Media Sosial, Kesetaraan Gender, dan Pendidikan yang Mendidik


Read the English translation here.


Jadi, ceritanya saya habis men-stalk akun FB anak perempuan (kelihatan jelas masih di bawah umur) yang mengunggah foto bersama pacarnya di ranjang. Saya sengaja tidak menyertakan bukti tautan maupun screen capture-nya dalam tulisan ini sebab bukan itu inti permasalahannya.

Sepertinya, foto tersebut membuat akun tersebut beramai-ramai dikunjungi oleh orang-orang yang penasaran, lalu mereka meninggalkan komentar dan tak lupa pula men-share foto tersebut (saat saya mengunjungi halaman linimasa FB-nya, foto tersebut tercatat telah di-share sebanyak 1497 kali). Adapun saat saya membaca-baca komentar-komentar yang dituliskan para pengunjung di foto tersebut (dan foto-foto lain), saya mendapati sesuatu yang menarik. Semua komentar tersebut bernada negatif, bahkan di foto yang tidak ada hubungannya sama sekali pun. Semua komentar yang masuk mengandung caci maki, umpatan, amarah, bahkan ancaman, dan hampir semua menggunakan dalih “agama” maupun “kasihan orangtuanya”.

Saya perhatikan, komentar-komentar dari perempuan ada yang bernada simpatik dan menasihati, meskipun ada satu dua yang bernada sinis dan menggunakan banyak sinonim dari kata “pelacur” dan “murahan” [catatan: berdasarkan pengamatan, dalam kasus ini, kata makian dari sesama perempuan lebih kasar daripada kata makian dari laki-laki], padahal pada foto profilnya, para perempuan yang melontarkan kata-kata kasar ini tampaknya relijius. Adapun komentar-komentar dari laki-laki kebanyakan bernada mengancam dan merendahkan, mulai dari ancaman mencari pemilik akun dan pacarnya, ancaman melaporkan ke orangtua, hingga melaporkan ke polisi. Tidak jarang ada laki-laki yang berkomentar, “Perempuan kayak gini baiknya kita gilir rame-rame, mumpung gratis,” dan sejenisnya, setelah mengawali komentarnya dengan nasihat-nasihat berbau agama, padahal di foto profilnya menggambarkan seorang laki-laki yang sedang menggendong anak kecil.

Saya heran. Kalau memang tindakannya mengunggah foto di ranjang bersama pacar adalah hal yang mereka anggap tidak baik, lantas mengapa harus “digilir ramai-ramai”? Kalau “digilir beramai-ramai”, bukannya kalian jadi ikut-ikutan melakukan “tindakan maksiat” tersebut? Terlepas dari apakah kita menyetujui perbuatan si pemilik akun atau tidak (ataupun akunnya asli atau palsu), sungguh menarik untuk mengamati reaksi dan tanggapan masyarakat terhadap foto tersebut. Kita mencaci, kita nyinyir, tapi toh, kita tetap mengunjungi halaman FB-nya, kita tetap meninggalkan komentar, kita tetap men-share foto tersebut. Untuk apa? Tentu sebagai wujud kepedulian kita terhadap generasi muda!

Kita tentu sangat khawatir terhadap nasib generasi muda, sehingga kita repot-repot mencari segala macam berita sensasional dan menyebarkannya agar dapat diketahui semua orang. Kita tentu sangat peduli pada anak-anak ini sehingga kita mengata-ngatai mereka di media sosial dan mengingatkan mereka akan Tuhan, lalu men-share fotonya agar semua orang tahu, ini lho, anak yang tidur dengan pacarnya itu. Lalu, karena kita menyayangi mereka, maka kita ingin membimbing mereka ke jalan yang benar dengan cara mengatai mereka pelacur dan berniat untuk “menggilir mereka beramai-ramai”. Dengan begitu, jika wajah dan kelakuan mereka tersebar, tentu mereka akan malu dan bertobat dan memperbaiki diri. Biar tahu rasa.

Tidak. Jika kita memang peduli, kita tidak akan menggosip atau mencaci atau menyebarkan foto seperti itu demi “meningkatkan kepedulian”. Jika kita memang peduli, kita akan menghubungi pemilik akun secara pribadi, sebab hal yang pribadi letaknya bukan di kolom komentar yang bisa dikonsumsi publik. Jangan membungkus narsisisme dan keinginan untuk ikut campur di balik alasan kepedulian dan altruisme.

Saya tidak habis pikir. Sepertinya, budaya kita memang adalah budaya yang lebih senang menghukum ketimbang mendidik. Kita lebih senang “mendenda” kantungan kresek seharga dua ratus rupiah ketimbang memberi diskon bagi yang membawa eco-bag dari rumah. Kita lebih memilih untuk menyensor semua situs internet ketimbang mengajarkan pada anak bagaimana cara mengakses situs yang aman. (Seorang teman bahkan berkata, “Di Indonesia, kalau mau cari situs porno, cukup buka daftar situs-situs yang diblokir oleh Kemenkominfo, lalu akses pakai VPN. Ga perlu repot-repot cari sendiri.”) Kita lebih senang menilai seseorang berdasarkan hasil ketimbang upaya/proses. Kita senang kalau siswa kita meraih nilai sepuluh tanpa peduli dia menyontek atau tidak, dan kita marah kalau siswa kita dapat nilai merah meskipun dia belajar dan tidak menyontek. Kita mengagung-agungkan tingkat kelulusan, nilai tertinggi, akreditasi universitas—toh yang penting di atas kertas hasilnya bagus, bodo amat caranya bagaimana. Demikianlah, saya merasa ngeri memikirkan metode “rehabilitasi” yang dirancang oleh kaum moralis terhadap “penderita” LGBTIQ.

Itu pula sebabnya mengapa kita gagap akan wacana pendidikan seks usia dini. Kita lebih senang mengecam anak SD yang pacaran, kita lebih suka merendahkan mereka yang melakukan praktik seks di luar nikah, kita lebih memilih untuk melecehkan korban kekerasan seksual. Kita hanya pandai menghakimi. Jika anak SD pacaran, yang salah pasti orangtuanya. Jika pasangan melakukan hubungan seks di luar nikah, pasti akhlaknya tidak baik. Jika seseorang mengalami kekerasan seksual, pasti karena dia yang mengundang si pelaku. Dikotomi dan bigotry. Alih-alih mengajarkan pendidikan seks sejak dini atau praktik seks secara aman atau bagaimana supaya tidak melakukan kekerasan seksual, kita justru menyalahkan orang-orang yang semestinya dididik. Kita menghakimi justru sebagai bentuk kompensasi terhadap ketidakmampuan kita untuk mendidik generasi muda secara baik dan benar.

Adalah tidak adil untuk menghakimi seseorang sebelum mendidik terlebih dahulu, sebagaimana halnya adalah tidak adil untuk menguji seseorang yang belum melalui suatu proses pembelajaran. Oleh karena itu, orang yang tidak mendidik sebaiknya tidak menghakimi.

Kita mendukung tes keperawanan, mengkritik mereka yang berpakaian terbuka, melarang remaja pacaran, merendahkan mereka yang melakukan hubungan seks di luar nikah, menabukan hal-hal berbau seks dalam kehidupan sehari-hari, mendiskriminasi penderita HIV dan kaum LGBTIQ, memberi stigma negatif pada korban kekerasan seksual, dan lain-lain. Kita bersembunyi di balik topeng moral dan agama untuk membenarkan tindakan kita menghakimi mereka, padahal kalau mau jujur, memangnya apa yang sudah kita lakukan untuk mendidik mereka mengenai hal-hal tersebut?

Saya tidak menyetujui tes keperawanan. Menurut saya, setiap orang berhak untuk memilih jenis dan model pakaiannya. Saya memilih tidak ikut campur dalam urusan romansa dan urusan seksual orang lain. Saya mendukung pendidikan seks sejak usia dini. Saya mendukung hak-hak asasi manusia, tanpa peduli apapun orientasi seksualnya. Saya menyayangkan penyensoran yang berlebihan dan pemblokiran beberapa situs tertentu. Sayangnya, di Indonesia, pendapat saya ini akan menjadikan saya otomatis tidak perawan, senang berpakaian terbuka, gila seks, sekaligus menjadi seorang lesbian dan pecandu pornografi. Wow. Bigotry never dies.

[Lain kali seseorang menggunakan “kodrat” atau “seks itu tujuannya untuk proses berkembang biak, jadi harus antara laki-laki dan perempuan” sebagai argumen saintifik untuk menyerang LGBTIQ, akan saya tanya balik, “Lha, kalau begitu kenapa ada kondom (dan alat kontrasepsi lainnya)?”]

Tidak bisa tidak, saya kerap bertanya-tanya, apakah media sosial turut berperan dalam mengembangkan sikap suka menghakimi? Kita, yang bersembunyi di belakang layar laptop atau smartphone, bisa dengan entengnya mengatai seseorang pelacur hanya dari fotonya. Pertanyaannya, apakah kita masih berani mencaci dan melecehkan orang-orang yang tidak kita kenal (atau justru kita kenal), seandainya kita bertatap muka di dunia nyata? Media sosial merupakan media komunikasi yang memungkinkan kita berinteraksi dengan sedemikian banyak orang tanpa perlu bertemu langsung. Kondisi tidak bertemu langsung ini membuat kita merasa aman untuk bebas berekspresi, sebab kita menganggap dunia maya sebagai sesuatu yang “tidak nyata-nyata amat”, padahal tidak demikian keadaannya. Oleh karena itulah, melalui media sosial, kita bisa lebih kasar, kita bisa lebih jahat dibandingkan dengan apa yang kita tampilkan di dunia nyata; sehingga saya senang mengamati perilaku seseorang di media sosial, sebab di dunia maya, seseorang lebih sering menanggalkan “topeng sosial”-nya sehingga saya dapat mengobservasi watak dan sifat yang sebenarnya dari seseorang. Menyadari hal ini, saya juga menggunakan media sosial mengontrol perilaku saya, yakni memutuskan untuk tetap menggunakan identitas asli supaya saya tidak bertindak semaunya di media sosial. Saya menggunakan media sosial sebagai sarana melatih integritas dan tanggung jawab.

.

Kondisi Indonesia sebagai negara yang masih menganut sistem patriarki mengakibatkan perempuan lebih banyak menjadi korban social bullying dalam masyarakat. Seperti pada kasus ini, dari seluruh komentar yang dilontarkan, tidak ada satupun—saya tegaskan, tidak ada satupun—komentar negatif yang dilontarkan pada si laki-lakinya. Semua komentar, baik dituliskan oleh laki-laki maupun perempuan, hanya menasihati ataupun menghina si perempuan, meskipun mungkin juga karena pemilik akun tersebut adalah yang perempuan.

Budaya patriarki yang cenderung misoginis, menempatkan perempuan satu tingkat lebih rendah dibanding laki-laki, baik dengan menggunakan dalih agama maupun dalih-dalih karangan lainnya. Tuntutan masyarakat terhadap perempuan sebagai satu-satunya pihak yang wajib “menjaga diri”, meskipun dibumbui dengan alasan bahwa perempuan adalah ciptaan Tuhan yang lebih indah dan rapuh dan oleh karena itu harus dijaga, adalah sebuah ironi. Ironi, sebab dengan demikian perempuan diberi tanggung jawab atas tindakannya sendiri SEKALIGUS tanggung jawab atas tindakan siapapun yang melakukan sesuatu padanya; sehingga dengan demikian, perempuan selalu menjadi pihak yang lebih mudah disalahkan baik oleh kaum lelaki maupun sesamanya kaum perempuan.

Ada suatu pernyataan yang menarik sehubungan dengan kesetaraan gender. Bunyinya begini,

Seorang laki-laki dapat menjadi sangat feminis dan seorang perempuan dapat menjadi sangat patriarkal.
—Aquarini Priyatna Prabasmoro

Pernyataan ini membuka mata saya, bahwa tidak selamanya feminisme identik dengan kaum perempuan, dan tidak selamanya paham patriarki identik dengan kaum lelaki. Tidak dapat kita pungkiri bahwa masih banyak perempuan yang juga senang menghakimi dan merendahkan perempuan lain dalam urusan seksual. Masih banyak perempuan yang beranggapan bahwa “Perempuan itu, setinggi-tingginya sekolah, toh ujung-ujungnya tempatnya hanya di dapur,” dan sebagainya. Saya sendiri pun pernah beranggapan bahwa harga diri dan kehormatan seorang perempuan terletak pada keperawanannya, dan ada masanya ketika saya memandang rendah perempuan yang sudah tidak perawan sebelum menikah (ini terjadi kira-kira sekitar sepuluh tahun yang lalu).

Saya bersyukur bahwa setelah itu saya memiliki teman-teman yang berpandangan jauh lebih terbuka daripada saya, dan jauh lebih feminis dibandingkan saya—dan justru mereka semua adalah laki-laki! Saya menyayangkan bahwa kebanyakan teman-teman perempuan saya justru lebih misoginis daripada teman laki-laki saya. Adalah menyedihkan melihat kesuksesan budaya patriarki yang berhasil membuat perempuan justru merasa terlindungi dengan adanya kecenderungan misoginis, dan justru mensyukuri posisi mereka sebagai gender kelas dua.

Kita tidak bisa mendidik hanya dengan konsep reward and punishment, apalagi jika reward and punishment-nya itu hanya berupa surga dan neraka. Itu malas. Itu ignorant. Zaman akan terus berkembang dan perubahan adalah suatu keniscayaan, sebagaimana dikatakan oleh Charles Sidney Burwell, salah seorang mantan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Harvard, “Half of what we are going to teach you is wrong, and half of it is right. Our problem is that we don’t know which half is which.” Jika kita hanya mengajarkan “apa” ketimbang “mengapa” dan “bagaimana”, maka pengetahuan anak-anak kita hanya akan terbatas pada “apa” yang kita ajarkan, dan tidak akan mampu menyesuaikan dengan relevansi zaman, sebab mereka tak pernah diajar “bagaimana” mencari pengetahuan itu sendiri.

Margaret Mead mengatakan, “Children must be taught how to think, not what to think.” Maka saya berpendapat, sudah saatnya kita memfokuskan perhatian pada upaya pendidikan dan pemahaman seks sejak usia dini pada anak-anak, sebab seperti kata teman saya yang lain, “Setiap orang puber di usia yang berbeda-beda.” Semua orang, pada waktunya dan tanpa diajar, akan mengetahui apa itu seks dan bagaimana cara melakukan hubungan seksual. Yang perlu kita lakukan adalah berhenti menjadikan pembicaraan mengenai seks sebagai sesuatu yang tabu atau tidak bermoral, serta mengajarkan tentang mengapa, kapan, dan dengan siapa hubungan seksual sebaiknya dilakukan, praktik seks yang aman agar terhindar dari risiko penyakit menular seksual (terlepas dari apakah hubungan itu terjadi di dalam atau di luar ikatan pernikahan), serta memberikan pemahaman mengenai orientasi maupun preferensi seksual. Hal lain yang tidak kalah penting ialah membekali diri dengan pengetahuan seksual berbasis sains terkini agar anak-anak tahu bahwa mereka bisa bertanya pada kita, sebab kita akan menyediakan jawaban berserta alasan-alasan ilmiahnya.

Menjadi orangtua bukan hanya sebatas reproduksi dan menghasilkan keturunan, melainkan juga disertai tanggung jawab untuk mendidik dan membekali anak dengan pengetahuan dan keterampilan untuk dapat hidup secara mandiri. Kewajiban orangtua terhadap anak lebih berat dibandingkan dengan kewajiban anak terhadap orangtua, sebab sesungguhnya tidak ada anak yang pernah minta untuk dilahirkan, dan tidak ada anak yang bisa memilih orangtuanya.

Sudah saatnya kita membuka wawasan dan berhenti berpura-pura menganggap seks sebagai sesuatu yang najis tapi diam-diam gemar melontarkan lelucon vulgar atau menganggap “digilir ramai-ramai” sebagai suatu bentuk upaya perbaikan moral. Kita, kaum misoginis horny-an munafik yang sok relijius dan sok moralis.

.

Beberapa artikel yang membuka pikiran saya:
The Black and White Perception of Sexual Violence in Indonesia
I’m Not Tainted: Losing Virginity
The Virginity Issue and Indonesia’s Sexual Contradiction
No Excuse for Abuse: Body Autonomy and Power Relations in Rape Prevention

Teach Your Kids Not To Rape, Not How To Dress
Confused Why Women Don’t Report Sexual Assault? Ask Ke$ha.
Cinderella 2.0 and ‘The Clooney Effect’
Higher Education Or Husbands? A Tough Choice for Indonesian Women


NB. Setelah selesai menulis ini, saya mengecek akun FB tadi dan mendapati bahwa sang empunya akun telah menghapus semua posts di dinding akunnya karena di-bully beramai-ramai. People can be so mean most of the time, especially if they think they’re better than you.

Advertisements

4 thoughts on “Media Sosial, Kesetaraan Gender, dan Pendidikan yang Mendidik

  1. Saya jadi ingat insiden anak smp yang diarak bugil karena mencuri sandal, saat itu netizen ramai menghujat “hukuman main hakim sendiri” itu, dibilang “biadab”, “patut dihukum kejam” dan sebagainya. Trus sekarang, apa bedanya dengan ramai-ramai repost foto si anak untuk dibully? Kenapa nggak diselesaikan dengan ditegur secara pribadi/beritahu ortu/KPAI biar dibimbing?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s