Kamu, Desember, dan Hujan


Waktu itu bulan Desember, dan aku sedang berdiri sambil memegang payung, berjuang menahan dingin di bawah derasnya hujan yang tengah mengguyur bumi.

Aku tidak tahu siapa yang sedang kunanti, sebab hujan memang selalu membawa perasaan rindu yang tak kunjung padam, meskipun kadangkala kita tidak tahu rindu itu ditujukan untuk siapa. Mungkin rindu kepada alam. Mungkin rindu kepada Sang Pencipta. Mungkin rindu kepada kamu.

Aku menghirup napas dalam-dalam, menarik masuk udara yang berbau rumput basah ke dalam paru-paruku, berusaha mengingat dan menyimpan aroma itu di dalam ingatanku. Namun, secepat itu aku menghirup, secepat itu pula aku menghembuskan. Aku tak mampu menyimpan udara, seperti halnya aku tak mampu menyimpan kamu. Aku hanya bisa mengenang aroma, mengais-ngais sela-sela memoriku untuk menemukan serpihan-serpihan ingatan tentang kamu.

Seandainya kamu ada di sini, apa yang akan kamu lakukan? Melihat aku sedang berdiri sambil memegang payung, berjuang menahan dingin di bawah derasnya hujan yang tengah mengguyur bumi, apa yang akan kamu katakan? Bahwa semua itu sia-sia? Karena kamu takkan kembali?

Aku mencintai hujan, sebagaimana halnya aku mencintai kamu. Dan bila aku memilih untuk berdiri sambil memegang payung, berjuang menahan dingin di bawah derasnya hujan yang tengah mengguyur bumi, lalu kamu bisa apa? Demikian pula jika aku memilih untuk mencintai kamu, meskipun aku tidak tahu sekarang kamu di mana dan sedang apa, meskipun aku tidak tahu apakah kamu sudah berubah atau masih sama seperti yang dulu, meskipun aku tidak tahu apakah kamu masih mengingat aku dan kita atau tidak, lalu kamu bisa apa? Toh kamu tidak tahu.

Ini adalah kisah tentang cinta yang tidak pernah mati. Bukan karena aku tidak mau. Bukan karena aku tidak bisa. Namun cinta itu tetap hidup atas kemauannya sendiri, atas keputusannya sendiri. Sebab seperti halnya sel-sel makhluk hidup yang memiliki insting untuk bertahan hidup, demikian pula cinta memiliki keinginan untuk terus mempertahankan eksistensinya. Aku tidak berkuasa atas cinta, sebab cinta-lah yang berkuasa atas aku. Aku bukannya terperangkap di masa lalu, bersama dengan kenangan-kenangan tentang aku, kamu, dan kita. Aku telah berhasil melewati masa-masa itu. Aku berhasil bertahan, namun cinta itu tetap ada. Akan selalu ada cinta untuk kamu. Meskipun aku telah melepaskan ikatan dengan kamu, dan meskipun aku telah belajar dari kisah kita, bahwa ada orang-orang yang hadir dalam hidup ini hanya untuk menggoreskan kenangan, dan bukan untuk tinggal.

Akan selalu ada cinta untuk kamu, meskipun kelak aku memutuskan untuk berhenti berjalan seorang diri, lalu mencari orang lain untuk menapaki jalan kehidupan ini bersama-sama. Akan selalu ada cinta untuk kamu, meskipun ketika takdir ikut campur dan nasib mempertemukan kita suatu saat nanti, kamu bukanlah kamu dan aku bukanlah aku. Akan selalu ada cinta untuk kamu, sebab kamu pernah hadir, dan jiwaku akan selalu mengenali jiwamu, sebagaimana aku akan selalu bisa mengenali bau hujan, meskipun Desember telah berlalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s