Bakar Saja Bannya Biar Rame! :D


Hari ini saya melewati sekumpulan mahasiswa yang sedang demo. Waktu itu sedang jam dua belas siang, saat matahari sedang terik-teriknya. Kumpulan adik-adik mahasiswa ini baru berjumlah sekitar 15-20 orang, dan mereka berkerumun mengelilingi ban yang sedang dibakar. Asap pembakarannya tentu saja berwarna hitam, mengepul-ngepul ke atas dan dapat dilihat dari kejauhan, sementara adik-adik kita ini hanya berdiri bergerumbul di sekitarnya sambil menutup-nutup hidung dan mulut dengan tisu maupun sapu tangan.

Sejujurnya, saya lumayan kesal dan merasa terganggu dengan maraknya aksi demo di Makassar akhir-akhir ini. Soalnya, tiap kali ada yang bertanya, “Asalnya dari mana?” dan saya jawab, “Makassar,” pasti kebanyakan dibalas dengan, “Oh, yang mahasiswanya sering demo itu, ya?” Bukan coto Makassar, bukan Pantai Losari, bahkan bukan daerah asal Pak JK, melainkan “yang mahasiswanya suka demo”. Alamak.

Sewaktu mahasiswa, saya bukan aktivis. Boro-boro aktivis, ikut kegiatan selain perkuliahan di kampus saja jarang. Alasannya hanya satu: malas. Jadi karena saya bukan (mantan) aktivis kampus, maka ada beberapa hal yang masih merupakan misteri bagi saya, terkait dengan aksi demo mahasiswa. Mungkin ada teman-teman yang berkenan memberikan pencerahan. 🙂

Satu. Kenapa sih, mahasiswa kalo demo selalu di siang bolong? Kalau bukan jam dua belas siang plus minus satu jam, ya jam tiga sore plus minus satu jam. Yah, setidaknya begitu yang saya amati selama ini. Tapi kenapa? Maksud saya, jam-jam segitu kan lagi panas-panasnya. Apa tidak lebih nyaman kalau berdemo pukul delapan pagi atau jam lima sore? Enak kan, ga usah berpanas-panas, ga perlu berkeringat-keringat, dan sebagainya.

Dua. Kenapa sih, mahasiswa demo identik dengan bakar ban? Apa yang dimaksudkan dengan tindakan membakar ban itu? Maknanya apa kalau membakar ban? Kenapa pula harus ban? Kenapa bukan membakar kertas atau membakar sampah sekalian supaya ikut membantu pemerintah? Sungguh suatu pemandangan lucu yang saya saksikan siang tadi, sekelompok mahasiswa melingkar mengerumuni ban yang sedang terbakar, toh mereka pakai acara tutup-tutup hidung pula. Seandainya saya datangi dan saya tanya “Ngapain pakai bakar ban segala?” kira-kira mereka bakal jawab apa ya? 🙂

Tiga. Kenapa sih, mahasiswa mendemo kenaikan BBM lalu menutup total seluruh ruas jalan? Bukannya yang diperjuangkan itu adalah demi kelancaran transportasi rakyat? Lantas kalau menutup jalan selama beberapa jam, bukannya justru merugikan rakyat? Kenapa tidak menutup separuh ruas jalan saja? Saya #gagalpaham.

Teman-teman saya banyak yang aktivis. Namun entah mengapa, rasanya “nuansa” perjuangan mahasiswa dulu berbeda dengan sekarang. Zaman saya dulu, kami masih menganggap mahasiswa yang turun berdemo ke jalan itu “berani” dan “setengah keren” (setengahnya lagi menakutkan). Zaman lebih dulunya lagi, jangankan berdemo, bisa jadi mahasiswa saja sudah dianggap keren. Zaman sekarang? Silakan jawab sendiri. 🙂

Entah sejak kapan, citra mahasiswa di mata masyarakat mengalami pergeseran ke arah negatif. Demikian pula halnya dengan citra dokter *uhuk*. Pandangan masyarakat tentang manusia yang dulunya bernada “wah” entah sejak kapan berubah menjadi sekadar “oh”. Apa karena zaman sekarang menjadi mahasiswa (dan dokter) itu jauh lebih mudah dibandingkan zaman dulu? Namun kita juga harus introspeksi – bukankah pergeseran citra tersebut juga sedikit banyak diakibatkan oleh tingkah laku kita (mahasiswa) sendiri?

Dulu, perjuangan (demo) mahasiswa itu keren. Dulu, perjuangan (demo) mahasiswa itu merupakan respon terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang dinilai tidak memihak masyarakat. Dulu, perjuangan (demo) mahasiswa itu merupakan jalan terakhir yang ditempuh setelah berbagai cara musyawarah, birokrasi, petisi, dan lainnya sudah gagal. Sekarang, demo (perjuangan) mahasiswa itu justru meresahkan masyarakat. Sekarang, demo (perjuangan) mahasiswa itu merupakan reaksi anarkis dan spontan yang sekadar ikut tren. Sekarang, demo (perjuangan) mahasiswa itu dilakukan sebelum bicara baik-baik dengan cara damai.

Sekali lagi, saya bukan (mantan) aktivis. Tulisan ini mungkin salah dan terkesan mengantagonisasi mahasiswa yang sudah rela capek-capek dan berpanas-panas demi memperjuangkan nasib rakyat. Tetapi mau tidak mau saya berandai-andai, seandainya di antara mereka itu saya datangi satu per satu dan saya tanya, “Kamu demo sebenarnya untuk apa?” atau “Apa yang kamu harapkan dengan melakukan demo menggunakan cara seperti ini?”, saya penasaran, akan seperti apa jawaban-jawaban mereka.

Semoga saja, perjuangan (demo) mahasiswa yang dilakukan oleh adik-adik kita, benar-benar merupakan perwujudan dari idealisme yang memihak rakyat, dan bukannya sekadar tren reaktif saja, sehingga jika kelak saya bertanya, “Buat apa bakar ban?” saya harap jawabannya bukanlah, “Bakar saja bannya biar rame!

Advertisements

One thought on “Bakar Saja Bannya Biar Rame! :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s