Plis, Jangan Kampungan


Dua jenis manusia yang paling tidak saya sukai adalah jenis orang-orang yang tidak mau mengantre, dan jenis orang-orang yang membuang sampah sembarangan.

Setiap kali saya kembali ke Makassar setelah bepergian ke luar Makassar, satu hal yang paling cepat menyadarkan saya bahwa saya telah kembali ke Makassar adalah kebiasaan orang-orangnya yang enggan mengantre. Setiap kali masuk ke toilet umum di bandara (setelah pulang dari bepergian), saya selalu dibuat jengkel gara-gara hal ini. Demikian pula halnya dengan toilet umum di tempat umum lainnya seperti di mal, bioskop, dan sebagainya.

Saya ingat, ketika berlibur ke salah satu kota yang bukan Makassar, saya merasa terpesona saat masuk ke toilet umum dan melihat orang-orang antre mulai dari pintu masuk toilet. Di Makassar, kami akan bergerombol masuk toilet lalu mengantre langsung di depan pintu kubikel-kubikel WC, jadi urutan giliran buang hajatnya tergantung seberapa cepat orang di kubikel di hadapan Anda keluar, bukannya dari urutan masuk toilet. Waktu itu, saya merasa kampungan. Sungguh.

Saya tinggal di Makassar. Saya lahir dan besar di Makassar, dan saya dengan malu hati mengakui, bahwa kami di Makassar memang terhitung kurang berbudaya untuk urusan antre-mengantre. Apakah kemudian saya dikatakan mempermalukan orang Makassar? Menurut saya tidak, sebab memang demikian kenyataannya. Kenyataannya, setelah melihat kota-kota lain, negara-negara lain yang penduduknya dengan kesadaran sendiri mengantre, toh saya merasa malu dan kampungan. Menurut saya, tidak peduli sesenior, sepintar, secantik/gagah, sekaya, semodern apapun Anda, kalau tidak punya budaya antre, ya tetap saja kampungan. Maaf saja, tapi sekampungan-kampungannya saya, toh saya berniat untuk membudayakan antre mulai dari diri sendiri.

Awal-awalnya jika antrean saya diserobot, saya biarkan saja, lalu kedongkolan itu saya pendam dalam hati. Namun belakangan ini saya mencoba uji nyali dengan sesekali menegur orang-orang yang tidak mau antre. Paling sering ya di toilet umum. Pernah juga di antrean check-in bandara. Tidak peduli orangnya siapa, saya sapa baik-baik dan saya suruh untuk antre. Seringkali, jika saya tegur, mereka akan memasang tampang bloon dan pura-pura bodoh, seperti orang yang tidak tahu kata ‘antre’ itu artinya apa, atau pura-pura gila. Pernah suatu kali saya menegur seorang ibu-ibu yang memotong antrean check-in di bandara, saya bilang, “Maaf Bu, antrenya dari belakang,” dijawab “Iya, tapi barang saya cuma satu.” Lalu si ibu yang kurang berbudaya ini segera membalikkan badan sambil terus nyerocos “Barang saya cuma sedikit kok, pasti cepat ini…” dan dia langsung maju ke counter check-in.

BODO AMAT BARANGMU CUMA SATU. BODO AMAT PIPISMU CEPAT. Intinya bukan di situ. Dasar orang-orang tukang ngeles. Intinya adalah setiap orang harus mengantre sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap orang-orang yang sudah lebih dulu datang daripada dirinya. Anda tidak bisa memakai alasan tolol macam begitu untuk menyerobot antrean. Kalau memang kebelet, minta izinlah dengan sopan pada orang yang ingin Anda minta kerelaannya untuk diserobot; dan ingat bahwa mereka tidak berkewajiban untuk merelakan gilirannya diserobot, apapun alasannya. Jika ada orang yang rela dan mengizinkan gilirannya diserobot oleh Anda, itu semata-mata karena kebaikan hati dia, bukan karena Anda lebih butuh atau lebih penting atau “cepat, kok”. Toh, setiap orang yang masuk toilet umum pasti memiliki hasrat ingin buang hajat yang sama dengan Anda—intensitasnya saja yang beda.

Karena pada dasarnya saya tidak punya hati, maka jika saya menegur orang-orang demikian, suara saya sengaja saya keraskan, supaya orang-orang di sekitar ikut mendengar dan ikut tahu bahwa si orang tersebut menyerobot antrean. Dan karena tidak ada seorangpun yang simpatik pada orang yang tidak mengantre, maka biasanya saya ikut dibantu oleh orang lain. Biasanya, karena orang-orang yang menyerobot antrean tersebut memang agak minim di bagian etika dan budaya, mereka tidak bakal peduli dan cuek saja, tetap di posisi yang diserobotnya dari orang lain. Saya sih tidak peduli; yang penting sudah saya tegur, yang penting mereka tahu bahwa tindakannya itu tidak beretika dan suatu saat akan ada orang yang berani menegur mereka karena kekurangan etikanya itu. Menegur orang-orang yang tidak mengantre bukan untuk menyadarkan mereka bahwa tindakannya itu salah—pada umumnya mereka sudah tahu bahwa tindakannya itu salah; mereka hanya tidak peduli dan merasa lebih penting dibandingkan orang lain. Menegur orang-orang yang tidak mengantre adalah untuk menyadarkan mereka bahwa ada orang yang berani menunjukkan (di depan umum) bahwa tindakan mereka itu sangat tidak pantas, sebab biasanya mereka seenak perut memotong antrean karena menganggap tidak akan ada yang berani menegur. Oh, saya berani.

Maaf saja, tapi menurut saya agak ironis jika kita berkoar-koar ingin maju, ribut-ribut membela pihak pro dan kontra setiap kali ada kejadian sensasional di media massa, baik nasional maupun internasional, namun kemudian untuk urusan sepele seperti antre saja kita tidak mampu. Sesumbar ingin memperjuangkan ini-itu, solidaritas blablabla, mengunggah berbagai foto kegiatan Hari Kartini lah, Earth Day lah, tapi antre saja tidak becus. Saya menilai orang-orang yang suka menyerobot antrean sebagai orang yang egois dan tidak menghargai orang lain, dan menurut saya, orang-orang seperti itu sebaiknya memperbaiki diri dari dalam dulu sebelum sibuk-sibuk mengurus hal-hal lain di luar dirinya.

Semua orang adalah sama spesialnya, dan itu menjadikan kita semua sama tidak spesialnya. Kecuali tujuannya adalah Unit Gawat Darurat, semua orang wajib mengantre. Kalau Anda ogah mengantre, sebaiknya hindarilah menggunakan fasilitas umum, sebab di fasilitas-fasilitas umum, semua orang adalah sama derajatnya. Plis pipel, stop being kampungan.

Untuk ketidaksukaan saya terhadap orang-orang yang membuang sampah sembarangan, telah saya tulis pada Curhatan (Tentang) Sampah. Intinya, ya sama. Orang-orang yang menganggap bahwa semua yang bukan rumahnya, bukan mobilnya, bukan motornya, bukan kepunyaannya, adalah tempat sampah, sebaiknya introspeksi diri dulu sebelum mengomentari hal lain.

Mengapa saya tidak suka pada orang yang tidak mengantre dan orang yang membuang sampah sembarangan? Sebab tidak mengantre dan membuang sampah sembarangan adalah suatu kebiasaan, hal-hal yang dilakukan secara otomatis tanpa disadari, dan itu menunjukkan karakter Anda yang sebenarnya. Saya senang mengamati hal-hal kecil yang dilakukan orang, ketimbang hal-hal yang besar, sebab untuk melakukan hal-hal besar, tentu butuh persiapan dan perencanaan yang matang, sehingga pasti sudah ada pertimbangan yang hati-hati. Lain halnya dengan hal-hal kecil yang dilakukan tanpa sadar, kebiasaan-kebiasaan yang dianggap sepele namun sebenarnya mampu menunjukkan bagaimana orang tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika kita sudah otomatis ikut mengantre dan otomatis mencari tempat sampah jika hendak membuang sampah, barulah kita boleh berbangga hati. Ketika kita sudah merasa tidak enak hati saat ingin memotong antrean atau merasa ada yang mengganjal perasaan saat membuang sampah bukan di tempat sampah, barulah kita boleh merasa berbudaya. Mengantre, mengantongi sampah sampai menemukan tempat sampah, membawa keluar sampah makanan/minuman sehabis nonton di bioskop, tidak mengotori meja secara berlebihan ketika makan di restoran, dan sebagainya.Untuk selanjutnya, kita boleh ‘naik level’ ke tingkat yang lebih keren dan membutuhkan kesadaran lebih, seperti misalnya mengembalikan troli/keranjang belanjaan ke tempatnya setelah selesai, mempersilakan orang keluar dari lift/elevator sebelum kita masuk, menahan pintu untuk orang setelah kita, dan lain sebagainya. Dengan melakukan hal-hal yang tidak wajib kita lakukan, namun toh kita lakukan juga sebab kita sadar bahwa itu adalah tindakan yang sepantasnyal itulah yang disebut berbudaya.


NB: Ngemeng-ngemeng, kata ‘kampungan’ yang saya gunakan dalam tulisan ini bukan untuk merujuk pada orang-orang yang tinggal di kampung, melainkan untuk orang-orang yang level etika dan budayanya masih perlu peningkatan; sebab kadangkala orang-orang yang tinggal di kampung justru lebih berbudaya dibandingkan dengan orang-orang yang tinggal bukan di kampung. v(–,)

Advertisements

6 thoughts on “Plis, Jangan Kampungan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s