Evolusi Non-Biologis


Mendengar ada orang zaman sekarang berkata, “Mending kita kembali ke zaman Orde Baru,” sebenarnya saya senang sekali. Saya senang, bahwa ternyata masih ada orang yang merasakan nikmatnya hidup di zaman Orde Baru, bahwa ternyata tidak semua orang mengalami hal buruk semasa pemerintahan Orde Baru. Saya senang, bahwa ternyata, toh, masih ada orang yang hidupnya baik-baik saja waktu itu, dan bahkan (menurutnya) lebih baik jika dibandingkan dengan era saat ini. Tetapi jujur saya, saya selalu merasa geli jika mendengar ada anak muda, yang notabene belum pernah merasakan hidup di zaman Orde Baru, menyatakan dengan yakinnya bahwa zaman Orde Baru itu lebih baik.

Generasi muda zaman sekarang, yang tidak sempat mencicipi kehidupan zaman Orde Baru, tentu agak janggal jika membanding-bandingkan kehidupan era reformasi dengan era Orde Baru. Saya pun demikian. Saya beruntung (atau justru tidak beruntung?) lahir pada akhir masa pemerintahan Orde Baru, sehingga ciri khas pemerintahan rezim tersebut sudah tidak sekuat pada puncak kejayaannya. Oleh sebab itu, berdasarkan standar yang saya buat sendiri, saya pun tidak pantas membandingkan kehidupan era Orde Baru dengan saat sekarang. Namun, saya kebetulan sering mendengar cerita-cerita orang tua yang hidup pada masa itu, atau membaca penggalan-penggalan kisah kehidupan zaman Orde Baru, baik dari sudut pandang pribadi maupun sudut pandang sejarah nasional. Setiap orang tua yang saya tanyai, jawabannya beragam, namun yang tersering adalah jawaban netral, “Ada enaknya dan ada tidak enaknya.” Orang-orang yang menjawab demikian adalah orang-orang yang telah berkesempatan mencicipi kedua era (atau bahkan lebih jauh dari itu, yakni mencakup masa Orde Lama maupun hingga sebelum kemerdekaan).

Menurut mereka, rata-rata keunggulan zaman Orde Baru ialah mengenai keamanan dan ketertiban hidup bermasyarakat yang lebih terjamin, namun mereka mengakui bahwa hal tersebut disebabkan karena sistem peradilan hukum dan kebebasan pers tidak sedemokratis sekarang. Meskipun bukti-bukti sah masih sangat minim, tentu kita pernah mendengar selentingan tentang orang-orang yang “dijemput” dan tak pernah kembali, dan seringkali kepergian mereka pun tidak jelas alasan dan landasan hukumnya. Karena adanya mekanisme seperti itu, maka masyarakat hidup dalam kehati-hatian untuk tidak terlibat dalam hal-hal berbau politik, yang pada gilirannya justru mengurangi tingkat kejahatan. Apakah ini merupakan hal yang baik? Tergantung dari sudut mana Anda memandangnya.

Di sisi lain, era reformasi menawarkan kebebasan berpendapat yang lebih terbuka dan transparan. Hak-hak asasi manusia diakui dan ditegakkan, serta dijamin kepastiannya oleh negara. Meskipun dibungkus dengan istilah “kebebasan yang bertanggung jawab” atau “kebebasan yang dibatasi oleh kebebasan orang lain”, namun kebebasan berdemokrasi ini juga merupakan pedang bermata dua. Namun apakah berarti bahwa sistem demokrasi itu jelek? Lagi-lagi, itu tergantung dari sudut pandang Anda.

Kita, yang cuma pernah hidup di zaman sekarang, sulit untuk membanding-bandingkan dua kondisi jika salah satu dari dua kondisi itu belum pernah kita alami sendiri. Benar bahwa kita dapat melakukan telaah literatur, membaca buku sejarah, menanyakan kesaksian orang-orang, namun tetap saja penilaian kita pasti akan mengandung bias, sebab kita menilai zaman hidup kita menggunakan sudut pandang subjektif, dan menilai zaman yang satunya menggunakan sudut pandang orang lain. Yang satu “teori”, yang lain praktik.

Selama ini kita hidup di negara yang menganut ideologi Pancasila, negara yang enggan melabeli diri sebagai “liberal” atau “kapitalis” maupun “komunis” atau “sosialis”, lalu menciptakan istilah sendiri yakni “sistem demokrasi Pancasila” dan “sistem ekonomi Pancasila” yang merupakan perpaduan antara dua kutub yang saling berlawanan tersebut. (Mohon dikoreksi jika keliru) Kita mengambil jalan tengah ini sebab para founding fathers merasa bahwa ekstrem kiri maupun ekstrem kanan kurang cocok untuk diadaptasi ke dalam budaya bangsa Indonesia. Ini bukan berarti ekstrem kanan adalah jelek dan ekstrem kiri adalah baik ataupun sebaliknya; ini hanyalah masalah kecocokan semata.

Negara-negara barat seperti Amerika Serikat yang menganut paham liberalis atau kapitalis tentunya menganggap bahwa paham sosialis atau komunis tidaklah cocok untuk diterapkan di negara mereka. Demikian pula negara-negara timur seperti Cina dan Korea Utara yang menganut paham sosialis atau komunis tentu merasa bahwa paham tersebut sudah sesuai untuk negaranya. Buktinya, negara-negara tersebut termasuk dalam negara-negara dengan perkembangan/kemajuan yang pesat, bahkan tidak sedikit yang menjadi negara adidaya dan adikuasa, meskipun dengan paham yang berbeda-beda. Soal kesejahteraan rakyat, saya pernah membaca bahwa seluruh rakyat Korea Utara mendapat jatah pembagian makanan dan pakaian gratis dari pemerintah, meskipun dalam jumlah yang terbatas. Selain itu, biaya pendidikan hingga taraf tertentu dan biaya kesehatan ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah. Namun jangan tanyakan mengenai kebebasan berpendapat (individu) di sana. Konon, Korea Utara menempati urutan kedua dari terakhir (di dunia) berkaitan dengan kebebasan pers. Apakah kemudian rakyat Korea Utara lebih sejahtera dibandingkan rakyat Indonesia? Atau malah lebih menderita? Parameternya jelas beda. Begitu pula dengan sudut pandangnya. Jika Anda merasa kasihan pada rakyat Korea Utara, coba saja tanyakan langsung pada mereka – jangan-jangan nanti malah mereka yang kasihan pada sistem pemerintahan kita. Apa yang baik bagi kita, belum tentu baik bagi mereka. Apa yang normal bagi kita, belum tentu normal bagi mereka. Demikian pula sebaliknya. (Kalau saya sih, tetap memilih tinggal di Indonesia saja ya, tapi lagi-lagi ini pilihan subjektif :p)

Segala sesuatu memerlukan perubahan untuk terus bertumbuh dan berkembang. Pada tingkat makhluk hidup, prosesnya adalah evolusi biologis. Evolusi merupakan proses seleksi alam, di mana makhluk hidup dituntut agar dapat beradaptasi sesuai perubahan lingkungannya, agar kelangsungan hidup spesiesnya tetap terjaga. Evolusi ialah survival of the fittest, hanya meloloskan makhluk hidup yang mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan, dan bukannya memilih spesies yang terbaik atau terunggul pada masa itu. Bahkan dalam skala mikro, evolusi terus berlangsung sepanjang waktu – saat saya menuliskan ini dan Anda kemudian membacanya – yakni dalam bentuk mutasi genetik untuk adaptasi sel. Sel kanker pun, sebenarnya merupakan suatu proses evolusi, agar sel dapat bertahan dalam kondisi lingkungan yang ekstrem, misalnya dalam kondisi hipoksik atau kondisi keasaman yang tinggi.

Dalam tingkatan masyarakat, evolusi juga terjadi. Hanya saja istilah “evolusi” sudah terlalu melekat dengan proses biologis sehingga mungkin hal ini agak terlewatkan. Evolusi terjadi pada bentuk pemerintahan, sistem pemerintahan, sistem ekonomi, sosial, dan bahkan budaya dan kepercayaan. Bentuk pemerintahan kerajaan telah lama ditinggalkan di Indonesia, dan berevolusi menjadi bentuk republik. Beberapa negara seperti Inggris dan Belanda masih mempertahankan bentuk pemerintahan kerajaan, sebab di lingkungannya, bentuk seperti itulah yang merupakan “the fittest”. Dari segi budaya pun demikian. Jika dulu kita berada di bawah bayang-bayang budaya patriarki, maka kini di beberapa negara mulai bermunculan gerakan-gerakan feminisme untuk melawan para misoginis-misoginis yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. (Meskipun secara pribadi saya merasa bahwa kadangkala gerakan feminisme radikal adalah konyol.)

Evolusi selalu terjadi, sebab perubahan adalah suatu keniscayaan. Karena itulah ada Revolusi Prancis, Revolusi Inggris, dan revolusi-revolusi lain yang hanya saya hafalkan ketika akan ujian mata pelajaran Sejarah di SMA dulu. Bahkan gaya sastra/literatur pun berubah; selera berbusana dan standar kecantikan pun berubah dari masa ke masa. Kita menyebutnya tren dan perkembangan budaya, namun toh sesuai prinsip evolusi; yang mampu menyesuaikan diri dengan selera pasar-lah yang akan bertahan. Sistem kepercayaan pun berubah, mulai dari kepercayaan animisme-dinamisme, berkembang menjadi agama-agama politeistik dan panteistik, kemudian sekarang didominasi oleh agama-agama monoteistik.

Jika Anda tidak bersikap terbuka terhadap perubahan, maka Anda akan kalah dalam proses bertahan hidup, meskipun “proses bertahan hidup” sekarang tidak lagi berarti persaingan fisik, namun lebih pada persaingan intelektual, cara pandang, dan gaya hidup. Belajarlah dari pengalaman-pengalaman orang-orang di masa lalu, supaya kita tidak perlu mengulangi kesalahan yang sama, seperti dikatakan Santayana berikut ini.

“Progress, far from consisting in change, depends on retentiveness. When change is absolute there remains no being to improve and no direction is set for possible improvement: and when experience is not retained, as among savages, infancy is perpetual. Those who cannot remember the past are condemned to repeat it.”
–George Santayana

Kembangkanlah wawasan dan cara berpikir kita, tambahlah ilmu pengetahuan dan keterampilan, serta bersikaplah terbuka terhadap perubahan. Bersikap terbuka bukan berarti menerima, namun membuka diri untuk menilai sesuatu berdasarkan sudut pandang objektif. Keluarlah dari zona nyaman kita, sebab zona nyaman hanyalah tempat peristirahatan sementara. Nothing grows on the comfort zone. Meskipun perubahan itu belum pasti hasilnya memuaskan, namun menurut saya berjalan maju ke satu arah untuk memperjuangkan sesuatu yang kita yakini adalah lebih baik ketimbang diam di tempat dan dikalahkan oleh berjalannya waktu.

A quote from a friend of mine:
“Evolution doesn’t have a conscience. Nature doesn’t take pity on the weak or empathize the oppressed. Nature is a psychopath’s playground.”
–@Xenocratos

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s