Siapa Sudin?


Beberapa hari yang lalu, menjelang hari Natal, di radio diputar lagu “The First Noel”. Kami yang kebetulan sedang berkumpul di ruang makan otomatis ikut nyanyi beramai-ramai. Ketika lagu berganti, tiba-tiba salah seorang (identitas disamarkan) nyeletuk, “Siapa sih, Noel itu?”

Wahahaha.

Saya jadi ingat ketika beberapa tahun yang lalu, salah seorang yang saya kenal (identitas juga disamarkan) ketika ditanya, “Kepanjangannya polwan apa?” lalu menjawab dengan bangga, “Polisi wanita, dong!” “Terus kalau polri apa?” “Pastilah polisi pria!” dijawab dengan bangga pula.

Wahahahaha.

Lalu ada satu orang lagi (lagi-lagi identitas disamarkan) pernah bertanya pada saya, “Kalau bahasa gaulnya ‘papa’ dan ‘mama’ tuh apa? ‘Pokap’ dan ‘mokap’ ya?”

Wahahahahaha. Untung bukan ‘mokat’.

Meskipun lucu, tapi sebenarnya tidak lucu. Sebenarnya, cukup banyak ketidaktahuan yang bertebaran di kehidupan bermasyarakat sehari-hari, tetapi kita terlalu acuh ataupun malu untuk bertanya karena takut ditertawakan. Kadang, saat menghadapi suatu ketidakjelasan atau ketidaktahuan, kebanyakan orang malah memilih untuk berpura-pura tahu padahal sebenarnya tidak tahu. Ketakutan untuk menjadi ‘berbeda’ dengan golongan ‘mainstream’, sebab yang berbeda selalu dianggap aneh.

Ketika ditanya “Berapa uang kembalian yang diterima Sudin?” berapa orang yang bakal berani bertanya pada guru atau pembuat soal, “Hei, siapa sih, si Sudin ini? Kenapa uang kembaliannya harus diberikan ke Sudin?” Sebaliknya, berapa orang yang memilih untuk cuek terhadap eksistensi Sudin, lalu meneruskan menghitung uang kembalian yang seharusnya diberikan pada Amir atau Budi atau Caca? Mengapa? Sebab secara otomatis kita menganggap bahwa ‘Sudin’ adalah suatu kesalahan ketik ataupun salah soal. Tapi kita tidak peduli. Masa bodoh dengan soal yang keliru, yang penting opsi jawabannya benar.

7b0fb9d085c7f077d3a5defc31fe26d9

Yah, kalau dalam ujian sih saya maklum. Mungkin memang salah ketik. Yang saya khawatirkan ialah pola pemikiran yang tidak mau ambil pusing dengan kejanggalan-kejanggalan mendasar yang ada dalam kehidupan sehari-hari, karena kita terlalu fokus pada perbaikan hasil atau output tanpa mempedulikan apakah input-nya sudah baik atau masih perlu dibenahi. Kata orang bijak, ‘garbage in, garbage out’. Syukur-syukur kalau kita bisa menjadikannya ‘garbage in, gold out’, tetapi kalau masukannya saja sampah dan bisa menghasilkan emas, coba bayangkan bagaimana jika masukannya lebih baik daripada sampah? 🙂

Kata adik saya, “Malu bertanya, sesat di jalan, tapi kalau langsung bertanya, malunya sekarang. Jadi tinggal pilih mau malu sekarang atau malu di kemudian hari.” Wahahahaha.

Kalau saya, sih, mendingan malu sekarang daripada tersesat di kemudian hari. Toh, sehari-hari, sebodoh apapun pertanyaan yang saya lontarkan, nyatanya banyak juga orang yang sebenarnya tidak tahu tapi malu atau takut bertanya. Jadi, hitung-hitung saya membantu menghindarkan mereka dari rasa malu dengan cara menanyakan hal-hal yang sebenarnya ingin mereka tanyakan, tapi belum berani. Toh, ambang batas malu saya terhitung lumayan tinggi dibanding orang kebanyakan. 😀

Seperti cerita “The Emperor’s New Clothes” karya Hans Christian Andersen, saya memilih untuk menjadi si anak kecil yang bertanya, “Kok, sang Raja telanjang (dan bangga pula)?” Kenapa? Soalnya memang dia telanjang. Toh, kalau ternyata si Raja tidak telanjang dan mata sayalah yang salah, dengan bertanya pasti akan ada orang yang berbaik hati menunjukkan cara supaya saya juga dapat melihat pakaian baru sang Raja. There’s nothing wrong with admitting that we don’t know everything, because one man cannot know everything. Knowledge is to share and to help others achieve mutual understanding. Salah seorang om saya bahkan berkata, “The right to ask or question anything should be enlisted as one of the human rights.

Mari membudayakan rasa ingin tahu yang sehat, serta keberanian untuk bertanya dan mengakui keterbatasan pengetahuan, sebab yang berbahaya adalah ketidaktahuan yang disamarkan dengan ke-sok-tahu-an. Semoga kelak kalau Lebaran, tidak akan ada yang bertanya, “Siapa sih, Fitri itu?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s