin dan tanpa adanya indikasi medis. Dalam undang-undang, ada dua jenis aborsi yang diperbolehkan, yakni aborsi yang dilakukan atas indikasi medis (abortus provocatus medicinalis) dan aborsi yang dilakukan pada janin yang dikandung oleh wanita sebagai akibat dari suatu tindak perkosaan; itupun dengan syarat usia kehamilan di bawah 40 hari dihitung dari hari pertama haid terakhir (HPHT) (Peraturan Pemerintah RI No. 61 Tahun 2014).

Artikel ini akan membahas pandangan pribadi saya terutama pada kasus-kasus aborsi sebagaimana definisi menurut undang-undang, sebab definisi tersebut lebih umum digunakan dalam masyarakat, dan kasus-kasus seperti itulah yang menimbulkan pro dan kontra dari segi hukum, etik, maupun moral.

Permasalahan utama kasus aborsi ialah adanya kehamilan yang tidak diinginkan, baik hal itu terjadi di dalam ikatan pernikahan maupun tidak. Ada beberapa alasan orang-orang melakukan aborsi, antara lain untuk menutupi kehamilan di luar nikah, belum menginginkan (tambahan) anak, ataupun pada kondisi sosial ekonomi yang tidak mendukung.

Terlepas dari alasan orang melakukan aborsi, saya cukup prihatin melihat betapa mudahnya masyarakat memperoleh akses ke praktik-praktik aborsi ilegal. Setelah dulunya orang kebanyakan mencari pertolongan ke dukun aborsi ataupun klinik aborsi, sekarang ini gampang-gampang saja membeli obat aborsi secara online. Saya sempat mengunjungi beberapa situs online maupun akun media sosial yang secara terang-terangan memperdagangkan obat aborsi secara bebas, dan cukup terkejut sebab situs-situs itu bahkan menyediakan petunjuk penggunaan, komplikasi yang mungkin terjadi, kolom “pengalaman pengguna (yang sukses)”, serta “kesempatan menjadi reseller”. Ada juga situs yang menulis “pastikan Anda berada dalam jangkauan fasilitas penyedia layanan kesehatan saat mengonsumsi obat-obat aborsi”. Waktu itu saya berpikir, enak saja mereka mengiklankan, menjual, dan menyarankan orang menggunakan obat-obat aborsi, tapi ujung-ujungnya kalau ada komplikasi, toh “dibuang” ke tenaga medis juga.

Salah satu komplikasi aborsi yang tersering adalah perdarahan, dan tidak sedikit wanita yang meninggal karena perdarahan pasca aborsi. Saat terjadi hal-hal seperti ini, kadang saya menyayangkan keputusan mereka yang memilih untuk melakukan aborsi tanpa bantuan medis.

Bukankah lebih aman jika mereka yang memutuskan untuk melakukan aborsi, sebaiknya didampingi oleh tenaga medis untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya komplikasi?

Iya, tapi aborsi tanpa indikasi medis itu ilegal dan bertentangan dengan sumpah profesi kedokteran.

Lantas apakah jika aborsi itu ilegal dan sangat sulit untuk mencari tenaga medis yang bersedia melakukan tindakan aborsi secara aman pada klien yang membutuhkan, maka klien-klien tersebut akan mengurungkan niat melakukan aborsi?

Mungkin ya, tapi mungkin juga tidak. Toh, masih banyak tersedia dukun-dukun aborsi dan obat-obatan aborsi yang dijual secara online. Mereka yang memang berniat melakukan aborsi pasti akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, dan jika demikian, mengapa tidak menyediakan fasilitas yang aman untuk mereka?

Tetapi jika melegalkan aborsi meskipun bukan karena alasan medis ataupun perkosaan, bagaimana dengan dampaknya?

Ada beberapa kemungkinan.

Pertama, mungkin tingkat kematian akibat ibu akibat komplikasi aborsi akan menurun, tetapi ini belum berbasis bukti ilmiah.

Kedua, mungkinkah gaya hidup seks bebas akan semakin merajalela karena sudah ada jalan keluar yang aman dan nyaman jika terjadi “kecelakaan”? Mungkin ya, mungkin tidak. Mengklaim salah satu dari jawaban tersebut adalah cacat logika, sebab belum ada bukti ilmiah yang menyatakan hubungan langsung antara keduanya.

Ketiga – ini  pun cacat logika – bukan tidak mungkin bahwa legalisasi tindak aborsi tanpa indikasi medis atau perkosaan akan menginspirasi tenaga-tenaga medis untuk membuka mata pencaharian tambahan dengan memanfaatkan kesempatan ini. Tetapi apakah hal ini baik atau buruk?

Sekali lagi, Anda bebas untuk menjawab.

Masalah aborsi ini merupakan masalah yang pelik sebab berkaitan dengan moral dan etika. Hukum hanya menyediakan sistem “(reward and) punishment”, memberikan batasan-batasan dan rambu-rambu untuk menjaga agar praktik aborsi tidak berlangsung liar dan memberikan efek jera pada pelaku aborsi ilegal, tanpa memandang proses-proses dan alasan-alasan di balik tindakan itu sendiri. Sisanya adalah bagian moral dan etika, baik dan buruk, benar dan salah.

Saya sendiri merasa batasan undang-undang mengenai tindak aborsi ini masih agak rancu. Pertama, mengenai aborsi dengan alasan perkosaan. Perkosaan sendiri didefinisikan sebagai tindakan kriminal di mana seorang manusia memaksa manusia lain untuk melakukan hubungan seksual dengan paksaan atau di bawah ancaman. Di Indonesia definisi ini dibatasi sebagai “penetrasi penis ke dalam vagina”, sedangkan di beberapa negara sudah memasukkan tindak sodomi maupun penetrasi dengan benda lain sebagai bentuk perkosaan. Adapun pembuktian terjadi atau tidaknya perkosaan, hingga saat ini masih sulit. Dari segi investigasi medis, dokter yang melakukan visum et repertum hanya menentukan dua hal: (1) ada/tidaknya persetubuhan dan apakah persetubuhan itu masih baru, dan (2) ada/tidaknya tindak kekerasan yang menyertai persetubuhan itu. Sama sekali tidak ada disinggung mengenai apakan persetubuhan itu dilakukan dengan atau tanpa paksaan, yang justru merupakan inti dari definisi perkosaan itu sendiri (mengingat banyaknya variasi tindak seksual pada zaman sekarang ini). Keputusan apakah itu merupakan perkosaan atau persetubuhan konsensual tetap berada di tangan penyidik, dengan menggabungkan antara hasil temuan medis, kesaksian pelaku, tersangka, atau saksi, serta hasil olah TKP.

Tanpa mengurangi simpati pada para korban perkosaan, berdasarkan pengalaman saya sudah mendapati banyak persetubuhan konsensual yang dilaporkan sebagai kasus perkosaan, namun tidak akan saya bahas di sini karena tidak relevan. Singkatnya, saya mengharapkan akan ada penelitian-penelitian selanjutnya yang menghasilkan metode-metode pemeriksaan korban perkosaan dengan hasil yang lebih akurat dan terpercaya.

Kedua, batasan usia kehamilan yang diperbolehkan untuk melakukan aborsi yakni 40 hari dihitung dari HPHT. Dengan “syarat” adanya indikasi medis atau korban perkosaan, saya merasa batasan 40 hari ini kurang sesuai. Pada kasus-kasus aborsi dengan indikasi medis, masih kurang gejala yang tampak pada usia kehamilan sedini itu, baik gejala penyakit pada ibu maupun cacat pada janin. Boro-boro mendeteksi kelainan kehamilan, pada usia kehamilan 40 hari pun belum tentu si ibu menyadari bahwa dirinya sedang hamil. Demikian pula pada kasus-kasus perkosaan. Jika kasus perkosaan tersebut segera dilaporkan ke polisi dan dilakukan visum, sudah menjadi prosedur standar untuk melakukan tes kehamilan sehingga kehamilan bisa terdeteksi. Namun pada kasus-kasus di mana perkosaan tersebut tidak atau lambat dilaporkan ke pihak penyidik, maka kehamilan di batasan 40 hari itu akan sulit dideteksi, belum lagi mempertimbangkan dampak psikologis dan kejiwaan pada korban perkosaan.

Masalah aborsi ini berada di wilayah abu-abu, dan tidak semudah itu menghakimi apakah aborsi itu baik atau buruk, benar atau salah. Saya menulis artikel ini hanya menggunakan sudut pandang medis dan sudut pandang masyarakat umum, dan justru mengabaikan hal yang terpenting, yakni sudut pandang pelaku dan korban aborsi. Kita tidak perlu pura-pura tidak tahu bahwa seberat apapun sanksi hukum yang dikenakan bagi pelaku aborsi, sanksi sosialnya selalu jauh lebih berat – dan menurut saya, hal inilah yang merupakan penyebab utama orang melakukan aborsi.

Para wanita yang ketahuan pernah mengupayakan aborsi, baik berhasil maupun tidak berhasil, selalu dikucilkan dan dianggap sebagai aib/paria dalam masyarakat, bahkan tidak jarang dalam keluarganya sendiri. Perlu diingat pula bahwa jika aborsi tidak berhasil dan janin yang dikandung berhasil dilahirkan hidup dan selamat, bukankah masyarakat juga memberikan hukuman sosial pada anak tersebut? Julukan-julukan serta sindiran-sindiran negatif hampir pasti akan melekat pada diri si anak, belum lagi kalau upaya aborsinya menyisakan cacat fisik ataupun mental yang harus ditanggungnya seumur hidup. Kita tidak pantas berbicara etika dan moral dan menghakimi pelaku maupun korban aborsi, jika pandangan kita sendiri mengenai aborsi masih berupa hitam dan putih.

Negara-negara yang melegalkan aborsi (elective abortion) pada umumnya mendasarkan bahwa setiap wanita berhak untuk memilih apakah ia menginginkan kehamilannya atau tidak, terlepas dari latar belakang terjadinya kehamilan itu sendiri. Pun ada yang melegalkan aborsi sebagai salah satu upaya pengendalian populasi. Parameter-parameter tersebut kurang cocok dijadikan indikator untuk menilai moral, sebab sama seperti hukum, moral dan etika pun ditentukan oleh budaya dan pola pikir setempat. Demikian pula saya merasa bahwa permasalahan aborsi ini perlu dipandang lebih luas daripada sekadar sudut pandang agama, sebab agama sifatnya lebih ke personal atau pribadi masing-masing. Kita tidak bisa menggunakan standar moral maupun standar agama yang kita miliki untuk menilai perilaku moral maupun agama orang lain. Pertentangan mengenai hak asasi manusia seringkali digunakan untuk memperdebatkan pro dan kontra mengenai aborsi, sebab dalam setiap tindak aborsi, tentunya ada hak asasi sang ibu dan ada pula hak asasi si anak, dan dalam banyak kasus aborsi, keduanya saling bertentangan satu sama lain.

Secara pribadi, saya tidak menyetujui tindakan aborsi, namun hingga saat ini saya mengakui bahwa saya belum menemukan jalan keluar yang aplikatif untuk masalah ini. Saya selalu berpendapat bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati, namun bagi saya, upaya pencegahan tersebut bukanlah semata-mata melalui pendalaman agama atau pembuatan UU anti pornografi (saya sempat kepikiran, mengapa yang diblokir itu situs-situs macam Vimeo atau situs baca komik online dan bukannya situs-situs penyedia jasa/obat aborsi ilegal) atau membatasi pengetahuan remaja mengenai seks. Saya lebih mendukung pendekatan personal (misalnya komunikasi yang baik antara orangtua dan anak untuk menanamkan nilai-nilai budi pekerti yang baik), pemberian pendidikan seks DAN pengetahuan mengenai alat kontrasepsi sedini mungkin pada remaja, serta perubahan paradigma masyarakat (berkenaan dengan sanksi moral).

Pemahaman mengenai kesehatan reproduksi tidak boleh lagi dianggap sebagai hal yang tabu, demikian pula dengan pengupayaan penyediaan alat kontrasepsi yang aman. Saya tidak menentang ataupun mendukung perilaku seks bebas – itu adalah pilihan pribadi setiap orang, dan jika mereka memilih untuk mempraktikkannya, setidaknya mereka melakukannya dengan cara yang aman. Para pelaku seks bebas harus memahami risiko dan konsekuensi dari pilihan itu, misalnya kehamilan di luar nikah, infeksi menular seksual, dan lain-lain. Yang ironis adalah kebanyakan wanita yang mengalami “kecelakaan” justru adalah mereka yang memiliki pengetahuan seks yang minim. Mencegah perilaku seks bebas bukanlah dengan cara menghakimi moral, namun dengan menanamkan pendidikan budi pekerti pada anak-anak sejak dini, yang merupakan tugas dari orangtua maupun wali.

Jika kita memilih untuk tidak menyetujui tindak aborsi, maka kita perlu menemukan alternatif penanggulangan untuk anak hasil dari kehamilan yang tidak diinginkan. Sejauh ini aktivis-aktivis anti aborsi hanya bisa berkoar-koar mengatasnamakan agama, moral, dan hak asasi, namun toh bukan mereka yang harus hidup dengan konsekuensinya. Bukan mereka yang harus hidup dengan implikasi sosial maupun ekonomi akibat dari pelarangan aborsi.

Baik pihak pro maupun kontra aborsi tentunya memiliki alasan masing-masing, sebab bagaimanapun juga alasan memang selalu gampang dicari. Di luar dari itu, saya rasa lebih penting untuk menemukan solusi bersama untuk masalah ini, yang sifatnya aplikatif dan tidak merugikan pihak manapun. Sangat penting untuk memandang topik ini secara lebih luas dan mendalam, sebab masalah aborsi adalah hal yang penyebabnya kompleks dan implikasinya luas serta panjang (ke masa depan), baik bagi individu itu sendiri maupun bagi masyarakat.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memojokkan salah satu pihak. Saran dan masukan sangat diharapkan. Terima kasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s