Terserah


Saya termasuk orang yang dulunya senang menjawab “terserah” jika ditanya mengenai hal-hal tertentu. Hal-hal tertentu itu misalnya, “Mau makan di mana?”

Maksud hati menjawab “terserah” adalah “pilihkan saja tempat makan yang menurut kamu sesuai dengan selera saya, tapi kalau tidak sreg di hati, saya ga mau” alias “kamu harusnya tahu dong, atau setidaknya bisa memperkirakan, tempat makan dan jenis makanan favorit saya”. Jadinya saya tidak mau tahu. Terserah, tapi hasil keputusan/pilihannya harus benar sesuai dengan keinginan saya.

Enak, sih, menjawab “terserah”. Soalnya, saya malas berpikir, tapi saya pasti selalu benar, soalnya, jawabannya kan terserah kamu, jadi kalau benar ya syukur, kalau salah ya salah kamu. Khas cewek.

Kemudian, tiba giliran saya yang diberi jawaban “terserah”.

“Mau makan di mana?” “Terserah.” “Makanan Indonesia atau barat atau Chinese food?” “Terserah.” “Oke, makan pizza saja ya.” “Bosan.” “Mie goreng?” “Malas.” “Oke, bakso?” “Ga mau yang berkuah.” “Jadi maunya makan apa?” “Ya terserah.” DAFUQ.

Setelah diperlakukan seperti itu, saya lalu menyadari dosa-dosa yang selama ini telah saya perbuat. Saya menyesali perbuatan tersebut dan berjanji untuk mengurangi jawaban “terserah” jika ada yang bertanya sesuatu kepada saya.

Saya melatih diri bahwa jika saya menjawab “terserah”, maknanya adalah harus betul-betul terserah pada orang yang saya beri jawaban “terserah”, tanpa ada maksud ganda ataupun permainan kode-kodean dan berharap di penanya harus mampu menebak keinginan hati saya. Jadi, saya hanya boleh menjawab “terserah” apabila saya benar-benar tidak memiliki preferensi dan berniat memasrahkan diri pada keinginan di penanya.

Sebaliknya, dengan melatih diri mengurangi menjawab “terserah”, saya belajar untuk membuat keputusan-keputusan mandiri dalam hidup sehari-hari, meskipun dalam hal-hal sederhana seperti pilihan makanan. Dengan mengurangi menjawab “terserah”, saya belajar untuk mampu berpikir dan menganalisis preferensi makanan saya, sehingga membiasakan diri untuk mengambil keputusan secara cepat dan tepat, dan tentunya semakin mengenal diri sendiri jenis makanan kesukaan saya. Demikian pula dengan hal-hal lain yang tidak sesepele pilihan makanan.

Terlalu sering menjawab “terserah” biasanya cenderung membuat saya menjadi apatis, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Terlalu sering menjawab “terserah” membuat saya hanya “tahu apa yang saya tidak mau” tetapi “tidak tahu apa yang saya mau”. Jadi kesannya adalah saya tidak bakal bisa memutuskan apa-apa sebelum diberi pilihan, padahal seharusnya saya sudah boleh mulai membuat perencanaan dan persiapan (atau bahkan preferensi) untuk menghadapi situasi seperti apapun, apapun pilihan yang nanti akan tersedia. Mungkin kesannya lebay, tapi saya mendapati bahwa hal-hal kecil seperti ini justru memiliki dampak yang besar terhadap perkembangan kepribadian saya. Ciyeh. Setidaknya, saya merasa menjadi orang yang lebih mandiri sejak memutuskan untuk mengurangi jawaban “terserah”.

Makanya, kalau ada yang menjawab saya dengan “terserah”, saya kadang suka bercanda dan bilang, “Hati-hati lho, kalau kamu keseringan menjawab ‘terserah’, nanti nasib kamu juga jadi ‘terserah’.” Atau “Kalau kamu selalu jawab ‘terserah’, nanti pas kamu berdoa, Tuhan juga jawabnya ‘ya terserah’.”

Hahaha. 😀

Advertisements

3 thoughts on “Terserah

  1. IMHO, “terserah” bukan tanda ketidakmandirian, tetapi lebih ke arah sungkan. Sungkan mau bilang suka makan bakso, sungkan bilang ngidam makan pizza, etc. Kalau pergi makan seorang diri you’ll definitely know what you want.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s