Lupa Kacang Akan Kulitnya


Ada berbagai versi untuk peribahasa ini, antara lain “Bagai kacang lupa akan kulitnya”, “Kacang lupa akan kulitnya”, “Lupa kacang akan kulitnya”, namun saya sendiri lebih senang menggunakan susunan kata yang ketiga. Anggap saja karena lebih enak didengar.

Menurut Wikiquote bahasa Indonesia dan www.peribahasaindonesia.com, peribahasa tersebut kurang lebih berarti “seseorang yang menjadi sombong dan melupakan asal-usulnya” alias “lupa daratan”.

Oke. Peribahasa tersebut bagus. Kita memang sebaiknya tidak menjadi sombong ketika sudah mencapai kondisi yang lebih baik dibanding kondisi sebelumnya. Hanya saja begini, jangan sampai kita menjadi kacang yang enggan meninggalkan kulitnya karena enggan dibilang sombong.

Pada dasarnya, kacang memang harus meninggalkan kulitnya agar si kacang bisa mengeksplorasi potensi-potensinya. Kacang yang tetap tinggal dalam kulitnya palingan hanya bisa berubah menjadi kacang panggang atau kacang rebus, atau paling hebat ya jadi kacang kulit isi dalam kemasan instan. Di sisi lain, kacang yang ‘rela’ meninggalkan kulitnya berpotensi menjadi berbagai jenis makanan lain, mulai dari kacang kupas, selai kacang, bumbu gado-gado, taburan kue kering/basah, topping es krim dan donat, sup kacang, dan lain sebagainya. Bayangkan seandainya semua kacang tidak mau meninggalkan kulitnya dengan alasan keamanan dan kenyamanan, mungkin lidah kita takkan seberuntung seperti sekarang ini.

Wahai teman-teman sesama kacang, benar kata pepatah bahwa jangan sampai kita melupakan asal-usul kita dan menjadi lupa daratan ketika sudah lebih sukses dibanding sebelumnya, namun jangan juga selamanya berlindung di balik dinding kacang yang aman dan tidak mau berjuang mengembangkan/memaksimalkan potensi pribadi kita hanya karena takut menghadapi perubahan. Kulit kacang itu penting sebagaimana tiram penting untuk pembentukan mutiara, tapi toh jika saatnya tiba, kacang maupun mutiara harus keluar dari kulit/cangkangnya supaya bisa lebih berguna bagi orang banyak. Salam selai kacang!


Berikut cuplikan tweets saya pada tanggal 8 Desember 2014 sehubungan kacang:

  • Peribahasa “lupa kacang akan kulitnya” seharusnya bermakna orang yang “melupakan” asal-usulnya, misalnya seperti OKB yang sombong.
  • Entah kenapa peribahasa tersebut jadi sering digunakan dalam konteks seperti: “Kamu sudah berubah! Lupa kacang akan kulitnya!”
  • Kacang, kalau tidak menanggalkan kulitnya, palingan jadi kacang panggang atau kacang rebus.
  • Tapi dengan melepas kulit, potensinya jadi banyak. Kue kacang, kacang goreng, cokelat berkacang, selai kacang, kacang telur, dsb dsb.
  • Bukannya meremehkan kacang panggang/rebus, ini cuma ditinjau dari jumlah potensi yang tersedia.
  • Dulu sempat cerita-cerita dengan mama saya; saya tanya “Kenapa harus kacang? Kenapa bukan ‘lupa mutiara akan tiramnya’?”
  • Dijawab, “Karena kacang lebih umum. Kalau pake tiram, belum tentu semua orang bisa langsung ngerti.” :v
  • “Kacang” ga perlu selalu membawa-bawa “kulit”-nya ke mana-mana supaya ga dicap “ga tau terima kasih”. Toh isi hati manusia siapa yang tahu.. 🙂
  • Lagian kulit kacang memang fungsinya cuma sebelum kacang dikonsumsi. Kacang panggang/rebus pun selalu dikupas sebelum dimakan.
  • Pada akhirnya, kacang memang harus menanggalkan kulitnya agar dapat bermanfaat bagi makhluk lain.

Sekian dan terima kasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s