Tanggapan yang Tidak Kampungan (an e-mail from Nadia)


Jadi, setelah mem-post tulisan saya yang berjudul “Plis, Jangan Kampungan”, saya mendapat tanggapan ini dari salah satu teman saya via e-mail.

Karena isinya bagus dan membuat saya merasa jadi lebih bangga sebagai orang Indonesia, saya jadi ingin mem-post-nya sebagai satu tulisan terpisah dengan sedikit menghilangkan bagian-bagian yang bersifat pribadi—dan untungnya saya diizinkan oleh si penulis :))

So, here you go. (Yes, it has a bit of logat Makassar in it, but anyway I hope you can grasp the beautiful message.)


Tj,

Untuk post-mu yang ini tohh, I am really sorry, tapi saya sama sekali tidak setuju dengan pendapatmu..

True we are still bad at queue-ing, true we are still throwing trashes seenak dengkul kita, true saya juga jengkel sekali waktu orang antri per pintu di toilet, dan true saya tidak dapat giliran waktu mau ambil es buah di pernikahan yang makanannya ditaruh di tengah untuk semua orang ambil sendiri, padahal yang datang setelah saya sudah berhasil pergi dengan 3 mangkok es buah di tangan..

But we are NOT THAT bad.. We always thought that we are the worst in this sense, but there are people who are worse than us. Saya di Cina, sistem MRT-nya mereka baru (tahun 2007 ke atas), kereta-keretanya dan stasiun-stasiunnya masih mengkilat dibanding kayak misal di HK atau Sing, jangan dibandingkan dengan Eropa punya yang sudah ada sejak 1900an… Tapi di dalam kereta barunya mereka buang ludah di lantai!

Di mal-mal bagus, WC-nya umumnya sudah didesain jadi WC kering (sama sekali tidak ada air untuk cebok). Mereka masih jongkok di atas pispot duduk.. Jadi yang tertinggal setelah akhir hari, adalah jejak-jejak sepatu di atas pispot duduk. Bayangkan kalau kau masuk kebelet mau boker terus pispotnya penuh jejak sepatunya orang dan tidak bisa dilap hilang, mau disiram juga tidak ada sarananya..

Yang paling bikin geleng kepala itu saya pernah masuk di hotel bintang 5 nya SH, lagi antri mau pake WC.. Ada 2 ai-ai, dari ujung atas sampe bawah merek semua, behh langsung nyerobot masuk WC padahal ada 5 orang antri di depannya.. Waktu itu kan saya lagi sama temanku yang sudah lama tinggal di Cina plus sudah les bahasa, dia pigi marai itu ai-ai pake bahasa Cina.. Bagoes!

Di airport juga tidak kalah barbar. Bapak-bapak yang pake jas, pake dasi, pake pantofel, masih bisa serobot antrian antar loker. Jadi kalau misalnya ada 3 loker toh, nah kan masing-masing ada antriannya, si bapak ini antri di loker ke 3, nah begitu loker 1 kosong, dia langsung maju pergi tanyai Mas/Mbaknya loker 1. Padahal kalau berdasarkan antrian dia harusnya tunggui yang loker 3 kosong baru maju dong.

Dan yang mengenai makan mengotori meja, jujur saya jarang liat orang di Indo makan (biar makan ikan begitu) yang sampahnya mereka sembarang taruh di meja.. Kalau ada paling banter di sekitar piring sedikit, dan menurutku itu masih bisa ditolerir. Yang di lantai kebanyakan cuman tissue. Kalau di Cina toh, mereka makan apa saja, yang sudah masuk mulut langsung mereka buang ke meja. Straight from the mouth! Jadi mendarat di mana ya di mana lahh..

Saya jujur kasian sama mereka yang harus kasih bersih..

Di Indo kalaupun ada yang melakukan hal begini, umumnya generasi tua dan mereka yang kurang terpelajar. Tapi di sini? Saya kan kerjanya di Uni, jadi saya makannya sama mahasiswa-mahasiswa PhD, postdoc, dan ke atas… Sama ji caranya Tj.. Saya yakin kantinnya Unhas masih lebih tidak jorok..

Terus yang bikin saya merasa kita masih lebih bagus secara humanitinya, contohnya kayak misalnya kalau di bus atau di mana begitu.. Kau liat orang tua, kau berdiri kasih dia tempat duduk. Terus kalau misalnya ada orang jatuh di jalan, banyak yang langsung datang bantu..  Kalau di Cina tidak Tj. Misal kau sudah jatuh toh, orang masih langsung pergi copeti barang-barangmu.. Mau tua mau muda mau bagaimana kalau kau tidak cukup sigap rebut tempat duduk, jangan mako harap kau bisa dikasih tempat duduk. Pernah beberapa kali saya naek MRT, karena saya umumnya naek dari ujungnya MRT, jadi MRT masih kosong-kosong, dan saya bebas pilih tempat duduk. Begitu sampai di tengah kan biasanya padatmi. Ada orang-orang tua masuk saya berdiri kasih dia tempat duduk, terima kasihnya luar biasa. Dia bilang tidak ada mi beng anak muda sekarang yang mau kasih tempat duduknya ke mereka.

Ini semua toh Tj, setelah saya analisa, karena beda ki nilai moralnya, of which we were taught when we were young. Mereka diajar kalau mereka itu bangsa miskin, sementara orangnya luar biasa banyak. Jadi untuk dapat makan, harus luar biasa cepat, karena kalau kurang sigap kurang cepat bisa tidak dapat makan. Sementara kita dibesarkan dengan budaya gotong royong. Kita dididik kalau kita itu bangsa kaya, tongkat kayu batu di tanah pun bisa tumbuh jadi makanan. Makanya kita bisa berbagi, lah wong di kebun masih banyak. Kalau habis pun tinggal ditaruh di tanah lagi besok juga tumbuh. Karena merasa kaya, kita jadi kurang ngoyo, jadi lebih bisa buang-buang waktu, termasuk buang-buang waktu untuk pergi bantu orang.. Which at the end of the day is a good thing, karena tepa seliranya terasa.

Kau tau bagaimana akhirnya saya bisa dapat es buah ku? Ada ibu-ibu yang datang jauh sesudah saya, na rebut ki itu sendok kuah yang cuman 1, terus na kasih kan ka, sambil bilang: “Kita mi dulu, sudah lama maki di sini”. Tepa selira lah yang terasa.. 🙂

Tapi yang saya paling kagum sama budaya antri dan bersihnya itu orang Portugal. Kalau kau pikir apa yang membanggakan dari Portugal sekarang? Tidak ada.. Mereka cuman hidup dari kejayaan di masa lampau. Ekonomi negaranya juga morat-marit, sudah di passing line garis bangkrut. Sistem tata kotanya juga tidak sebagus Inggris, negara Eropa lain, ataupun Cina. Tapi mereka teraturnya luar biasa. Sama kayak Makassar, makanan utamanya mereka itu seafood. Di jalan-jalan di Portugal, kaki limanya di mana-mana. Mulai dari jualan buah, kacang rebus/bakar, sampai seafood di tenda-tenda.. Tapi tidak ada sampah sama sekali di jalanan.. Di dalam tenda kaki lima pun, bersihhh Tj!…

This by far is the longest email that I’ve ever written to you… Just my 2 cents, please don’t get offended even in the slightest way…

Love,
Nadia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s