Ah, Masa? (–,)


Indonesia bangsa yang ramah? Ah, masa? Kamu dengar dari mana? Apa? Dari turis asing? Kok bisa? Oh, dia waktu ke Indonesia sering disapa dan diperlakukan dengan ramah oleh penduduk lokal? Oke.

Lantas, bagaimana dengan orang Indonesia sendiri? Apa kamu pernah dengar orang Indonesia bilang sesama orang Indonesia itu ramah? Apa kamu pernah dengar turis lokal memuji penduduk setempat karena keramahannya? Palingan kata “ramah” terdengar saat seorang Indonesia tengah mempromosikan negaranya ke orang luar (non-Indonesia).

Kenapa kita sering menyapa turis asing dengan, “Hi, Mister! Have a nice day!” ketika berpapasan di jalan meskipun tidak kenal? Kenapa kita tidak pernah menyapa turis lokal (yang dari penampakan luarnya sudah jelas seorang turis) dengan, “Halo, Pak/Bu/Mas/Mbak, selamat datang di [diisi nama tempat]!”

Kenapa? Karena turis asing itu relatif jarang dibanding turis lokal. Dan karena jarang, maka kita menganggap mereka “berbeda”, “aneh”, “spesial”, “wow”, “sesuatu”. Dan karena berbeda, maka perlakuan kita terhadap mereka pun berbeda—dan untungnya seringkali lebih baik dibandingkan perlakuan kita kepada sesama penduduk sebangsa dan setanah air. Kalau diibaratkan, mungkin seperti layaknya kita kagum pada binatang yang dipamerkan di pertunjukan sirkus, simply because they are not in their normal habitat dan kita belum pernah masuk hutan.

Maka, saya tidak heran ketika kemudian salah seorang teman saya yang sedang studi di luar negeri, curcol melalui media sosialnya bahwa di negara asing, ternyata orang luar lebih ramah pada wanita berjilbab dan sering menyapa dengan “Assalamualaikum”. Lah, iya, mungkin bukan karena mereka ramah. Mungkin karena wanita berjilbab itu langka. Dan karena langka, maka diperlakukan berbeda—dan untungnya berbeda secara lebih baik.

Apa ini manifestasi dari superfisialisme kita? Ataukah perwujudan dari mentalitas inferior kita terhadap bangsa asing? Atau praduga kita terhadap makhluk yang “berbeda”? Jujur saja, saya masih sering berprasangka bahwa orang yang bisa berbahasa asing (non-bahasa Indonesia) itu otomatis wawasannya lebih luas dibanding dengan yang hanya bisa berbahasa Indonesia saja. Mungkin ini bentuk dari kedangkalan pikiran ataupun mentalitas inferior saya.

Ah, masa? (–,)

Advertisements

2 thoughts on “Ah, Masa? (–,)

  1. di negara asal bule kan cenderung individualis. ga bakal ngurusin/peduli bahkan sama tetangganya sendiri kecuali hal2 yg emang perlu. kalo di sini ya karna budayanya masih saling kenal & saling sapa (yg memudar di kompleks perumahan orang kaya), makanya memang lebih ramah. lagipula di tempat2 wisata, bule itu sumber pendapatan. makanya orang2 sekitar akan ramah, yg kadang cenderung berlebih.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s