Dokter Rese


Setiap mahasiswa pasti pernah mengalami perjalanan “mencari informasi” mengenai dosen pembimbing ataupun calon penguji ketika kuliah. Berhubung saya kuliah di jurusan pendidikan dokter, maka pengalaman itu paling terasa ketika menempuh masa kepaniteraan klinik (koas).

Tiap kali memasuki bagian/departemen baru dan mendapatkan dokter residen maupun supervisor pembimbing dan/atau penguji, maka saya pasti akan berusaha menggali informasi mengenai dokter tersebut, baik dari sesama teman-teman koas maupun dari pegawai atau perawat atau dokter lain kalau kebetulan akrab. Contoh pertanyaannya, dokter itu sifatnya bagaimana? Kalau mau melapor sebaiknya ke mana dan bawa apa? Kalau presentasi kasus atau ujian, beliau biasanya arah pertanyaannya ke mana? Dan yang paling standar: dokter itu mati kiri kagak? 😀

Nah, berdasarkan pengalaman-pengalaman itu, ada suatu pelajaran yang menurut saya berharga. Setelah “survei pendahuluan”, biasanya saya akan tahu gambaran umum mengenai seorang dokter, misalnya sebut saja dokter X. Jika opini koas secara umum mengatakan bahwa dokter X itu “baik”, “berhati malaikat”, dan sebagainya, maka hampir pasti itu selalu benar, dan perjalanan koas saya bersama beliau biasanya berjalan lancar dan tenteram. Namun, jika opini koas secara umum mengatakan bahwa dokter X itu “kejam” atau “ganas” atau “rese” atau “senang menyusahkan koas”, maka biasanya saya mempersiapkan mental secara ekstra sebelum menghadap beliau.

Saya adalah orang yang senang mengamati perilaku dan sifat orang lain, dan karena saya selalu berusaha untuk mengamati secara objektif, maka perlakuan saya kepada setiap “subjek penelitian” saya, saya upayakan agar tidak berbeda, untuk menghindari bias dan meminimalisasi faktor perancu. Maksud saya begini. Kebanyakan teman-teman lain, saat berinteraksi dengan dokter yang sudah terlanjur dicap “rese”, biasanya perilakunya akan berbeda dibanding dengan saat mereka berinteraksi dengan dokter yang dianggap “malaikat”. Perbedaan ini tergantung tiap-tiap orang; ada yang kentara, ada pula yang halus. Perbedaan tersebut mencakup sikap (terbuka atau gugup/takut), postur tubuh (rileks atau tegang), nada suara, pemilihan kata-kata, dan lain sebagainya.

Entah ya, tapi menurut saya, setiap orang memiliki kemampuan untuk mendeteksi apakah orang yang sedang berinteraksi dengan dia itu memiliki pikiran/opini positif atau negatif tentang dirinya. Misalnya, dokter X akan mampu mempersepsi apakah koas yang sedang berbicara dengan dia itu sebenarnya suka atau sebal kepada dia. Hal ini bisa saja terjadi di tingkat bawah sadar, namun besar pengaruhnya terhadap sikap dan perilaku dokter X terhadap koas tersebut. Kalau si koas, yang terlanjur mendengar cerita negatif tentang dokter X dan kemudian melabeli dokter X dengan label negatif selanjutnya berinteraksi dengan dokter X, maka persepsi negatifnya itu akan tercermin dalam bahasa tubuhnya ketika berinteraksi dengan dokter X. Di sisi lain, dokter X yang mampu merasakan sikap negatif si koas terhadap dirinya, akan terpengaruh untuk membalas dengan sikap negatif.

Berdasarkan pengamatan saya, hampir semua dokter yang dicap negatif, sudah mengetahui bahwa dirinya digosipkan secara negatif di kalangan para koas. You just can’t keep such thing a secret for a long time. Oleh karena itu, dokter-dokter demikian biasanya akan melakukan hal yang paling alami sebagai bentuk pertahanan diri: bersikap defensif kepada semua koas yang ditemuinya. Caranya? Kebanyakan dalam bentuk negatif.

Oleh sebab itulah, saya tidak pernah membeda-bedakan sikap ketika menghadapi dokter-dokter dengan karakter yang berbeda-beda. Sebaliknya, saya tetap menghormati dan menghargai mereka, dan tentunya mengamati mereka. Saya seperti ingin membuktikan apakah opini yang beredar itu dapat dipertanggungjawabkan atau tidak. Pada setiap kasus, saya selalu mendapati bahwa mereka tidaklah seburuk apa yang digosipkan kami-kami ini sebelum mengenal mereka. Kebanyakan dari dokter-dokter yang dicap “rese” tersebut, ternyata jadi baik kalau kita juga bersikap baik pada mereka. Awalnya saya heran sekaligus bersyukur, namun kemudian akhirnya saya menyadari bahwa bukan itu persoalannya.

Persoalannya bukan apakah gosip itu benar atau tidak, melainkan kita hanya melihat apa yCM19fdTUkAEykpUang ingin kita lihat. Kalau kita hanya berfokus untuk mencari-cari kejelekan seseorang, maka hampir pasti kita akan memiliki pandangan negatif tentang dirinya. Sebaliknya, jika kita berfokus untuk menemukan hal-hal baik pada diri seseorang, maka kita akan menyadari bahwa sebenarnya semua orang itu pada dasarnya baik.

Seiring perjalanan hidup saya, saya berubah dari seseorang yang cenderung negatif/pesimis, menjadi seseorang yang positif/optimis, dan akhirnya saya belajar menjadi seseorang yang realistis. Saya menyadari bahwa setiap orang memiliki sisi baik dan sisi buruk, dan karena semuanya ada, manapun yang kita cari pasti akan selalu tersedia—namun adalah tergantung dari kita, mau memusatkan perhatian pada sisi baiknya, atau sisi buruknya.

Kebanyakan orang yang sudah terlanjur dicap negatif, akan terus dicari-cari keburukannya, hanya untuk menguatkan opini bahwa orang tersebut “jahat” atau “rese” atau “menyebalkan”. Sebaliknya, orang yang sudah terlanjur dicap positif biasanya tidak akan terlalu digubris, sebab mereka telah dianggap masuk dalam kategori “aman” dan lebih mudah untuk dimaafkan jika melakukan hal yang buruk. Mungkin demikianlah sifat manusia, dan mungkin itulah sebabnya mengapa kita sering menyia-nyiakan atau kurang memedulikan perasaan orang-orang yang kita anggap “baik”—lain halnya dengan upaya kita untuk selalu menjaga perasaan orang-orang yang kita kategorikan sebagai “belum jinak”.

All in all, saya belajar untuk tidak menghakimi seseorang berdasarkan pandangan orang lain tentang dirinya. Saya belajar untuk tidak menilai seseorang sebelum bertemu sendiri dengan orang tersebut, sebab seperti kata pepatah, “Jangan menilai sebuah buku hanya dari sampulnya,” mungkin saja isi sebuah buku tidak seindah ataupun tidak sejelek sampulnya.


NB: Saya mendapatkan versi yang lebih keren untuk quote tersebut, namun saya lupa sumbernya dari mana. If you know someone who made this quote, please let me know so I could give them credit for this witty quote:

Don’t judge a book by its cover; the author didn’t design it anyway.

Advertisements

One thought on “Dokter Rese

  1. Saya sering berpikir bahwa salah satu tugas manusia di bumi ini adalah untuk saling menghakimi. Bahasa Inggrisnya lebih baik: to judge each other. Cara “judge” itu yang perlu diperhatikan. Menurutku apa yang mbak lakukan sesuai dengan yang saya maksud: judge fairly.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s