Adek Koas…


Awal mula tulisan ini adalah ketika saya menemukan postingan di Path sebagai berikut.

01c5f1394bd7a4f7bd7ad789c6a07ef1c0e8463354

Saya jarang menonton drama seri bertema kedokteran produksi luar negeri, tapi untuk sinetron maupun FTV buatan dalam negeri, peran dan dialog dokter, perawat, dan tenaga medis itu benar-benar menyedihkan. Itulah salah satu alasan mengapa saya berhenti sama sekali menonton sinetron dan FTV Indonesia sejak beberapa tahun yang lalu. Menurut saya, kebanyakan adegan sinetron merupakan pembodohan masyarakat. Masih mending kalau yang menonton orang dewasa yang sudah bisa berpikir kritis, tapi kalau ditonton oleh anak-anak yang cuma menelan bulat-bulat apa yang ditontonnya, itu sama saja menurunkan kecerdasan anak bangsa.

Kembali ke topik semula, saya pernah menonton salah satu adegan di mana pemeran utama pria (dokter) sedang praktik di ruang praktiknya dengan didampingi seorang perawat. Tiba-tiba ponsel si dokter berbunyi. Eh, ternyata dari pemeran utama wanita, dan katanya ada urusan mendesak (padahal mungkin cuma modus). Seketika itu juga si dokter melempar stetoskopnya di atas meja kemudian berlari ke luar ruangan sambil berseru, “Suster! Tolong gantikan saya!” Mampus dah. Ga kebayang kalau kejadiannya di dunia nyata. Si perawat disuruh menggantikan praktik si dokter. Dasar dokter yang tidak bertanggung jawab.

Kali kedua, saya menonton salah satu adegan di mana dilakukan tes paternitas (uji DNA kebapakan) terhadap salah satu pemeran utama di sinetron tersebut. Nah, setelah hasilnya keluar, si dokter ceritanya menyampaikan kabar buruk pada kliennya dan mengatakan, “Maaf, Pak, Bu, tapi berdasarkan hasil tes DNA, si Anu ternyata bukan anak Anda.” Kemudian hasil tes tersebut di-zoom dan terbaca, “SGOT… SGPT…” Itu tes fungsi hati, woy! Sejak kapan tes fungsi hati dijadikan indikator kecocokan DNA? Sungguh, dunia persinetronan Indonesia benar-benar perlu dibenahi.

57202716

Nah, jadi saya kepikiran, kapan ya ada sineas Indonesia tertarik membuat sinetron atau film bertemakan kedokteran, tapi dengan menggunakan konsultan yang memang dokter/perawat/tenaga kesehatan supaya apa yang ditampilkan benar-benar sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Atau, mungkin ada yang tertarik membuat film tentang kehidupan perkoasan ditinjau dari sudut pandang seorang koas.

Sedikit curcol tentang kehidupan perkoasan, dunia kedokteran itu tidak sekeren yang terlihat hanya dari jas putih dan stetoskop yang dikalungkan di leher. Ngomong-ngomong tentang stetoskop yang dikalungkan di leher, jangan heran atau menganggap si empunya sombong jika ia menulisi stetoskopnya dengan namanya, atau memberi label nama pada stetoskopnya. Ini bukan untuk pamer, tapi karena memang stetoskop itu mahal. Stetoskop merk Littmann, yang (katanya) stetoskop acuan untuk pemeriksaan fisis, lima tahun yang lalu harganya sekitar Rp 700.000,00. Maka kemudian ada yang bilang, “Tingkat persahabatan sesama koas adalah ketika sudah saling memercayai untuk meminjamkan Littmann.” Belum lagi kalau dipinjam oleh dokter senior atau konsulen, pokoknya orang tersebut bakal saya buntuti tanpa rasa malu sampai Littmann kembali ke tangan dengan selamat.

Pacaran dengan seorang koas, meskipun satu kota, tidak beda jauh dengan LDR. Sedikit gambaran, pada departemen yang dinasnya hari Senin-Jumat, jam dinas adalah jam 07.00-16.00, sedangkan untuk departemen yang dinasnya Senin-Sabtu, jam dinas yaitu 07.00-14.00 selanjutnya jam jaga siang setelah dinas hingga jam 21.00 dan jam dinas malam dari 21.00-07.00 keesokan harinya. Jumlah jaga seminggu belum termasuk jam dinas. Jumlah jaga saya yang terbanyak adalah 10 kali seminggu, tetapi seorang teman lain pernah memperoleh jatah jaga hingga 13 kali seminggu. Hospital, sweet hospital. Fasilitas tempat tidur tergantung keberuntungan. Fasilitas WC dan kamar mandi tidak jarang harus meminjam milik perawat, sebab perawat disediakan WC/kamar mandi sendiri, sedangkan koas dibebaskan untuk mencari peruntungannya sendiri. Yah, itu waktu zaman saya masih koas. Mudah-mudahan sekarang sudah membaik.

Jadi saya bayangkan, mungkin nanti ada film judulnya “Adek Koas”, termasuk genre thriller. “Adek koas” itu panggilan yang tidak menyenangkan sama sekali. Seperti teman saya, Stephie, bilang, koas yang dipanggil dengan awalan “Adek koas…” itu kalau bukan dimarahi ya pasti disuruh-suruh. Secara struktural, tingkatan koas itu paling rendah dalam tatanan rumah sakit. Level tertinggi adalah supervisor/konsulen, disusul residen senior, residen junior, kemudian perawat, dan terakhir koas. Malahan ada strata atas yang lebih baik perlakuannya pada cleaning service dibanding pada koas. Intinya, jika mulai dipanggil “Adek koas…” ya sudah, siapkan saja mental Anda. Pokoknya kalau bukan dimarahi ya pasti disuruh-suruh. Lain cerita kalau maksud memanggilnya itu baik, seperti menanyakan sesuatu, mengajak visite, ataupun mengajak ngobrol. Untuk hal-hal selain memarahi dan menyuruh, biasanya hanya memanggil “Adek…” ataupun langsung menyebut nama, bukannya “Adek koas”. Mungkin ini upaya untuk memberi jarak antara pihak penyuruh dengan pihak yang disuruh, supaya rasa bersalahnya tidak terlalu personal.

1782298_10204568413362454_1943288474725043477_o(sumber: repost dari Path)

Ada beberapa adegan yang saya bayangkan jika diminta ide mengenai film tentang kehidupan perkoasan:

  • Janjian kencan dengan pacar non-FK, rencana nonton dan makan malam. Tiket bioskop sudah siap, alokasi waktu pun sudah direncanakan dengan sempurna. Maklum, kesempatan libur koas itu jarang. Tiba-tiba, “Adek koas, hari ini kita pembacaan referat mulai jam 5 sore ya.” Auk. Hancurlah sudah.
  • Pacaran dengan koas: “Sayang, kamu lebih pilih aku atau residen kamu?” | “Ya residen aku lah, Sayang. Soalnya, kelulusanku di tangan dia. Kalau ga lulus, mana mungkin kamu mau sama aku?”
  • Pacaran dengan koas: tidak usah kesal kalau SMS tidak dibalas atau telepon tidak diangkat selama dia sedang jaga di RS. Mungkin dia sedang dalam ruangan OK steril, atau dia sedang banyak kerjaan, atau mungkin dia sedang bete karena habis dimarahi konsulennya. Pulang ke rumah pun, biasanya seorang koas akan langsung terkapar di tempat tidur atau mengerjakan tugas. Boro-boro mau selingkuh, waktu buat diri sendiri pun sepertinya selalu kurang.
  • Perjalanan hidup seorang koas: di saat teman-teman lain yang non-FK sudah lulus, nikah, punya anak, si koas masih bergelut dengan exit exam
  • Salah satu yang menegangkan dalam dunia perkoasan adalah saat pengaturan jadwal jaga mingguan. Di sana, seseorang benar-benar akan kelihatan karakter aslinya ketika ditugaskan membuat jadwal jaga untuk sesama teman koas. Maka tidak jarang pula banyak pertengkaran yang bermula dari sana. Jika diangkat ke dunia film, mungkin adegan ini akan merupakan bumbu yang menarik.
  • Koas itu bisa tidur di mana pun dan kapanpun. Tidur di bawah tangga, pernah. Tidur di meja? Sudah sering. Tidur sambil duduk, siapa takut? Bahkan pernah ada koas yang saking ngantuknya, ketiduran sementara meng-ambu (memberikan bantuan ventilasi pernapasan) pasiennya. Untung saja dia cepat dibangunkan oleh sesama koas lain.
  • Adegan seorang koas yang sedang kebelet dan berusaha mencari pinjaman WC. Karena tidak ada kamar mandi khusus koas. Pinjam WC ke perawat pun belum tentu ada, sebab kadang perawat yang bertugas sedang berkunjung ke bangsal lain dan entah kunci WC-nya disimpan di mana. Pinjam WC pasien, kadang kurang bersih atau sedang dipakai.
  • Menghabiskan libur-libur besar dengan jaga di rumah sakit.
  • Yang agak menyakitkan hati juga boleh dimasukkan. Misalnya pasien yang menunjuk koas seraya berkata, “Saya tidak mau diperiksa oleh koas.”
  • Ini dari kisah nyata seorang teman. Jadi ceritanya dia stase di RS yang cukup angker. Ketika harus berjalan melintasi salah satu lorong yang gelap pada malam hari, ketakutannya akan hal-hal mistik dikalahkan oleh ketakutannya dimarahi konsulen jika ia tidak mengerjakan tugas yang ditugaskan padanya, di mana tugas itu mengharuskan dia melewati lorong gelap tersebut. Jadi dia berani melewati lorong itu karena lebih takut dengan bayangan muka konsulennya yang super galak.
  • “Dok, salam dari papa…” << no need to explain further :p

Masih banyak contoh-contoh lain mengenai pahitnya dunia perkoasan. Makanya ada teman saya sesama dokter yang enggan jika teman non-dokternya minta dikenalkan dengan teman dokternya. Katanya, “Enak saja, kamu maunya setelah dia jadi dokter. Kalau mau serius, pacaran dong selagi dia masih koas. Baru benar-benar hubungan kalian bisa diuji ketahanannya.” Hahaha. Bolehlah alasannya.

Meskipun yang saya ceritakan kebanyakan hanya sisi negatifnya, bukan berarti bahwa kehidupan seorang koas itu sangat menderita. Itu hanya kalau sedang apes atau kebetulan sedang stase di bagian super-sibuk. Bagaimanapun juga, fase perkoasan adalah fase yang harus dilewati setiap orang yang berkeinginan menjadi dokter. Fase koas adalah semacam fase ‘akil balig’ dari seorang calon dokter. Dalam fase perkoasan, calon dokter diuji ilmu teori, keterampilan klinis, kemampuan berkomunikasi dengan pasien dan sejawat serta mitra kerja, serta diuji ketahanan mentalnya.

Jadi, buat yang bilang jadi dokter itu enak, coba deh jalani ‘proses menjadi’-nya. Toh, setiap cerita perkoasan selalu menyisakan tawa dan geli ketika dikenang bersama teman-teman kelak. Setiap kejadian tidak mengenakkan semasa koas, ternyata nantinya pasti memberikan manfaat bagi kemajuan dan perkembangan pribadi kita di masa mendatang. Hanya saja, saat itu kita mungkin belum menyadarinya. Di masa koas pula, kita akan memperoleh teman dalam arti yang sesungguhnya, yakni teman bukan hanya di saat suka, melainkan terlebih di saat duka.

Selamat untuk teman-teman yang telah, sedang, maupun akan menjalani masa perkoasan. Jalanilah dengan sepenuh hati, namun sisi-sisi buruknya tidak perlu diambil hati. Semoga masa-masa koas kita semua menyenangkan dan indah untuk dikenang! 🙂

331527705(sumber: @ko_ass on Twitter)

Advertisements

6 thoughts on “Adek Koas…

  1. Wkwkwk, sy stuju tuh walau gw bukan dari kedokteran tp liat prosesnya dari kalian tuh rasanya berat banget
    Tetep smangat utk jalani smuanya ya hehehe
    P.S: kenalin donk yg koas wakakaka

    Like

  2. Sesibuk ini ya jd koas..walaupun kadang sy kesal sms ga dbalas n telpon g di angkat, suka ga percaya klo dia super sibuk tp krn postingan ini sy jd paham sama profesi pacar saya.thanks yaa

    Like

  3. Sesibuk ini yo jd koas..hehe
    Seringkali sy kesal klo pacar sy ga balas sms atau ga angkat telpon saya:Dsering jg ga percaya kalo dia sibuk.haha
    Setelah baca ini..ngerti lah saya.thank kaka:)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s