Yang Tersayang, (Sesama) Pengguna Media Sosial


Di era modern ini, kita mem-post segala sesuatunya di media sosial—dan maksud saya, semuanya: aktivitas, pikiran dan ide, kondisi emosional dan perasaan, lokasi keberadaan, barang baru, makanan, alamat dan telepon, pekerjaan dan pendidikan, kantor dan sekolah, hubungan-hubungan sosial, lingkungan pertemanan, hobi dan gaya hidup, selera dan kebiasaan, dan bahkan riwayat masa lalu maupun rencana masa depan. Singkatnya, semua hal yang dulunya bersifat pribadi, kini dapat diakses oleh publik melalui akun media sosial kita. Kita mengunggah foto-foto terbaru, foto keluarga dan teman, binatang peliharaan, bahkan foto barang-barang pribadi.

Saya bersyukur bahwa semasa saya masih ababil dulu, yang namanya media sosial belum sepopuler sekarang. Ketika itu, palingan hanya ada Friendster, itupun zaman saya sudah SMP-SMA. Kalau melihat tren media sosial di kalangan anak-anak dan remaja saat ini, seringkali saya merasa sedih sekaligus bersyukur. Sedih sebab saya merasa miris dengan perkembangan teknologi yang tidak diimbangi dengan perkembangan kesiapan pribadi (mental dan moral) terhadap perkembangan teknologi itu. Bersyukur karena masa-masa ababil saya yang memalukan tidak akan meninggalkan jejak di dunia maya dibandingkan dengan kalau saya labilnya sekarang, misalnya.

Ada beberapa hal yang cukup mengganggu saya sehubungan dengan penggunaan media sosial yang menurut saya kurang hati-hati. Salah satunya ialah menarik simpati melalui media sosial. Contohnya, mengunggah foto korban/pasien tidak dikenal ataupun foto kenalan sendiri yang sedang sakit/meninggal disertai komentar “Cepat sembuh ya…” maupun “Like = doa, comment = 1000 doa”. Dafuq!? Saya tidak akan berkomentar seandainya foto tersebut dimaksudkan untuk memberi semangat atau sejenisnya, dengan syarat ada izin/sepengetahuan (untuk mengunggah foto tersebut) orang yang difoto. Masalahnya, kebanyakan foto-foto seperti itu merupakan foto candid dan sengaja diatur sedemikian rupa sehingga menampilkan posisi/kondisi paling mengenaskan dari si pasien/korban. Sebenarnya tujuannya untuk mendoakan kesembuhan pasien atau untuk mendapat like dan comment yang banyak pada akun media sosial Anda? Please stop being a hypo. Kalau Anda memang berniat tulus, berdoalah atau menyumbanglah tanpa perlu diketahui oleh media sosial Anda. Jika Anda ingin mengabarkan atau mengajak teman-teman Anda untuk mengunjungi maupun mendoakan si sakit, pergunakanlah fasilitas yang mereka namakan dengan private chat maupun direct message. Tahukah Anda, bahwa dalam pendidikan kedokteran, adalah sangat disarankan untuk menyamarkan identitas pasien (wajah, nama, dll) jika kasusnya akan digunakan untuk kepentingan pendidikan maupun penelitian? Alasannya adalah untuk menghargai privasi pasien. Kalau untuk tujuan perkembangan pendidikan saja identitasnya harus disamarkan, lantas apakah untuk tujuan mencari simpati maka identitasnya tidak perlu disamarkan? Di situ kadang saya merasa sedih…

Hal lain sehubungan pemanfaatan media sosial yang kurang hati-hati ialah menyebarkan data-data dan informasi pribadi ke dunia maya, apalagi jika lingkaran pertemanannya sudah tidak jelas. Tidak jelas maksudnya adalah memiliki akun yang tidak dibatasi oleh privasi (alias bersifat publik dan dapat diakses oleh semua orang dengan mudah), atau akunnya privat namun kebanyakan teman-teman dunia mayanya justru tidak dikenal. Saya sih tidak peduli jika yang disebar adalah data-data maupun informasi pribadi si empunya akun, namun jika yang disebarkan adalah data-data dan informasi pribadi orang lain, maka saya menganggap bahwa si empunya akun telah melanggar hak asasi dan privasi dari orang yang disebarkan datanya tersebut. Data-data ini contohnya nama lengkap, alamat, nomor telepon/HP, status sosial/pekerjaan/pernikahan, lokasi keberadaan sekarang, foto, dan lain-lain. Tidak semua orang mau fotonya diunggah sembarangan ke dunia maya. Tidak semua orang ingin lokasi keberadaannya sekarang dipublikasikan ke orang-orang yang belum tentu ia kenal.

Saya pertama menyadari hal ini ketika beberapa tahun yang lalu sempat berfoto bersama dengan salah seorang sanak yang kebetulan adalah bule. Waktu itu dengan sopan ia meminta agar foto kami bersama tidak diunggah ke media sosial. Saat itu, saya masih bertanya, “Mengapa?” namun sekarang saya paham. Jika saya menanyakan pertanyaan yang sama pada diri saya, apakah saya mau data-data pribadi saya diunggah oleh orang lain ke akun media sosial mereka? Belum tentu. Mengapa? Sebab orang itu tentunya memiliki lingkaran pertemanan yang berbeda dengan saya. Seringkali cyber crime terjadi melalui ‘friends of friends’, di mana ‘friends of friends’ itu tentunya memiliki friends yang lain lagi. Oleh karena itu, saya membatasi diri untuk tidak menyebar data orang lain tanpa meminta izin, ataupun mengunggah atau men-tag seseorang di foto bersama tanpa sepengetahuannya. Repot? Iya. Namun saya berprinsip bahwa di zaman sekarang, orang-orang yang menyetujui untuk foto bersama sudah menyadari kemungkinan foto tersebut akan diunggah ke media sosial, kecuali jika orang tersebut meminta sebaliknya. Jadi, menurut saya, selama orang tersebut sadar bahwa dirinya sedang difoto (bukan candid), boleh-boleh sajalah mengunggah fotonya. Kalau mau lebih aman, sebaiknya tanyakan langsung alias minta izin pada orang yang bersangkutan.

Yang jadi masalah adalah foto anak. Saya sangat memahami bahwa semua orangtua tentunya bangga dan ingin memamerkan perkembangan kelucuan anak mereka, namun setelah membawa beberapa artikel mengenai cyber crime di mana korbannya adalah anak-anak, saya jadi ngeri sendiri. Ada beberapa tips yang diberikan dalam artikel-artikel serupa, antara lain dengan mengatur privasi dari album foto yang memuat foto anak Anda agar hanya dapat dilihat oleh orang-orang tertentu yang Anda pilih sendiri. Hal lain yang menarik ialah beberapa orangtua mengatakan mereka tidak mengunggah foto anak-anak mereka ke ruang publik dengan alasan bahwa mereka menghargai hak dan privasi anak mereka. Mungkin sekarang mereka tidak akan protes, namun apakah Anda dapat membayangkan saat mereka tumbuh besar nanti dan mendapati foto-foto semasa kecil mereka, yang notabene merupakan informasi pribadi mereka, ternyata telah tersebar luas di akun-akun media sosial orangtua mereka? Belum tentu semua orang menginginkan hal tersebut. Coba Anda tanyakan pada diri sendiri, apakah Anda oke-oke saja kalau ternyata orangtua Anda telah menyebarkan foto-foto maupun informasi pribadi Anda ke orang-orang yang tidak Anda kenal, bahkan sebelum Anda mengerti apa itu media sosial? Saya sih mungkin akan keberatan, apalagi kalau yang mengunggah dan menyebar foto tersebut adalah bukan orangtua saya sendiri. Mungkin saya memang paranoid. 🙂

Not All Parents Post Photos Of Their Babies On Facebook

Does sharing photos of your children on Facebook put them at risk?

Hal lain adalah pengguna media sosial yang masih berusia kanak-kanak. Dengan sedih saya mendapati bahwa kebanyakan anak yang memiliki akun media sosial sama sekali tidak dibekali pengetahuan mengenai kemungkinan terjadinya cyber crime. Melihat anak-anak SD yang hobinya swafoto, kemudian menganggap media sosial sebagai diari tempat curhat masalah-masalah pribadi (dan bukannya curhat ke orangtua atau teman), saya jadi merasa ragu, apakah perkembangan ini layak disebut perkembangan. Kita membangun kebudayaan pamer dan superfisial, kita mengajar generasi muda bahwa kualitas seseorang cukup dengan mudah dinilai dari isi media sosialnya. Layakkah ini disebut sebagai kemajuan zaman?

Di era media sosial seperti sekarang, segala tindakan dan perbuatan kita akan terekam dalam akun media sosial kita. Saya pernah bercanda bahwa kita bisa saja menyusun profil psikologis seseorang hanya berdasarkan analisis terhadap isi akun media sosialnya. Semua yang kita unggah akan meninggalkan jejak di dunia maya, meskipun data itu telah kita hapus dari akun kita. Pertanyaannya adalah, seberapa banyak dari unggahan-unggahan tersebut, yang jika ditemukan oleh anak cucu kita di kemudian hari, yang akan membuat mereka bangga, dan seberapa banyak yang justru akan membuat mereka kecewa pada kita? Dan lebih penting lagi, apakah diri kita di masa yang akan mendatang akan merasa senang atau justru menyesal seandainya mereka memutuskan untuk men-scroll isi linimasa mereka dan sampai pada apa yang kita unggah pada waktu kehidupan kita yang sekarang?

“Your child will follow your example, not your advice.”
—@FamousWomen on Twitter

CBOulQ8XIAAjxdy

Sebegitu pentingkah membangun citra kehidupan pribadi yang bahagia melalui akun media sosial, menunjukkan bahwa kejadian-kejadian dalam hidup kita sehari-hari ternyata cukup sempurna untuk dipamerkan ke ruang publik? Perlukah kita mengunggah segala macam ‘pembuktian’ ke ruang publik agar orang lain (dan kita sendiri) yakin bahwa hidup kita memang bahagia? Ketika citra elektronik kemudian menjadi krusial, dan praduga dari masyarakat dirasa perlu untuk dibuktikan (ataupun dilawan) menggunakan pencitraan di media sosial, maka kemudian beberapa orang memilih untuk membuat akun media sosial alternatif yang sifatnya anonim.

Tanpa kita sadari, media sosial menyebabkan kita menjadi fokus pada bagaimana orang lain menilai kita dari luar, ketimbang bagaimana sebenarnya diri kita di dalam. Lantas, kita sibuk memoles tampilan luar (baca: profil media sosial) dan berharap pribadi internal kita ketularan membaik karenanya—padahal harusnya sebaliknya.

Pertanyaannya sederhana: jika bukan di media sosial, akankah kita tetap berkata dan berbuat sebagaimana yang kita (pilih untuk kita) tampilkan di media sosial kita? Atau, apakah kita memang se-nyata dan sesempurna apa yang ditampilkan oleh media sosial kita?

Saya jadi merasa ingin melakukan introspeksi diri dan akun media sosial saya…

Advertisements

4 thoughts on “Yang Tersayang, (Sesama) Pengguna Media Sosial

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s