Perempuan Yang Berdiri di Bawah Hujan


Aku jatuh cinta padamu ketika kau tengah berdiri di tengah-tengah derasnya hujan yang membuat luntur seluruh riasan wajahmu. Aku jatuh cinta padamu ketika kau mendongak menatapku, dengan maskara hitam yang ternyata tidak tahan air, yang kini mengalir membentuk sungai-sungai gelap di kedua pipimu. Aku jatuh cinta padamu – ah, apakah kau menangis? Sebab di tengah derasnya curahan hujan yang menyalahi musim ini, aku tak dapat lagi membedakan antara air hujan dan air matamu, sebab keduanya begitu getir, dan keduanya menyatu di matamu yang gelap.

Aku jatuh cinta padamu ketika hujan melunturkan make-up-mu, membuatmu polos dan telanjang di depan mataku. Aku jatuh cinta padamu sebab kau tak peduli tampak jelek di hadapanku, meskipun aku tahu kau berdandan berjam-jam demi orang lain.

Kau tahu, kan, bagaimana mereka selalu mencela bahwa setiap manusia menggunakan topeng? Tentu kau tahu. Sebab kau perempuan. Dan make-up adalah topengmu. Kau menggambar alis, memoles bedak, melengkungkan maskara, lalu menggincu bibir, agar supaya orang-orang itu melihat kecantikan lahiriahmu dan kemudian mengacuhkan keindahan batiniahmu. Karena sekali mereka memandang pipimu yang merona, mereka takkan ambil pusing apapun yang ada di dalam kepala dan hatimu. Bagi mereka, kau cantik. Dan itu cukup.

Tapi, di sinilah kau sekarang, berdiri di tengah-tengah hujan yang menyalahi musim, menatapku dengan tatapan yang – apakah kau membenciku? Bukankah batasan benci dan cinta itu sedemikian tipis? Ah, entahlah. Yang aku tahu, di sinilah kau sekarang, berdiri di tengah-tengah hujan yang menyalahi musim dan menatapku lekat-lekat tanpa peduli akan riasanmu yang rusak.

Wajahmu kini polos – tidak, kau bahkan tampak jelek dengan sisa-sisa riasan yang tidak tersapu bersih, bagaikan seorang pelukis yang membenci kanvas yang telah separuh digambarinya, lalu memutuskan untuk merusak dan mencoret karya seni setengah jadi itu. Tapi kau cantik. Sebab kau membuka topengmu di hadapanku, dan aku memandangmu melalui mata, menilaimu melalui tatapan, dan mencintaimu melalui ekspresi. Persetan dengan semua tata rias itu. Toh, kita selalu bisa menggambar ulang wajah kita, dan memasang ulang topeng-topeng kita.

Dan di sinilah kau, basah, dingin, gemetar karena – kuharap karena kau rindu padaku, telanjang bukan fisik melainkan jiwa. Pada akhirnya, takkan ada seorang pun yang peduli apakah kau telanjang secara fisik, sebab orang hanya bisa mencintai dan dicintai apabila jiwanya dalam keadaan telanjang, di hadapan orang yang dicintai dan mencintainya. Bukankah manusia pun lahir dan mati dalam keadaan telanjang? Ketika si bayi keluar dari rahim ibunya, manusia-manusia dewasa membungkus tubuhnya, sebab kata mereka telanjang itu tidak baik. Dan ketika jenazah si bayi yang telah tumbuh dewasa lalu tua dan mati akan dilahatkan, bukankah mereka pun membungkus tubuhnya, sebab kata mereka telanjang itu tidak baik? Padahal mereka berkata, dari abu kembali menjadi abu, dari debu kembali menjadi debu. Demikianlah maka aku memilih untuk dikremasi jika mati nanti.

Apa hubungannya, katamu? Tentu saja ada hubungannya. Sebab kini kau berdiri telanjang di hadapanku, di bawah derasnya hujan yang menyalahi musim, meskipun pakaianmu berlapis-lapis, mulai dari pakaian dalam, kaus, celana panjang, dan jaket penghangat yang ironisnya kini malah basah dan mendinginkan. Kau berdiri telanjang di hadapanku, sebab kau telah melepas semua topeng riasanmu untuk mengekspos bagian dirimu yang sebelumnya kau sembunyikan dari orang lain, yakni hati dan jiwamu.

Pada saat itulah aku jatuh cinta padamu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s