Hari Toleransi Internasional


B2iw7CvCMAA0UCz

“On this International Day of Tolerance, I call on all people and governments to actively combat fear, hatred and extremism with dialogue, understanding and mutual respect. Let us advance against the forces of division and unite for our shared future.”

Secretary-General of United Nations, Ban Ki-moon [link]


Dalam rangka Hari Toleransi Internasional (International Day for Tolerance) yang dirayakan setiap tanggal 16 November, saya ingin menuliskan sebuah postingan terkait.

Jika biasanya kata “toleransi” lebih identik dengan urusan agama, maka saya ingin sedikit memperluas makna toleransi itu. Sebelum-sebelumnya yang sering dikumandangkan ialah “toleransi antar umat beragama”, yakni toleransi terhadap umat beragama lain yang tidak memeluk kepercayaan yang sama dengan yang kita anut.

Menurut saya, toleransi beragama seyogyanya ikut mencakup dua hal lain, yaitu “toleransi umat beragama terhadap orang tidak beragama” serta “toleransi orang tidak beragama terhadap umat beragama”. Toh bukankah jika setiap orang menganggap bahwa agamanyalah yang paling benar, ataupun hanya agamanyalah yang satu-satunya benar, bukankah itu artinya bahwa label “beragama lain” dan “tidak beragama” menjadi sama saja?

Mengapa perlu toleransi? Banyak orang mengkritik bahwa toleransi merupakan suatu bentuk dari kebimbangan dalam bersikap, ketidakmampuan untuk memihak karena belum memahami mana yang benar ataupun salah, yang baik maupun jahat. Menurut saya tidak demikian. Menurut saya, toleransi lahir saat seseorang menyadari bahwa setiap manusia memiliki jalan pikir yang berbeda-beda, dan tidak seorang pun berhak untuk memaksakan cara berpikirnya pada orang lain. Jika Anda merasa jalan pikir dan pilihan Anda sudah tepat, silakan sebarkan dan beritahu orang lain, namun jangan memaksa dan jangan tersinggung jika orang lain menolak maksud baik Anda.

The highest result of education is tolerance.

– Helen Keller

Toleransi sejatinya takkan menuntut persyaratan untuk terpenuhi, sebab perwujudan toleransi justru adalah menerima bahwa orang lain itu berbeda, dan oleh karenanya tidak meminta mereka untuk menjadi sama agar diterima. Oleh karena itu, toleransi bersyarat tidak lain hanyalah perwujudan intoleransi yang dibungkus dengan kata-kata manis agar terdengar indah.

Mengklaim bahwa toleransi merupakan suatu kelemahan mungkin berarti bahwa beberapa orang belum memahami bahwa cara berpikir dan pilihan iman bukanlah merupakan hal yang definitif. Ada hal-hal lain di mana toleransi merupakan bentuk ketidaktegasan, misalnya toleransi terhadap kejahatan dan tindak kriminal. Memang benar bahwa cara berpikir yang keliru bisa berujung pada tindak kriminal, namun bukankah menggeneralisasikan hal itu sama saja dengan langsung melompat pada kesimpulan yang terlalu jauh? Menurut saya, toleransi merupakan kelemahan jika subjeknya adalah tindakan konkrit (yang berdampak merugikan orang lain), dan bukannya cara berpikir ataupun pilihan hidup.

Keberagaman itu indah. Saya berharap bahwa makna dari toleransi ini kelak akan meluas bukan saja pada urusan agama maupun keyakinan, namun juga toleransi terhadap orang-orang dengan jenis kelamin yang berbeda, orientasi seksual yang berbeda, pilihan politik yang berbeda, usia yang berbeda, kondisi fisik yang berbeda, kebiasaan yang berbeda, pemahaman yang berbeda, tingkat ekonomi dan pendidikan yang berbeda, kebudayaan yang berbeda, suku/ras yang berbeda, maupun bangsa dan negara yang berbeda.

Menurut saya, orang-orang intoleran adalah orang-orang dengan pola pikir yang miskin dan belum memiliki wawasan yang luas, entah apakah hal itu dikarenakan kurangnya kesempatan untuk melihat dunia, ataukah kekeraskepalaan pribadi untuk membuka diri terhadap pemikiran-pemikiran yang berbeda; sebab orang yang bijaksana tentunya memahami bahwa tidak semua orang yang berbeda dengan kita adalah tersesat.

Selamat Hari Toleransi Internasional! 🙂

tolerance-2

No one is born hating another person because of the color of his skin, or his background or his religion. People are learn to hate, and if they can learn to hate, they can be taught to love, for love comes more naturally to the human hearts than its opposite.

– Nelson Mandela


Beberapa tautan terkait:

International Day for Tolerance

The Best Religion According to Dalai Lama

Sedikit Tentang Spiritualitas

Advertisements

2 thoughts on “Hari Toleransi Internasional

  1. If only more people read your site, Mandela’s wisdom and Ban Ki Moon’s plea! If people followed your philosophy the world would be a more peaceful and enjoyable place. Regrettably, much of the intolerance we have in the world is promoted by institutions, sometimes intentionally and sometimes inadvertently. Far better that we think for ourselves and look inside our own hearts and we will find tolerance and love.

    The default setting in the minds of independently-minded educated people is love and tolerance. The message for all? Don’t let the purveyors of hate and intolerance steal your heart and mind; choose love and tolerance and it will be returned in kind.

    Like

    1. Thanks for your comment! I do agree with you. It is so sad that people think that being different is a bad thing, and they cannot see the beauty in diversity. It is also sad that they got this way of thinking because society or institutions taught them so, but it is much worse when they finally grew up yet still don’t want to open their eyes and their mind.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s