Jejak Duniawi


d32793be4b51ebfa12fea6c7a442497c

Selama ini kita terlalu terpaku pada ilusi akan adanya suatu ‘jalan’, misalnya dengan adanya ungkapan-ungkapan seperti “Banyak jalan menuju Roma” (“All roads lead to Rome”) dan “Kembalilah ke jalan yang benar”, sehingga kita otomatis menganggap bahwa—meskipun beberapa di antara kita mengakui bahwa bisa saja semua jalan itu membawa kita pada satu tujuan yang sama—kita perlu untuk menempuh salah satu ‘jalan’ untuk mencapai tujuan akhir itu. Ilusi akan adanya ‘jalan’ seolah-olah menempatkan suatu gambaran akan adanya setapak untuk dijalani, di mana jika kita melangkah keluar dari jalan tersebut, maka kita akan tersesat atau takkan pernah sampai ke tujuan.

Namun, perlukah ada ‘jalan’? Ilusi ‘jalan’ menggambarkan bahwa ada lebih dari satu jalan (sebab tidak semua orang menempuh ‘jalan’ yang sama), dan jalan-jalan tersebut semuanya terpisah satu sama lain, meskipun kadang-kadang mereka saling berpotongan di sana sini.

Perlukah ada ‘jalan’? Adanya ‘jalan’ secara tidak langsung menganggap bahwa ada yang ‘bukan jalan’. Lantas, adakah orang yang berjalan di yang ‘bukan jalan’? Jika ada, apakah mereka kemudian takkan pernah bisa mencapai tujuan yang mereka kehendaki?

Baru-baru ini saya berpikir (tepatnya setelah menonton film “PK”), bagaimana seandainya ungkapan ‘jalan’ itu hanyalah sebuah metafora yang sebaiknya tidak perlu diterjemahkan mentah-mentah? Bagaimana seandainya ungkapan ‘jalan’ itu tidak perlu dibayangkan sebagai suatu jalan secara fisik, di mana ada suatu jalur yang bebas dari belukar dan semak-semak, sehingga tampak jelas ada daerah kosong yang aman untuk dijalani? Lalu, bagaimana kita harus memaknai ‘jalan’?

Mungkin, kita perlu memaknai ‘jalan’ sebagai suatu ‘pendekatan’ (approach), sehingga setiap orang bebas untuk menggunakan pendekatannya sendiri, tanpa perlu terpaku pada peraturan-peraturan kaku yang sifatnya justru lebih duniawi, sebab bukankah perjalanan spiritual memang perlu dijalani secara pribadi oleh masing-masing orang?

Banyak orang yang menggunakan pendekatan non-ortodoks untuk menempuh perjalanan spiritualnya. Kebanyakan menggunakan pendekatan agama, namun tidak sedikit yang menggunakan pendekatan saintifik, pendekatan filosofis, pendekatan kemanusiaan, pendekatan seni, ataupun kombinasi dari beberapa pendekatan. Selama ini, ungkapan ‘jalan’ kebanyakan dimonopoli oleh kaum beragama, sehingga seolah-olah semua yang tidak menggunakan pendekatan agama untuk mencapai kepuasan spiritual adalah sesat. Maka ketika penyair Rumi menuliskan, “Finally, I looked into my own heart and there I saw Him; He was nowhere else,” banyak yang kemudian menganggapnya sesat. Demikian pula ketika Einstein mengungkapkan keyakinannya akan suatu “agama kosmik”.

Bagaimanapun, secara historik, agama adalah hasil dari perkembangan kebudayaan manusia, yang dibentuk sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan masyarakat pada saat tertentu, sehingga dapat kita lihat bahwa agama-agama zaman dulu, yang sudah dianggap tidak relevan dengan perkembangan kehidupan manusia saat ini, sekarang cukup disebut sebagai ‘mitos’. Namun, apakah itu berarti bahwa pencapaian spiritual manusia zaman dahulu adalah lebih kurang nilainya dibandingkan dengan pencapaian spiritual manusia yang menganut agama modern, alias agama yang masih diakui hingga saat ini? Belum tentu, sebab sekali lagi, perjalanan spiritual adalah sesuatu yang sifatnya pribadi dan internal.

Analogi yang paling mendekati hal ini ialah perumpamaan mengenai enam orang buta dan seekor gajah (“The Blind Men and An Elephant”—John Godfrey Saxe I), di mana setiap orang buta menggunakan ‘pendekatan’-nya masing-masing untuk memaknai sang gajah, di mana pendekatan tersebut sifatnya begitu personal dan begitu terbatas, sehingga akan sangat sulit untuk memberikan gambaran yang tepat tentang si gajah secara keseluruhan. Jika kita terapkan pada perkembangan kehidupan spiritual di zaman modern ini, dapat kita lihat bahwa masing-masing orang buta menggambarkan masing-masing pendekatan untuk menempuh kehidupan spiritualnya, baik pendekatan agama, saintifik, seni, filosofis, dan lain-lain. Hal ini berarti bahwa masing-masing pendekatan memiliki nilai kebenaran di dalamnya, namun itu tidak berarti bahwa kita berhak untuk menilai pendekatan lain sebagai salah, hanya karena kita berbeda.

BlindMenElephant_720Sumber: www.simoncamilleri.com

Menurut saya, seseorang tidak perlu mempertanyakan pendekatan orang lain, maupun menantang seseorang untuk ‘membuktikan’ pendekatannya, sebab pendekatan yang digunakan jelas berbeda. Menantang seseorang untuk membuktikan imannya secara saintifik, misalnya, bukankah tidak jauh berbeda dengan mengecilkan sains atas landasan iman? Iman, atau keyakinan, atau logika, atau apapun namanya, adalah urusan masing-masing pribadi. Menggunakan pendekatan yang satu untuk membuktikan pendekatan yang lain jelas tidak akan ada ujungnya. Oleh sebab itulah, saya menjunjung tinggi kebebasan berkeyakinan dan pluralisme spiritual. Seperti dituliskan Evelyn Hall dalam biografi Voltaire, “I disapprove of what you say, but I will defend to the death your right to say it.” Sebab, saya hanyalah seorang buta di antara orang-orang buta lainnya.

Mungkin selama ini saya keliru. Mungkin selama ini kita keliru. Mungkin itulah sebabnya mengapa selama ini peta-peta kita, kompas-kompas kita, petunjuk-petunjuk kita tidak pernah mencapai suatu kesamaan. Mungkin, karena sejak awal, peta-peta itu, kompas-kompas itu, petunjuk-petunjuk itu, tidak pernah diciptakan untuk digunakan secara saling terpisah. Mungkin tiap-tiap pendekatan itu adalah kepingan-kepingan puzzle yang saling terpisah, dan untuk menyatukannya diperlukan analisis dan pola berpikir yang kritis, sebab akan ada banyak potongan-potongan yang bisa saling cocok jika dipaksakan. Apa yang kita butuhkan ialah potongan-potongan yang bisa saling cocok tanpa memerlukan paksaan, mereka akan saling mengisi tempatnya masing-masing dengan mulus dan indah, sebab memang demikianlah mereka diciptakan untuk mewujudkan suatu hasil akhir puzzle yang lengkap, yang akhirnya akan menjelaskan mengenai gambar apa yang sebenarnya kita coba susun selama ini.

Perjalanan spiritual adalah perjalanan pribadi yang sifatnya dinamis, sebab tujuan akhir itu, yang di zaman sekarang ini kita sebut sebagai ‘Tuhan’, pun bukanlah sesuatu yang dinamis seperti gajah. Konsep ‘Tuhan’ akan senantiasa mengalami perkembangan, sebab itulah pertanda bahwa kehidupan spiritual kita pun ikut berkembang. Saat kita berhenti memaknai Tuhan, atau saat kita menerima mentah-mentah konsep Tuhan tanpa melakukan perjalanan pribadi ke dalam diri kita sendiri, maka saat itulah Tuhan mati.

I am not a religious person—I’m even far from it. Saya tidak pernah tertarik untuk mendefinisikan ‘Yang Belum Terdefinisi’, sebab mencoba untuk mendefinisikan sesuatu berarti membatasi sesuatu itu sebatas kata-kata. Perjalanan spiritual saya, adalah perjalanan pribadi yang terus berkembang, dan entah apa yang berada di ujung jalan ini, sebab seperti dikatakan oleh Alexandra K. Trenfor, “The best teachers are those who show you where to look, but don’t tell you what to see.” Perjalanan spiritual adalah sebuah perjalanan di mana jarak dan waktu tak lagi memiliki arti, sebab saya percaya, perjalanan spiritual sejatinya takkan pernah berakhir.

Saya akan menutup tulisan ini dengan sebuah frase dari film “PK”, “Finding God, that’s religion. Found God, that’s news.” Sebab sesungguhnya, hal yang paling berharga dari sebuah perjalanan spiritual adalah perjalanan itu sendiri.

Do not go where the path may lead, go instead where there is no path and leave a trail.
—Ralph Waldo Emerson


N.B. Jika Anda belum menonton film “PK”, saya sangat merekomendasikan Anda untuk menontonnya.

Advertisements

2 thoughts on “Jejak Duniawi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s