Makanan, Woy!


Beberapa hari yang lalu sempat ngobrol dengan mama saya, tentang salah seorang kenalannya yang merupakan salah satu pembuat kue terkenal di Makassar. Jadi ceritanya waktu itu mama saya berkunjung ke rumahnya, dan di sana kebetulan sedang banyak siswi-siswi SMK yang sedang magang untuk belajar membuat kue pada si empunya rumah. Siswi-siswi yang berjumlah beberapa orang itu diberi jatah makan siang berupa makanan rantangan.

Singkat cerita, setelah selesai jam istirahat (dan makan) siang, si nyonya rumah lalu masuk ke dapur dan mendapati ada siswi yang menyisakan makanan di rantangannya (yang akhirnya dibuang). Katanya, beliau langsung marah dan menegur si siswi. Kata-katanya kurang lebih begini, “Jangan mentang-mentang karena sayur itu lebih murah jadi kamu bisa buang seenaknya ya. Saya yang capek-capek ke pasar buat beli, angkat sayurnya. Kalau memang ga mau makan sayur, bilang dari awal supaya ga dikasih sayur dalam rantanganmu. Apa susahnya bilang ga mau sayur? Supaya bagianmu bisa dikasih ke orang lain yang mau makan sayur lebih.” Akhirnya bagaimana? Kata mama saya sih, sejak saat itu ga ada siswinya yang berani menyisakan makanan lagi. Hahaha.

Apa kata-katanya galak? Apa reaksinya lebay? Bodo amat. Soalnya kata-katanya memang benar. Toh ini bukan masalah uang atau harga semata, namun lebih ke bagaimana kita menghargai hal-hal yang biasanya lupa kita hargai—salah satunya makanan. Saya sering melihat orang-orang yang selalu mengambil makanan lebih ke atas piringnya, untuk kemudian disisakan belakangan. Ujung-ujungnya, makanannya dibuang. Paling sering kejadian seperti ini terutama saat pesta/kondangan yang makanannya disajikan secara prasmanan. Kalau ditegur, biasanya bilang, “Tapi sudah kenyang…” lantas yang suruh ambil makanan kebanyakan itu siapa? Kalap kok dipiara. Takut kehabisan? Masih jauh lebih banyak sesama kita di luar sana yang ‘takut tidak bisa makan hari ini’ dibanding cuma ‘takut kehabisan makanan’. Belajarlah untuk berbagi.

Kemudian ada juga orang yang mengambil makanan berlebih, lalu disisakan. Ketika ditegur, malah balik mendamprat, “Ya udah kalau kamu ga rela makanannya saya buang, kamu makan saja.” I cannot even think of a sarcastic comeback for people like this.

Oke. Kemudian ada yang mengomentari, “Lah itu kan kalau prasmanan alias ambil sendiri. Kalau bukan kita yang ambil sendiri gimana?” Kalau bukan kita, ya apa susahnya bilang ke yang mengambilkan porsi makanan? Misalnya ke pelayan yang mencatat pesanan kita, “Mas/Mbak, nanti nasi gorengnya ga usah pakai timun ya,” atau ke abang penjual bakso, “Mas, nanti ga usah dikasih potongan jeruk nipis, soalnya saya ga makan jeruk,” atau “Mbak, nanti ga usah pake whipped cream ya.” Apa susahnya sih bilang begitu? Takut rugi karena harganya tetap sama? Jadi mending buang makanan karena ga rela rugi? Apanya yang untung kalau ujung-ujungnya dibuang atau malah jadi tidak sehat? Tentang ini, sudah pernah saya tulis di Tanpa Keju: The Cherry on the Top.

Dulu, pernah ada teman yang bilang, katanya kalau makanan dihabiskan sampai piring kita betul-betul licin alias kosong, bisa-bisa rezeki kita juga bakalan ‘kosong’. Biasalah, kepercayaan orang-orang tua zaman dulu. Tentang itu, mama saya cuma bilang, “Wah, tidak tahu ya kalau dikaitkan dengan rezeki. Yang jelas, kalau tiap kali makan kamu menyisakan beberapa butir nasi, dalam sebulan kamu mungkin sudah membuang beberapa sendok nasi, dan dalam setahun, kamu mungkin sudah membuang sepiring nasi. Soal rezeki itu belum pasti, tapi soal membuang nasi, itu sudah pasti.”

Hargailah makanan sebagaimana kamu ingin dihargai. #eh

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s