Alasan Saya Berwaham


Pernyataan: untuk menghindari tudingan-tudingan “[masukkan nama salah satu agama yang Anda curigai]-isasi” ala-ala media sosial, dengan ini saya menyatakan bahwa keseluruhan isi tulisan ini merupakan hasil tulisan saya dalam kondisi delusional, dan oleh karena itu sangat tidak dianjurkan untuk ditanggapi secara serius.


Mengawali tulisan ini, maka latar belakang agama yang tercantum di KTP saya adalah agama Buddha. Apakah saya benar-benar mengimani agama tersebut, ataukah cuma sekadar label supaya kolom agama saya tidak kosong, silakan berpendapat sendiri; sebab urusan iman hanya hati manusia yang tahu, bukannya KTP maupun penilaian orang lain.

Agama saya adalah agama yang saya pilih sendiri, mengingat kakek dari pihak mama saya mengajarkan ke anak-anaknya untuk “Sebaiknya kalian memilih agama setelah mempelajari masing-masing agama terlebih dahulu, kemudian pilihlah yang terasa paling cocok, jangan hanya beragama karena ikut-ikutan tanpa tahu sebabnya”, maka saya pun demikian.

Meskipun masih setengah-setengah, ini adalah beberapa alasan saya memilih (waham) Buddhisme untuk dicantumkan di KTP saya.

  1. Believe nothing, no matter where you read it, or who said it, no matter if I have said it, unless it agrees with your own reason and your own common sense.” – Buddha Gautama

    Waham Buddhisme tidak pernah mengklaim dirinya sebagai yang paling benar, atau sebagai satu-satunya yang benar, dan saya menyukai hal itu, sebab tidak ada paksaan di dalamnya. Yang ada hanyalah anjuran untuk belajar dan terus mencari. Bahkan Siddhartha pun tidak pernah menyuruh pengikutnya untuk membentuk suatu “agama”; ia hanya membagikan apa yang diketahuinya kepada mereka yang sudi untuk mendengarkan. Tidak ada perintah untuk “percaya tanpa perlu mengerti”, melainkan “kalau belum mengerti, sebaiknya jangan dulu percaya”. Boro-boro percaya, keimanan pengikutnya pun tidak dipersoalkan. Dalam waham Buddhisme versi saya, iman bukanlah suatu syarat mutlak dalam mencapai kepuasan spiritual, melainkan hanya sebagai sebuah efek samping semata. Hal ini, menurut saya, menjadikan pemeluk waham Buddhisme sebagai orang-orang yang mandiri, berpendirian, serta bertanggung jawab. Sesat? Namanya juga waham 😀

    Do not believe in anything simply because you have heard it. Do not believe in anything simply because it is spoken and rumored by many. Do not believe in anything simply because it is found written in your religious books. Do not believe in anything merely on the authority of your teachers and elders. Do not believe in traditions because they have been handed down for many generations. But after observation and analysis, when you find that anything agrees with reason and is conducive to the good and benefit of one and all, then accept it and live up to it.” – Buddha Gautama

    In Buddhism, it’s not about faith; it’s about knowledge and logic, and the process to acquire understanding.

  1. If science proves some belief of Buddhism wrong, then Buddhism will have to change.” – Tenzin Gyatso, His Holiness the 14th Dalai Lama

    Waham Buddhisme mengakui bahwa ajaran-ajaran tidak senantiasa dapat diterapkan pada setiap kondisi dan setiap zaman. Beberapa orang menganggap hal ini sebagai sebuah kelemahan, namun tidak demikian bagi saya. Saya lebih menyukai fleksibilitas dibandingkan dengan kekakuan feodal. Bukankah sudah banyak contoh ajaran-ajaran yang tidak mampu melakukan catch-up terhadap perkembangan zaman dan kebudayaan, kemudian melakukan berbagai cocoklogi, postdiksi, dan memunculkan berbagai god of the gaps yang pada gilirannya justru menjadi bahan pertengkaran dengan pengikut ajaran lain? Sesat? Ya sudah, ga usah ikut-ikutan tersesat kayak saya 😀

  1. Buddhisme merupakan agama non-teistik dan tidak memiliki tuhan personal. Berbeda dengan agama-agama lain yang monoteistik ataupun panteistik (atau bahkan paham deisme), agama Buddha tidak memiliki apapun untuk disembah sebagai “tuhan”. Hal ini agak ribet juga, ketika sebagai seorang penganut waham Buddhisme saya ditanya “Agama Buddha tuhannya siapa?” dan saya menjawab “Tidak ada”, sebagian besar akan membalas dengan “Loh, artinya semua pengikut Buddhisme ateis dong?” Secara etimologi sebenarnya ateisme tidak sama dengan non-teisme, meskipun keduanya jelas berbeda jauh dari teisme. Jadi, karena tidak memiliki tuhan personal, saya senang dengan waham saya. Sejak dulu saya tidak menyukai pre-determinisme, dengan segala kontroversinya terhadap konsep kehendak bebas, di mana keduanya seringkali bersatu dalam satu ajaran. Alih-alih mencari sesuatu untuk disembah, ajaran ini lebih menekankan pada pembangunan suatu “kesadaran spiritual” (awareness/consciousness) akan diri sendiri maupun alam semesta dan kondisi-kondisi yang ada. Buddha sendiri berarti “yang tercerahkan”, dan setiap orang bisa mencapai ke-Buddha-an jika telah memiliki kesadaran batin yang “tercerahkan”. Jadi saya ateis? Kalau Anda maksa, ya bisa jadi. Lantas kenapa? Bukankah bagi beberapa orang tertentu, “segala sesuatu di luar kelompoknya” dan “ateis” itu sama saja? 🙂 Saya memilih Buddhisme sebab saya menyukai ajaran-ajarannya, terlepas dari apakah ia menyembah tuhan tertentu atau tidak, terlepas dari apakah ia memiliki nabi atau tidak, terlepas dari apakah saya akan masuk surga atau neraka atau bukan salah satunya [lihat poin 4]. I chose Buddhism teachings because I am free to choose and I am free not to choose. Ada satu bacaan yang cukup menggelitik berkaitan konsep tuhan personal ini. Silakan dibaca 🙂 Sesama Tuhan Jangan Bertengkar (Emha A. Nadjib)
  1. Konsep surga dan neraka dalam Buddhisme tidaklah kekal. Jadi, dalam Buddhisme, surga dan neraka itu hanyalah bentuk lain dari alam kehidupan, di mana surga terdiri dari 26 alam dan neraka terdiri dari 4 alam, sehingga jika digabung dengan dunia tempat kita tinggal sekarang ini, alam kehidupan berjumlah 31 buah. Saya mengumpamakannya dengan dunia multidimensional seperti yang sering ditampilkan dalam film-film fiksi ilmiah. Adapun makhluk yang berbuat karma baik di sepanjang kehidupannya yang sekarang, akan terlahir di alam yang lebih baik alias naik level, demikian pula sebaliknya. Jadi bukan berarti jika suatu makhluk sudah “pindah alam” ke surga maka ia bebas berbuat semaunya. Toh kalau ia berbuat jelek, bisa turun level ke dunia manusia atau ke neraka. Demikian pula jika suatu makhluk terlahir di neraka, ia tetap bisa berusaha berbuat baik agar di kehidupan selanjutnya bisa terlahir di alam kehidupan yang lebih baik. Menurut saya, inilah definisi keadilan yang sesungguhnya. Surga dan neraka bukanlah tujuan akhir, bukan hitam vs putih, bahagia kekal vs sengsara kekal yang menuntut sistem reward and punishment. Toh kalaupun waham saya ternyata salah dan kenyataanya nanti tidak seperti itu, tidak ada yang perlu disesalkan, sebab surga dan neraka hanyalah efek samping, sedangkan kegiatan utamanya adalah berbuat baik. Anggap saja saya sedang menonton film fiksi ilmiah dengan sekian banyak dunia multidimensionalnya 🙂 Sejujurnya, saya sendiri kurang setuju dengan beberapa penganut Buddhisme yang berbuat baik hanya untuk memperoleh karma baik ataupun sebaliknya. Kalau demikian, apa bedanya dengan mengharap pamrih? Suatu perbuatan baik yang dilakukan dengan tulus adalah perbuatan baik yang dilakukan tanpa adanya embel-embel pengharapan akan karma baik maupun surga. Jika tanpa karma baik atau surga pun kita masih tetap berbuat baik, dan jika tanpa karma buruk atau neraka pun kita tetap tidak berbuat jahat, itulah orang-orang yang saya akui telah mencapai kedewasaan spiritual. Sesat? Resepkan saja saya Haloperidol 😀

    I have always thought that the concept of heaven and hell, reward and punishment, is the most successful motivation for most people. Doing good to get a seat in heaven. Avoiding doing bad because of fear of hell. How in vain. Life is so much more than that, Darling 🙂 You miss all the pleasure coming from doing good things for the sake of doing good – to see others happy because you did something good for them. Living in fear because you believe you’re being watched all the time… Hey, do you judge people because you believe you’re being judged too? It seems that you worship your heaven more than you worship your God, and fear your hell more than you fear your God. Oh the irony, when your God is apparently just one of the “gods of the gaps”, and your final truth is only “heaven or hell” thing… not to mention that if there’s no heaven or hell in the end, then your whole life would be meaningless, because you forgot to live for the sake of life itself. And this truly saddens me. I just wish there are not many people like you out there; for the sake of humanity…

  1. Tujuan akhir dalam spiritualisme Buddhisme ialah ketiadaan, alih-alih kekekalan. Seperti poin sebelumnya, surga dan neraka Buddhisme hanyalah suatu tempat persinggahan sementara dan bukan jaminan kebahagiaan kekal maupun penderitaan abadi. Saya memahami hal ini sebab naluri dasar manusia adalah mempertahankan eksistensinya, bahkan setelah kematian, sebab kematian itu penuh dengan ketidakjelasan sehingga jadi menakutkan. [Heaven] [Befriending Death] Nirvana (nibbana) merupakan tujuan akhir waham Buddhisme, yakni berupa padamnya segala keinginan (desire) dan keterikatan (attachment) di mana suatu makhluk berhenti dari siklus kelahiran berulang (reinkarnasi) untuk kemudian menghilang eksistensinya. Jadi, nirwana itu bukan surga, sebagaimana seringkali salah ditafsirkan oleh orang-orang yang belum paham. Dalam Buddhisme, kekekalan justru merupakan penderitaan, dan tidak ada yang kekal di dunia ini. Kalau dikonsepkan, mungkin bunyinya menjadi “Tidak ada yang kekal selain ketidakkekalan itu sendiri”. Saya akui, hal ini cukup meresahkan bagi beberapa orang, sebab tidak dibumbui dengan janji-janji manis penjual obat 🙂 toh, agama adalah pilihan, dan keyakinan adalah pengimanan batin. Seperti dikatakan oleh Dalai Lama, bahwa “Agama terbaik adalah agama yang paling mendekatkan Anda kepada Tuhan – yakni agama yang membuat Anda menjadi orang yang lebih baik.” [link]

Demikian beberapa poin yang membuat saya memutuskan untuk berwaham Buddhisme hingga saat ini. Apakah keyakinan saya bisa berubah? Entah – siapa yang tahu? Namun apakah itu berarti keyakinan saya lemah? Belum tentu. Open-mindedness dan fleksibilitas tidak selalu sejalan ataupun bertentangan dengan kualitas, apalagi dalam soal iman.

Saya lebih suka melabeli diri dengan “free-thinker” ataupun “agnostik”, sebab saya mengakui bahwa dengan kemampuan otak dan teknologi yang ada saat ini, kita belum dapat menjelaskan seluruh fenomena-fenomena yang ada, dengan menyertakan bukti ilmiah dan secara objektif tanpa menyeret-nyeret kepentingan pihak tertentu.

Sesat? Yah, mungkin saya termasuk salah satu orang yang perlu tersesat lebih dahulu supaya bisa menemukan “jalan yang benar”. Lagipula, seperti kata Tolkien, “Not all those who wander are lost” – “Tidak semua yang [sedang] berkelana adalah tersesat”, maka mungkin saat ini saya sedang menikmati pengembaraan spiritual saya. Saya tidak tertarik untuk mendebat ajaran (baca: waham) lainnya, seperti halnya Anda juga tidak akan mau berdebat dengan orang yang sedang menikmati delusinya seperti saya. 🙂

Advertisements

6 thoughts on “Alasan Saya Berwaham

  1. Hanya filsuf yang dapat menganalisis delusinya 😀 (y) hehehe saya dulu waktu kecil pernah baca tentang Sidarta Gautama & untungnya ortu beberapa kali ngajak melihat reliq

    Like

  2. *halah kepencet send* jadi sedikit-sedikit tahu tentang ajaran Budha^^hehehe I found the thought about Nirvana is comforting (^v^)V

    Like

      1. Hahaha tp masih ingat 😀 kalo saya ditanya skrg ajaran Kristen/ Katolik sy cm jawab “Thou shall not do the things :D” bahahahaha

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s