Tentang Belanja


In my world, nothing comes for free. Everything has to be earned, and you’ve got to work hard to get what you want. But, you see, the good thing is, you will deserve everything that you got.

I have stopped blaming fate for my mistakes and bad decisions, and I never feel like I owe all the good things in my life to anyone. This is how I got my confidence and self-appreciation.


Sejak kecil saya dan adik saya sudah dibiasakan untuk menerima kenyataan bahwa setiap orang harus bekerja untuk memperoleh sesuatu. Jadi, setiap kami ingin membeli sesuatu (yang bukan kebutuhan primer), yang jenisnya tentu berubah seiring pertambahan usia—misalnya mulai dari mainan, lalu berubah menjadi telepon seluler (ponsel), laptop, dan seterusnya, kami “dipersilakan” untuk menggunakan uang tabungan pribadi. Karena masih anak-anak dan belum berpenghasilan, maka sumber keuangan kami waktu itu adalah uang jajan dan uang angpau yang diterima tiap tahun saat Imlek. Saya ingat, meskipun disuruh menggunakan uang pribadi, namun kedua orangtua saya dengan bijaknya tetap membantu mengupayakan supaya tabungan kami terus bertambah. Misalnya, tiap penerimaan rapor saat masih SD dan SMP, maka nilai-nilai pelajaran kami akan dikonversi ke rupiah, contohnya nilai 9 dihargai Rp 5.000,00, nilai 8 dihargai Rp 4.000,00 dan seterusnya. Untuk ukuran anak SD tahun 90-an, nilai segitu sudah lumayan buat kami, apalagi barang yang paling sering kami beli adalah buku cerita (itupun seringkali masih dibelikan juga) yang waktu itu harganya masih Rp 1.000,00—2.000,00 sebiji. Intinya, kami tidak pernah kekurangan uang untuk membeli kebutuhan tersier sesuai keinginan pribadi, namun kami juga belajar bahwa ada yang harus dilakukan agar keinginan kita bisa tercapai. Kehidupan itu keras, dan kami telah diizinkan untuk mengintip sedikit sisi keras kehidupan sejak kecil. Sisi baik lainnya, ada kebanggaan tersendiri ketika berhasil membeli sesuatu dari hasil jerih payah pribadi.

Ketika masuk SMP dan telepon seluler mulai dikembangkan, maka satu per satu teman saya mulai memiliki barang baru yang disebut telepon genggam. Waktu itu, saya juga ingin punya satu. Namun karena telah terbiasa tidak merengek pada orangtua untuk dibelikan barang-barang kebutuhan tersier, maka dengan sendirinya saya pun menabung untuk mengumpulkan uang. Berhubung sejak SD saya sering mewakili sekolah mengikuti pertandingan matematika di berbagai tingkat, maka yang saya kumpulkan adalah uang hasil menang pertandingan. Lalu, karena sejak kecil kami dibiasakan berbagi, maka ada aturan tidak tertulis bahwa jika salah satu dari saya atau adik saya mendapat rezeki, maka kami harus membaginya pada yang lain, meski tidak persis 50:50—intinya adalah berbagi senang dan susah, rezeki dan apes.

Jadilah saya baru berhasil membeli ponsel dengan uang sendiri setelah kelas 1 SMA. Ponsel saya waktu itu tidak secanggih milik teman-teman saya yang sudah memiliki ponsel sejak SMP. Namun, tahukah Anda, saya tidak merasa minder sama sekali. Sebaliknya, saya justru bangga, sebab ponsel saya itu adalah hasil dari perjuangan saya selama beberapa tahun, yang modelnya saya pilih sendiri, setelah melalui proses pertimbangan yang cukup lama. Oh iya, karena saya termasuk orang yang perfeksionis, maka sebelum membeli barang yang harganya mahal, saya selalu melakukan riset kecil-kecilan mengenai calon barang yang saya inginkan. Seperti itulah yang terjadi ketika saya membeli ponsel pertama, kedua, ketiga, lalu laptop, dan terakhir kendaraan. Kadang, saya bisa mempertimbangkan merk dan tipe barang yang akan saya beli hingga setengah tahun lamanya. Ada bagusnya juga; sampai sekarang, belum pernah ada barang yang saya sesali karena terburu-buru saat membeli.

Oleh karena itulah, saya tidak pernah memandang nyinyir pada orang-orang yang senang gonta-ganti barang mewah ataupun menuduh mereka pamer, sebab saya tahu dan saya mengalami, bahwa tidak ada salahnya membelanjakan harta sesuai keinginan, as long as they’re worth it. Toh, kita tidak tahu apakah mereka memang sudah lama menyiapkan cadangan dana untuk membiayai hobi tersebut. Sepanjang mereka tidak merugikan kita, mengapa kita harus nyinyir? Toh, itu uang mereka. Kan kemampuan finansial tiap orang berbeda-beda. Jika mereka memang mampu dan mau untuk membeli sesuatu, tidak ada yang salah dengan hal itu. Yang salah adalah jika mereka sampai mengorbankan kebutuhan primernya atau kebutuhan primer orang lain (misalnya keluarga yang menjadi tanggung jawabnya) demi memuaskan hasrat akan kebutuhan tersier itu.

Satu tips yang masih selalu saya gunakan hingga sekarang sebelum membeli barang dengan harga tujuh digit ke atas (dalam rupiah) adalah memperkirakan besar biaya bulanan/tahunan dari barang tersebut. Misalnya untuk membeli ponsel, saya upayakan dengan kisaran harga Rp 1-2 juta per tahun; jadi jika masa pakai ponsel yang saya harapkan adalah sekitar 3 tahun, maka kisaran biaya ponsel yang akan saya beli adalah Rp 3-6 juta, dan saya berkomitmen untuk tidak mengganti ponsel tersebut sebelum jangka waktu demikian, kecuali jika rusak atau sejenisnya.

Manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas. Dengan dibiasakan mengelola sendiri keuangan saya sejak kecil, saya menyadari hal itu. Keinginan akan selalu bertambah dengan sendirinya, namun tabungan dan penghasilan hanya akan bertambah jika kita melakukan suatu upaya alias bekerja. Oleh karena itulah, dalam membeli barang apapun, poin utama bagi saya adalah kegunaan dan manfaatnya. Efisiensi dan efektivitasnya. Model dan gengsi urusan belakangan, sebab gengsi hanya akan terpuaskan di hadapan orang lain, sedangkan fungsi dan manfaat barang akan memuaskan bahkan saat kita hanya sendiri. Jika Anda sudah bekerja keras untuk memperoleh sesuatu, dan ketika akhirnya Anda memperoleh hal tersebut lalu dinyinyiri oleh orang lain, tidak usah berkecil hati. Toh yang bekerja Anda, tentu saja yang berhak menikmati juga Anda. Mereka yang menghabiskan waktunya untuk menggosipi orang lain, ketimbang bekerja untuk memajukan diri sendiri, tidak layak untuk Anda pedulikan.

Mungkin karena sudah dibiasakan untuk tidak mengharapkan apa-apa dengan cuma-cuma sedari kecil, maka sekarang pun saya demikian. Saya lebih rela memberikan tip Rp 5.000,00 pada petugas jasa parkir atau petugas SPBU dibandingkan dengan memberikan Rp 2.000,00 pada pengemis yang tidak cacat namun hanya duduk santai menadahkan tangan ke sana kemari. Dalam kamus saya, tidak ada yang namanya, “Meskipun tidak belajar, asal berdoa dengan sungguh-sungguh, pasti bisa dapat hasil yang memuaskan.” Buat saya, hasil yang diperoleh adalah sepadan dengan upaya yang dikeluarkan. Makanya, sewaktu masih sekolah dulu, saya tidak pernah berdoa supaya bisa lulus atau dapat nilai 100. Yang saya ucapkan ketika berdoa adalah, “Semoga apapun hasil yang saya dapatkan nantinya, sesuai dengan usaha saya untuk belajar; dan apapun hasil itu, semoga saya bisa menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada.” Oleh karena itulah, dalam skala saya, orang yang menyontek masih lebih tinggi nilai usahanya dibanding dengan mereka yang tidak belajar namun pasrah-pasrah saja karena sudah berdoa dengan khusyuk. Namun, toh, pada akhirnya kita semua akan sampai pada suatu kesadaran, bahwa menyontek memang memberikan manfaat tertentu, tetapi manfaat itu hanyalah berupa manfaat jangka pendek. Untuk manfaat jangka panjang, ya harus tetap belajar. Tidak ada jalan lain.

It’s true that there are people who don’t have to work so hard to get what they want, or people who get everything good coming to their life without even having to make an effort, but I don’t envy them. That’s their life; this is my life—and so far, I like how I live my life. Things that have to be earned, last longer.

Singkat kata, sesuaikanlah kebutuhan Anda dengan kemampuan Anda. Jangan iri ataupun meremehkan orang dengan tingkat kemampuan dan kebutuhan yang berbeda dengan Anda, sebab Anda hanyalah penonton dalam kehidupan orang lain, sebagaimana orang lain pun hanyalah penonton dalam kehidupan Anda. Tidak semua pendapat dan pandangan orang lain itu penting, dan kita mesti bijak untuk memilah-milah, siapakah yang pendapat dan pandangannya perlu kita pertimbangkan dalam kehidupan kita. Sekian dan terima kasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s