WTF, Adik-Adik Mahasiswa? [(Lagi-Lagi) Tentang Unjuk Rasa (Lagi)]


Hari ini peringatan Hari Sumpah Pemuda. Dan seperti biasanya, hal ini “dirayakan” oleh pada mahasiswa dengan melakukan aksi unjuk rasa. Entah kalau di kota-kota lain, tetapi demikianlah tradisi di kota Makassar tempat saya tinggal. Entah sejak kapan, mengapa, dan bagaimana, peringatan hari-hari besar nasional di Makassar hampir pasti selalu diwarnai dengan aksi unjuk rasa di jalanan oleh adik-adik mahasiswa. Peringatan hari Sumpah Pemuda, hari Kebangkitan Nasional, hari Kesaktian Pancasila, hari Anti-Korupsi Sedunia, dan lain-lain. Untung saja adik-adik ini tidak berunjuk rasa setiap 17 Agustus atau hari Lebaran, misalnya.

Saya sendiri tidak tahu alasan di balik pilihan cara memperingati hari-hari besar nasional ini, sebab seringkali yang terlihat di jalan adalah gerombolan pemuda (dan pemudi) yang membawa spanduk dan umbul-umbul almamater, melakukan orasi yang tidak jelas isinya apa dan ditujukan untuk siapa, dan tidak jarang hingga menimbulkan kemacetan, menutup/menghambat jalan-jalan utama, atau membakar ban di tengah jalan. WTF? Lokasi-lokasi yang dipilih sebagai titik melakukan aksi unjuk rasa pun selalu di titik-titik vital dengan lalu lintas yang ramai. Mungkin supaya banyak yang menonton dan efek yang ditimbulkan lebih bergaung. Pilihan waktu unjuk rasanya pun tidak jauh dari jam-jam kuliah kerja.

Secara pribadi, saya merasa sangat terganggu dengan aksi unjuk rasa seperti ini. Meskipun dalam beberapa tahun terakhir tingkat keanarkisan aksi-aksi serupa sudah jauh berkurang, dan aksi-aksi tersebut juga tampaknya sudah dikoordinasi dengan lumayan baik (ditandai dengan adanya pengumuman lokasi dan waktu sehari sebelumnya, serta kehadiran aparat keamanan untuk mengawasi jalannya aksi), tetapi tidak bisa tidak, saya tetap kepikiran, mereka itu ngapain?

images

Saya tidak bisa memahami mengapa hari Sumpah Pemuda harus dirayakan dengan berorasi di jalan. Saya tidak mengerti mengapa hari Kebangkitan Nasional harus diperingati dengan bergerombol di jalan dan berunjuk rasa. WTF? Alih-alih unjuk rasa atau orasi, mengapa tidak diperingati dengan cara yang lebih bermanfaat serta tidak mengganggu kepentingan dan hajat hidup orang banyak? Kalau cuma ingin membuktikan nasionalisme, mengapa adik-adik tidak segera mendaftarkan diri di program bela negara saja? (Baca: Bela Negara) Kalau memang memperjuangkan kepentingan rakyat kecil, mengapa tidak mengadakan jadwal keamanan bergilir untuk mencegah berkembangnya pelaku-pelaku pembegalan? (Baca: Mengapa Banyak Orang Jahat di Makassar?) Kalau ingin memajukan pendidikan generasi muda, mengapa adik-adik tidak mengikuti program mengajar di daerah pelosok yang sangat terpencil? (Baca: Indonesia Mengajar) Kalau memang mau mempersatukan Indonesia, lantas mengapa masih pada berantem atau tawuran kalau tim sepakbola lokalnya kalah bertanding? Booo… such hypocrites.

You know what? They’re fighting without a relevant cause, and that’s silly.

Kalau Anda-Anda sekalian memang peduli dan nasionalis dan cinta pada bangsa, negara, dan tanah air Indonesia, kalian tidak akan sering-sering turun ke jalan tanpa alasan yang relevan. Kalau Anda-Anda sekalian memang peduli dan nasionalis dan cinta pada bangsa, negara, dan tanah air Indonesia, kalian akan lebih fokus ke belajar, menyelesaikan pendidikan di bangku universitas, lalu lulus dengan prestasi memuaskan dan kemudian bekerja sebaik-baiknya untuk membaktikan diri bagi nusa dan bangsa. Bukannya berleha-leha di jalanan, membuang-buang uang kuliah yang sebenarnya bisa saja disumbangkan untuk membiayai pendidikan orang lain, misalnya.

Maaf saja, tapi menurut saya, mahasiswa zaman dulu beda dengan mahasiswa zaman sekarang. Dulu, mahasiswa itu makhluk langka, sebab universitas merupakan jenjang pendidikan yang hanya dapat dicapai oleh orang-orang terpelajar dengan tingkat pendidikan, pengetahuan, dan mental di atas rata-rata. Oleh karena itu, maka zaman dulu menjadi mahasiswa itu lebih tinggi kastanya dibanding “rakyat jelata”. Mereka dipercaya dan diberikan tanggung jawab oleh masyarakat untuk mewakili suara rakyat. Mereka adalah “agent of change”, pembawa perubahan, agen revolusi, diyakini mampu membawa bangsa dan negara ke arah yang lebih baik.

Sekarang, tidak demikian halnya. Mahasiswa bertaburan di mana-mana—bahkan saking banyaknya, banyak yang setelah lulus sulit memperoleh pekerjaan atau harus rela mendapat pekerjaan yang di bawah standar kualifikasinya. Sekarang, mahasiswa bukan lagi makhluk istimewa. Menjadi manusia bukan lagi tergolong keren dan otomatis berarti “terpelajar”. Itu adalah kenyataan pahit yang harus kita semua sadari, sebab memang demikianlah adanya. Kalau dulu cukup SMA, sekarang harus S1. Kalau dulu cukup S1, sekarang harus S2. Dan seterusnya.

Oleh karena itulah, jika adik-adik mahasiswa zaman sekarang masih menganut stereotipe mahasiswa zaman dulu, di mana para pemuda dan pemudinya melakukan aksi demonstrasi untuk hal-hal yang benar-benar relevan dan membawa perubahan yang nyata, maka habislah generasi muda zaman sekarang. Zaman sudah berubah, adik-adik. Zaman sekarang, perjuangan bukan lagi terjadi dengan berdiri berpanas-panas di pinggir jalan, membolos dari jam kuliah hanya demi “memperjuangkan suara rakyat”. Zaman sekarang, yang dinamakan berjuang adalah jika kita semua bekerja keras membuktikan diri sendiri, untuk kemudian menempatkan diri di posisi-posisi yang strategis untuk membuat perubahan. Bukannya berorasi tidak jelas di pinggir jalan dan dikutuk oleh pengguna lalu lintas yang merasa dirugikan oleh keberadaan kalian.

Saya menyayangkan jika alasan yang dipergunakan adalah “kebebasan berpendapat”, sebab seringkali kebebasan berpendapat itu justru bertentangan dengan kepentingan umum. Kebebasan berpendapat tidak ada artinya jika kita tidak tahu apa yang kita perjuangkan. Kebebasan berpendapat tidak ada artinya jika kita berpikir bahwa, karena dinamakan “kebebasan berpendapat”, maka cukup dengan berpendapat alias berorasi alias berunjuk rasa, maka kita akan mampu menghasilkan suatu perubahan yang nyata.

Saya teringat kejadian beberapa tahun silam, ketika teman-teman sejawat dokter ramai-ramai turun ke jalan sebagai aksi solidaritas menolak kriminalisasi dokter. Yang menyedihkan adalah, mereka yang turun ke jalan dan dengan semangat berpose untuk selfie, justru adalah mereka yang belum mengetahui kronologis kasus yang sebenarnya, sebab mereka hanya membaca di media massa, ataupun dipanas-panasi oleh sejawat yang lain, ataupun hanya ikut-ikutan “supaya solider”. That was bullshit. Solidaritas yang membabi buta adalah menyesatkan. Yang lebih menyedihkan lagi adalah saat membaca spanduk-spanduk yang bertuliskan, “Dokter juga manusia” seakan-akan bersikap rendah hati, tetapi di saat yang sama juga mengeksklusifkan profesi dokter dengan cara menolak dikriminalisasi. Who do you think you are? :O

Untuk zaman sekarang, sebagai mahasiswa, kita harus meng-update pengetahuan dan wawasan kita mengenai peranan mahasiswa yang relevan untuk saat ini. Apakah tindakan yang dilakukan oleh mahasiswa zaman dulu, masih cocok diterapkan untuk kondisi sekarang? Menurut saya, sih, tidak, sebab perubahan adalah suatu keniscayaan. Yang terpenting adalah bagaimana kita menjaga agar bisa tetap berpikir kritis dalam segala situasi dan kondisi, agar tidak melakukan segala sesuatunya secara asal-asalan dan tanpa tujuan. Soalnya, bagaimana mau memperjuangkan bangsa dan negara, kalau untuk identitas diri sendiri saja masih tidak jelas? 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s