Pada Sebuah Kamar Kosong di Rumah Sakit


Langit sudah beranjak gelap ketika akhirnya aku berjalan menuju ke pintu keluar. Koridor-koridor yang tadinya ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang, kini mulai sepi dan lengang. Tak terdengar lagi suara-suara bising dari orang-orang yang saling meneriakkan perintah. Hanya terdengar bunyi tetesan air hujan yang menabrak genting dan membuat tampias jalanan di luar sana. Dan dalam keheningan yang ribut ini, semua tampak sibuk dengan pikirannya masing-masing.

Aku melirik jam tanganku. Hampir tengah malam. Entah mengapa, perjalanan ini terasa familiar. Bukan karena tiap hari aku melangkahkan kaki menyusuri lorong putih yang sama, dengan ubin dan dindingnya yang serba putih, dengan suasana sunyi yang sama, dengan perasaan sepi yang sama. Bukan. Terlarut dalam pikiran yang entah apa ujung pangkalnya, kusadari bahwa secara tidak sengaja, aku telah berhenti di depan kamarnya—bukan, bekas kamarnya.

Aku menatap pintu kayu di depan mataku, dan kulihat tanganku telah terangkat setengah jalan, ingin meraih gagangnya dan membukanya tanpa mengetuk terlebih dahulu, seperti yang pernah kulakukan setiap hari, dulu, pada suatu saat di masa lalu.

.

“Hai,” sapanya ketika aku melangkah masuk. Ia tersenyum ceria.

“Bagaimana kau tahu bahwa itu aku?” aku menelengkan kepala—tak habis pikir mengapa ia tidak pernah berhenti mengejutkanku.

I just knew,” ia mengangkat bahu, namun senyumnya tidak berkurang, “Lagipula, siapa lagi yang datang ke kamarku malam-malam begini, tanpa mengetuk pula?”

Aku spontan tertawa. “Kau tahu, pada tempat dan konteks yang salah, kata-katamu itu akan mengandung arti yang berbeda.” Ia ikut tertawa. “Lagipula, bisa saja itu perawat atau dokter.”

Matanya bersinar. “Kau kan dokter, so technically…” Itulah yang selalu membuatku kembali tiap malam ke kamarnya, meskipun setiap kali pula aku tidak tahu apa yang harus kukatakan untuk mengisi obrolan, sebab hal itu mengalir begitu saja di antara kami berdua. Aku selalu kembali, sebab ia selalu tersenyum dengan matanya. Dan aku menyukai perasaan yang ia timbulkan padaku saat ia menatapku dengan matanya yang tersenyum.

Mungkin beginilah perasaan Shahryār dalam kisah “Seribu Satu Malam” itu. Kami berdua selalu kembali pada orang yang sama—Scheherazade-nya dan Scheherazade-ku—dengan alasan tolol tentang ‘melanjutkan kisah’, atau dalam kasusku, bahan obrolan, meski kami berdua tahu bahwa bukan itu alasan sebenarnya. Tetapi siapa yang peduli? Toh, bukankah manusia bisa saling mengenal satu sama lain dengan bertukar kisah? Dan itulah yang kami lakukan, bertukar kisah agar dapat mengetahui sejarah masing-masing.

.

Aku termenung sejenak. Kamar itu sekarang kosong, jadi aku memang tidak perlu mengetuk. Tanganku masih mengambang di udara, bimbang apakah aku harus membuka kembali pintu itu setelah sekian lama, membuka kotak Pandora yang hanya akan membuka luka yang telah mulai menutup.

Namun, pikirku, bukankah dewa-dewa tidak sejahat itu? Ketika Jupiter memberikan kotak berisi segala macam keburukan dan kejahatan pada si cantik Pandora, bukankah di saat-saat terakhir hatinya tergerak, lalu kemudian ia menambahkan satu hal sederhana yang justru bisa membuat manusia bertahan di antara semua keburukan dan kejahatan yang dibawa oleh kotak itu? Sesuatu yang sederhana itu kemudian dinamakan harapan.

Tetapi bagiku, harapan itu sudah tidak ada, sebab Jupiter hanyalah dongeng, begitu pula dengan Pandora dan kotaknya. Waktu tetap berjalan, dan ada beberapa hal yang takkan dapat dilawan dengan harapan, salah satunya kematian.

Lalu aku membuka pintu itu.

.

Aku membuka pintu itu. Seperti biasanya, ia sedang duduk manis di tempat tidurnya, tampak bersih dan ceria seperti biasa. Di pangkuannya ada sebuah buku yang terbuka.

“Hei,” sapaku. “Apa aku mengganggu?” Aku memberi tanda pada buku yang sedang dipegangnya.

Ia menunduk, menatap buku itu. “Ini? Oh, tidak sama sekali. Justru aku ingin memperlihatkannya padamu. Kan, aku sudah tahu bahwa kau akan datang.” Dengan jahil ia mengedipkan sebelah mata padaku.

Aku bergaya seolah akan muntah. Ia tergelak. “Apa itu?”

“Album foto.”

“Oh.” adalah jawabanku yang cerdas.

“Kau ingin aku melihatnya?” Dengan ragu aku melangkah maju ke sisi ranjangnya.

Ia melambai ke arahku, memberi isyarat agar aku mendekat. Selama itu, raut wajahnya tidak pernah berubah. Ia tetap tersenyum, demikian pula dengan sorot matanya.

Aku lalu duduk di sebuah kursi di sisinya, lalu melongokkan kepala untuk melihat isi album tersebut. Dan tersentak.

Kami diam selama beberapa saat, hanya membalik halaman demi halaman dalam keheningan. Sesekali ia berhenti agak lama pada halaman tertentu, kadang senyumnya bertambah lebar, dan kadang sorot matanya meredup sejenak. Lalu aku memecah keheningan.

“Ia cantik,” kataku pelan. Ia tidak menjawab, namun sorot matanya melembut. Dan aku tidak cemburu, sebab aku tidak berhak untuk merasa cemburu, karena wanita yang ada di dalam foto itu memang cantik. Dan karena ia yang pertama berada di sana. Meskipun pada akhirnya, ia pula yang duluan pergi.

“Menurutmu, apakah aku akan bertemu dengannya lagi? Setelah—kau tahu…” Ia membiarkan kata-kata selanjutnya mengambang.

“Aku tidak tahu,” sahutku lembut, “namun aku berharap demikian. Aku akan mendoakan demikian untukmu.”

“Terima kasih.” Lalu ia menutup mata dan menyandarkan dirinya ke susunan bantal yang menyangga tubuhnya yang kian ringkih, senyumnya diliputi kedamaian, dan meskipun matanya tertutup, aku tahu ia juga sedang tersenyum dengan matanya.

.

Kamar itu sekarang kosong. Katanya saluran airnya tersumbat, jadi mereka belum bisa menempatkan pasien lain di sana untuk sementara ini. Aku menatap ke dalam kegelapan kamar, berusaha menangkap bentuk samar-samar dari sebuah ranjang dan meja kecil di sampingnya. Di luar, hujan turun semakin deras dan menulikan telinga. Aku menggigil.

.

Waktu itu juga hujan. Aku masuk ke kamarnya sambil membawa setumpuk buku teks. Kulihat ia mengangkat alis sewaktu aku masuk.

“Bukankah kau seharusnya pulang dan belajar?”

“Di luar hujan,” sahutku.

“Lalu?”

“Aku lupa membawa payung.”

“Oh.”

Sesaat kemudian, ia berkata, “Kalau begitu, kau belajar saja di sini sampai hujan reda.” Tampaknya ia sedang berusaha menahan tawa.

“Apa yang lucu?” tanyaku kebingungan.

“Kau. Kau bilang kau paling benci jaga malam. Setiap kali jam jaga siang berakhir, kau selalu jadi yang pertama mengangkat kaki dari sini, takut kalau-kalau ada pasien baru yang masuk pada saat pergantian jaga yang menahanmu pulang lebih lama.”

Melihat aku masih belum mengerti, ia melanjutkan, “Nah, sekarang kau tidak jaga malam, kan? Tapi di luar hujan dan kau lupa membawa payung. Mungkin ini sudah takdir; kau dan rumah sakit memang ditakdirkan untuk saling berjodoh.” Ia tertawa terbahak-bahak.

Aku menatap jengkel ke arahnya. “Ha-ha-ha. Lucu sekali.” ujarku ketus.

Suaranya melembut, “Lihat sisi positifnya. Kalau kau pulang sekarang, kemungkinan besar kau akan ketiduran mengingat cuaca yang sangat mendukung. Tetapi karena kau terperangkap di sini, mau tidak mau kau jadi harus belajar, bukan?”

“Apa kau tipe orang yang selalu berusaha mencari sisi positif dari setiap kesialan? Kau tidak realistis.”

“Iya. Seperti misalnya, apa sisi positifnya aku dirawat di sini? Kita bisa saling mengenal satu sama lain. Bukankah itu hal yang positif?” kedipnya nakal. Aku merasakan panas merambat naik ke leher dan wajahku, dan aku yakin wajahku memerah akibat godaannya, karena ia kemudian tertawa terpingkal-pingkal, tidak memedulikanku yang buru-buru menenggelamkan diri di balik sebuah buku teks besar yang kugunakan untuk menyembunyikan diri.

.

Aku melangkah masuk ke kamar yang gelap itu. Aku tidak perlu menyalakan lampu, sebab aku hafal betul letak perabotan di dalam kamar itu. Aku tahu berapa langkah jarak dari pintu ke tempat tidur, dan kakiku otomatis mengambil langkah-langkah yang sama, seperti yang telah kulakukan setiap hari pada suatu waktu di masa lalu.

Dengan hati-hati, aku duduk di sisi ranjang yang kosong. Tanganku perlahan meraba seprai yang licin dan dingin, bukan lagi kusut dan hangat seperti dulu. Pandanganku menerawang dalam kegelapan.

.

Malam itu, ketika aku masuk, ia tidak menyambutku seperti biasa. Ia terbaring lemah dengan selang oksigen yang terpasang di hidungnya. Wajahnya agak pucat dibandingkan biasa. Namun, ketika melihatku mendekat, matanya berbinar.

“Apakah mereka memasangnya dengan benar?”

Aku terpana. “Apanya?”

“Selang oksigennya.”

Aku memicingkan mata. “Iya. Mengapa? Apa kau merasa sesak?”

Ia menghembuskan napas lega. “Tidak, aku baik-baik saja. Hanya saja, kau tahu kan, di sinetron-sinetron biasanya mereka salah memasang peralatan medis. Dan bukan sekali-dua kali kau mengungkapkan kejengkelanmu mengenai hal itu padaku.”

Aku menatapnya tak percaya. Jadi hanya gara-gara itu? Namun yang keluar dari mulutku adalah, “Kau menonton sinetron?”

Ia menatapku, tampak malu. Aku menatapnya. Selang dua detik kemudian, kami berdua tertawa terbahak-bahak—aku sampai menangis dan ia sampai terbatuk-batuk—jadi aku terpaksa berhenti dan membantunya menenangkan diri.

Ketika semua sudah reda dan ia kembali bernapas dengan lega, aku duduk di kursi di samping ranjangnya. Kami berdua terdiam untuk waktu yang lama.

“Apa menurutmu akan sakit?” tanyanya lirih.

Aku berkedip dua kali. “Kami akan memberimu pengobatan yang terbaik,” ujarku tak kalah lirih. Untuk pertama kali aku tidak berani menatap wajahnya.

Ia meremas tanganku. “Jangan merasa bersalah,” ujarnya lembut, “dokter bukanlah tukang sulap; kalian tidak menganugerahkan hidup ataupun mencabut nyawa, dan kami tidak berhak untuk menuntut hal itu dari kalian.”

Ada sesosok gumpalan besar di tenggorokanku, “Tapi—”

“Kau tahu, tidak, mengapa kami seringkali menyalahkan kalian?” Aku menggeleng. “Sebab sebenarnya kami ingin mengumpat dan menyalahkan Tuhan, tapi kami tidak bisa. Jadi kami menyalahkan kalian.” Sesaat kemudian ia menambahkan, “Meskipun kadang-kadang itu memang salah kalian—pada kasus-kasus malpraktik, misalnya.” Ia terkekeh.

Aku mendengus, ingin tertawa namun takut suaraku pecah.

“Apapun akhirnya, aku hanya berharap kita semua dapat melaluinya dengan baik. Aku ingin dapat meninggalkan dunia ini dengan tenang dan demikian pula dengan semua orang yang kutinggalkan,” ia menatapku tajam, “sebab waktu akan berlalu dan hidup harus terus berjalan. Kita semua harus melangkah maju pada akhirnya.”

Aku sudah sangat dekat dengan menangis, namun ia tersenyum padaku, dan aku tahu bahwa ia tidak ingin melihatku menangis. Maka aku pun tersenyum dan, walaupun akhirnya sebutir air mata lolos dan jatuh bergulir di pipi kiriku, aku meledeknya, “Jadi, kau sudah menghapus browser history-mu?”

Matanya berbinar, dan meskipun suaranya pecah, ia menyahut dengan jenaka, “Tentu saja sudah.”

.

Aku membuka mata, dan kurasakan dua butir air mata jatuh bergulir di kedua pipiku. Aku menghapusnya. Itulah pertemuan terakhirku dengannya, sebab beberapa hari kemudian ketika aku datang lagi, tempat tidurnya sudah kosong. Seorang perawat menatapku iba dan dari sorot matanya, aku langsung tahu tanpa perlu diberi penjelasan. Waktu itu aku juga masuk ke kamarnya, dan seperti sekarang, duduk di sisi ranjang yang sama, dan mengusapkan tanganku pada seprai dingin dan licin yang sama. Hanya saja, waktu itu aku membiarkan diriku menangis.

HIV. Aku ingat, sekali waktu ia pernah mengeluh, “Mengapa dalam film-film dan sinetron, sang tokoh yang ditakdirkan meninggal karena penyakit selalu mati karena penyakit keren seperti kanker atau kecelakaan? Mengapa tidak ada yang mati karena gangren di kaki yang membusuk, misalnya, atau mati karena berak darah? Sungguh tidak realistis.” Ia mengembuskan napas kesal.

Aku terdiam sejenak. Aku tahu, ia sengaja menghindari menyebutkan penyakitnya. Mungkin, jauh di dalam lubuk hatinya, ia masih menyimpan setitik harapan seperti halnya kotak Pandora. Maka aku pun menjawab, “Pertama, kanker atau kecelakaan itu tidak keren. Yang kedua, membuat orang mati karena gangren atau berak darah akan merepotkan si tukang rias dan si pembuat special effect. Kau tahu sendiri kan, mana ada yang mau menonton film dengan kualitas yang sama seperti sinetron elang-elang itu.”

Jadi ia pun tersenyum. Senyum yang aku sukai, senyum yang mencapai matanya yang mulai cekung akibat penyakitnya yang bertambah berat. Tetapi bagaimanapun juga, aku bahagia karena bisa membuatnya tersenyum.

Di luar, hujan sudah mulai reda. Masih gerimis, tapi tidak mengapa. Toh, aku membawa payung. Aku tidak lagi lupa membawa payung, meskipun kini aku sudah tak perlu ujian lagi. Setelah mengusap sisa-sisa air mataku, aku menarik napas, melangkah keluar dari kamarnya, lalu menutup pintu dan mulai berjalan ke arah pintu keluar.

Saat aku mencapai pintu keluar, aku berbalik sekali lagi menatap pintu kamarnya yang berwarna cokelat tua. Aku tersenyum, sambil mengingat sorot matanya ketika sedang tersenyum padaku. Farewell, batinku. Selamat tinggal, dan sampai jumpa lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s