Err… Mau Nonton Ga Sih?


Semua ini bermula ketika saya memergoki anu saya (identitas disamarkan) sedang menonton suatu acara bincang-bincang yang mendatangkan Syahroni (nama disamarkan) sebagai bintang tamu.

Anu     :   Ih, si Syahroni ini jabe (genit) sekali ya. Coba lihat tuh gayanya.
Saya    :   Trus kenapa ditonton?
Anu     :   Mau dengar dia bilang apa.

Beberapa saat kemudian:

Anu     :   Ih, lihat tuh gayanya, menjengkelkan sekali.
Saya    :   Ya sudah, ganti saja channel-nya.
Anu     :   Tapi kan penasaran…

Err… Mau nonton ga sih? Kalau mau lantas kenapa mengeluh?

Kadangkala kita memang menikmati dibuat jengkel oleh orang lain. Kemudian, alih-alih menjauhi sumber pembuat stres itu, kita malah semakin asyik mendekati si sumber stres lalu ujung-ujungnya mengeluh sendiri, jengkel sendiri, menyalahkan pihak tertentu atas penderitaan yang kita alami. Padahal, kita sendiri yang tidak mau berhenti menikmati ‘kesakitan’ tersebut. Masochist enough?

What I’m trying to say is, if you’re facing a problem which makes you stressed, you have two options: face it without whining, or leave it without any regret – karena tinggal meratapi persoalan namun tidak berbuat apa-apa sama saja dengan bikin susah diri sendiri dan cari masalah. Masalah kok dicari. If you want to stay, you’ve got to face it. If you don’t want to stay, simply drop it. Ketimbang berkeras berkutat dengan sumber stres namun akhirnya menyalahkan orang lain, mending dilepas saja. Jangan terlalu terikat (keterikatan/attachment) pada persoalan.

Kita seringkali menikmati menempatkan diri pada posisi sebagai korban, baik itu sebagai korban perbuatan orang lain maupun korban situasi atau takdir. Mengapa? Entah. Mungkin kita menikmati curahan simpati dari orang lain, atau kita keseringan menonton sinetron di mana pihak yang menderita pasti selalu orang baik dan pasti akan berbahagia di akhir cerita. Kemudian kita akan bangga memamerkan diri sebagai ‘korban’ dan mengulang-ulang kisah nelangsa kita di hadapan orang lain, juga dengan alasan yang sama.

Most of successful people I’ve ever met rarely spent their time whining and complaining – they face and solve their problems without having to brag about it. We won’t even know about their earlier failures if we don’t ask them about it, or if they don’t want to share about it.

Kita merasa jengkel karena kita memilih untuk merasa jengkel. Kita stres karena kita memilih untuk merasa stres. Kita menderita karena kita memilih untuk merasa menderita. Kenapa? Karena kadangkala kita suka merasa jengkel. Karena kadangkala kita suka merasa stres. Dan karena kadangkala kita suka merasa menderita. Lalu sebagai kompensasinya, karena kita tahu bahwa sebenarnya kita bisa saja memilih untuk tidak merasa jengkel, tidak merasa stres, atau tidak merasa menderita, namun toh kita tetap memilih untuk melakukan sebaliknya, kita lalu menyalahkan pihak lain untuk membenarkan diri sendiri. Kenapa? Saya tidak tahu.

Jadi ya gitu. Whatever happens in our life, we’ve got to take full responsibility. It is not right to blame it on god(s), fate, or other people, because it means we’re still in denial and it will prolong our time to get to the real problem. Stop running in circles and face the truth. Stop blaming anyone and take responsibility of our life. Stop complaining and start working.

 

Moral of the story: if the TV show sucks, simply switch the channel or turn it off. Save the energy and save the exasperation. Life is simply a matter of how we look at it. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s