Bangsa Superfisial


Kita ini bangsa yang superfisial, sukanya dengan kata-kata tanpa arti, janji-janji manis tanpa pembuktian. Lihat saja, bagaimana beberapa waktu yang lalu kita beramai-ramai berdebat mengenai perlu tidaknya identitas agama dicantumkan di KTP, seolah-olah dengan tercantumnya agama di KTP, maka keimanan dan ketakwaan kita pun akan meningkat berlipat-lipat ganda. Kancing jas presiden diributkan. Warna kulit dipermasalahkan. Model pakaian dan tata rambut dipergunjingkan. Sementara itu, hal-hal lain seperti kinerja dan watak seringkali hanya dipandang sebelah mata. Bagi kita, apa yang paling gampang terlihat, maka hanya itulah yang penting. Asal kelihatannya bagus, pasti isinya bagus.

Meskipun lebih sering merasa jengkel, namun terkadang saya merasa geli saat menonton sinetron Indonesia, di mana para pemerannya “berbicara dalam hati” atau “ceritanya sedang berpikir”. Pada saat-saat seperti itu, penonton disuguhkan narasi yang menjelaskan isi pikiran dan perasaan para aktor dan aktris. Padahal kalau kita bandingkan dengan film-film asing, kita bisa memahami isi dan jalan cerita hanya dari ekspresi, mimik, maupun perbuatan si aktor dan aktris. Mungkin, seandainya ini zaman film bisu, tidak akan ada penonton yang mampu memahami plot sinetron Indonesia.

Sebagai penonton sinetron, kita dibiasakan untuk hanya mampu mencerna hal-hal yang superfisial, tanpa merasa perlu repot-repot membaca atau berpikir lebih jauh. Mama saya pernah bilang, dalam sinetron Indonesia, kita bisa langsung tahu siapa pemeran jahat dan pemeran baiknya hanya dengan sekali pandang, baik dari pakaiannya, tata riasnya, maupun gerak-geriknya.

They have made it too easy for us. Ujung-ujungnya, kita merasa hanya cukup menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya. Lebih jauh lagi, kita merasa mudah percaya dengan informasi apapun yang disodorkan ke depan hidung kita, tanpa mau bersusah payah menggunakan otak untuk mengkaji lebih jauh ataupun mengecek kebenaran informasi tersebut. Tidak heran kalau bangsa kita mudah diadu domba, sebab politik devide et impera, yang kita pikir telah berakhir pada 17 Agustus 1945, sebenarnya masih berlangsung bahkan hingga saat ini, bahkan mungkin lebih mudah dilakukan, sebab kita telah ditahan dalam suatu zona nyaman yang dikamuflase sebagai kemerdekaan.

Sedemikian mudahnya kita menghakimi dan menyimpulkan hanya dari penampakan sekilas—padahal hukum perundang-undangan saja, yang di Indonesia masih butuh ditata dan mudah dimanipulasi, masih memperhitungkan mens rea dan actus reus. Adalah menyedihkan ketika bahkan solidaritas dan nasionalisme pun masih bersifat superfisial. Solidaritas hanya karena seprofesi, nasionalisme hanya karena serumpun. Salah namun seprofesi: kita bela! Benar namun berbeda ras: kamu bukan bagian dari kami!

Di saat negara-negara lain telah membahas mengenai isu human rights dan global warming, kita malah berasyik-masyuk berkelahi gara-gara SARA. Di saat bangsa lain telah menemukan air di Mars, kita masih memperdebatkan masalah peraturan peredaran miras. Padahal di depan mata jelas-jelas ada kabut asap yang perlu penanganan segera, toh kita malah bertengkar karena spekulasi penyebab insiden kematian WNI di negara lain. (Garis bawahi kata “spekulasi”). Padahal, apa sih yang kita dapat dari mempertengkarkan hal-hal yang sebenarnya belum jelas? Begitulah kita, senang bermain-main di definisi dan hipotesis, tapi hasil aplikatifnya nol besar. Senangnya memberi cap dan label, tapi untuk materi substansial, hanya berputar-putar di tempat.

Mungkin kita hanya takut. Takut terhadap perubahan yang muncul seiring perkembangan zaman. Takut karena apa yang kita percayai selama ini, ternyata tidak demikian adanya. Takut karena jika kita berbeda, maka kita akan dikucilkan. Padahal, perbedaan dan perubahan adalah sebuah keniscayaan. Mungkin saya keliru sewaktu mengatakan bahwa sinetron Indonesia takkan bisa dipahami kalau filmnya masih film bisu. Mungkin justru akan lebih mudah, sebab film bisu, yang semasa itu masih berwarna hitam dan putih, pasti pemeran baiknya akan selalu mengenakan baju putih, sedangkan peran penjahatnya selalu mengenakan baju hitam—simply because it is easier that way; not necessarily true, though.

Maka ketika kemudian salah seorang figur publik mengartikan “Tut Wuri Handayani” sebagai “Meskipun berbeda-beda namun tetap satu”, saya bingung harus tertawa atau merasa sedih. Toh, hal itu dimaklumi—manusia mana, sih, yang tidak pernah membuat kesalahan? Namun, sedemikian dangkalnyakah kita, mengagumi seorang figur publik hanya karena parasnya yang unyu dan popularitasnya di kalangan remaja?

Saya kadang berpikir, di kehidupan nyata yang superfisial ini, kita seringkali mengarang-ngarang suatu laporan pertanggungjawaban kerja dengan sedemikian indah dan masuk akal jika dilihat sekilas, meskipun dalam banyak kasus, laporan itu hanya separuh yang benar. Namun, adakah kita merasa bersalah? Adakah suatu rasa tidak nyaman yang kita rasakan, sekecil apapun, karena kita mengetahui bahwa ada kontradiksi antara apa yang kita laporkan secara superfisial dengan apa yang sebenarnya terjadi alias profunda? Jika kita sudah bisa dengan mudahnya mengabaikan perasaan-perasaan kecil seperti itu, maka kemudian saya bertanya: lantas bagaimana dengan laporan pertanggungjawaban kita terhadap diri sendiri? Sebab, saya ingin laporan pertanggungjawaban saya terhadap diri sendiri adalah suatu laporan yang benar-benar sesuai hati nurani serta dapat dipertanggungjawabkan secara etika maupun moral.

(I don’t know how this post started with superficiality and ended with ethics and moral. Somehow, somewhere in the middle, I got lost and jumped into different path. Please bear with me; for these flights of ideas aren’t uncommon if you know me that well.)

Bukti lain superfisialisme kita:
EBTA/EBTANAS diganti UAN/UAS (sekarang entah apa namanya), SPMB diganti SNMPTN (sekarang entah apa namanya), UKDI diganti UKMPPD (sekarang entah apa namanya). Isinya? SAMA. 😀

Advertisements

2 thoughts on “Bangsa Superfisial

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s