Arogansi Profesi


Tulisan ini bermula ketika saya dan teman sedang mampir makan siang di sebuah rumah makan. Di meja sebelah kami duduk seorang ibu-ibu bersama dengan seorang remaja putri dan seorang remaja putra. Karena suasana restoran yang cukup sepi, maka percakapan di meja sebelah pun sampai di telinga kami.

Ternyata mereka sedang memperbincangkan mengenai hasil ujian masuk PTN baru-baru ini. Sang ibu berkata pada si remaja putri (mungkin anaknya), “Ya sudah, tidak apa-apa kalau kamu tidak lulus di (fakultas) kedokteran, masuk [salah satu jurusan] saja. Yang penting, kamu cari suami dokter, jadi bisa kerja sama nantinya.” Sontak saya berpandang-pandangan dengan teman saya dan berusaha menahan agar tawa tidak pecah.

Hal ini membuat saya teringat pada masa orientasi mahasiswa baru sekitar sepuluh tahun yang lalu, ada seorang senior yang bertanya pada kami yang mahasiswi, “Kalian masuk FK mau jadi dokter atau jadi nyonya dokter?” (Pertanyaan yang sampai sekarang masih saya benci, terutama karena senior yang bertanya adalah seorang perempuan.)

Ada juga junior di FKG yang pernah curhat di salah satu status media sosialnya; ia bercerita bahwa setiap ada orang yang mengetahui bahwa ia kuliah di FKG, komentar-komentar yang dilontarkan kalau bukan, “Oh, karena tidak lulus di FK ya?” biasanya “Kenapa nggak di FK saja?” Bahkan, katanya, sesama teman kuliahnya di FKG pun pernah bertanya, “Kamu kan pintar, harusnya masuk FK saja, kenapa malah ambil FKG?” Padahal junior saya itu cita-citanya memang menjadi dokter gigi.

Setelah kejadian di rumah makan kemarin, saya jadi bertanya-tanya, apa sih istimewanya menjadi seorang dokter? Benar bahwa profesi dokter itu merupakan profesi yang mulia, sebab seorang dokter belajar dan bekerja demi meningkatkan kualitas kesehatan sesama manusia. Akan tetapi, hal tersebut tidak membuat profesi kedokteran lantas harus diberi derajat yang lebih tinggi dibanding profesi lainnya. Profesi dokter adalah sebuah profesi yang mulia, demikian pula halnya dengan profesi insinyur, profesi pengacara, maupun bekerja sebagai kuli bangunan dan ibu rumah tangga.

Dulu, awal-awal saya masuk di FK, saya pun merasa sombong bangga karena berhasil masuk di jurusan yang katanya “elit” ini; apalagi saat memasuki masa koas. Bayangkan, hari libur yang harusnya untuk berleha-leha malah stase di rumah sakit. Banyak hal-hal yang harus saya korbankan seperti waktu berkumpul bersama keluarga besar. Dan karena merasa telah melakukan sekian banyak pengorbanan, saya pun merasa bahwa selayaknya profesi dokter diberi gelar “mulia”.

Sampai ketika suatu saat saya ke mall pada hari libur, dan menyadari bahwa banyak petugas-petugas di mall seperti SPG, karyawan restoran, cleaning service, satpam, dan lain-lain yang kerjanya justru lebih berat pada hari libur. Dan kemudian saya bertanya, kalau cuma soal lamanya jam kerja, apa sih istimewanya seorang dokter? Demikian banyaknya hal-hal yang saya jumpai dalam hidup yang kemudian membuat saya menyadari bahwa profesi kedokteran sebaiknya jangan dianggap lebih tinggi dibanding profesi-profesi lain.

Semasa masih jadi mahasiswa, saya merasa jadi koas itu keren. Sewaktu jadi koas, saya merasa jadi dokter yang sudah lulus itu keren. Toh ternyata semua itu berlalu—terutama karena kita selalu melakukan peningkatan pengetahuan dan kemampuan diri menjadi lebih baik, lebih tahu, dan lebih terampil. Setelah menjadi koas, saya merasa menjadi mahasiswa preklinik itu biasa-biasa saja. Setelah menjadi dokter, saya merasa menjadi koas itu biasa-biasa saja. Demikianlah seterusnya karena semua itu merupakan suatu proses untuk mencapai tujuan yang lebih jauh; dan akhirnya kini saya memahami mengapa orang-orang yang paling hebat dan terampil di bidangnya justru adalah orang-orang yang paling rendah hati.

Profesi kedokteran adalah satu di antara sekian banyak profesi lain yang juga mulia, sepanjang profesi itu, dalam pelaksanaannya, bertujuan untuk hal-hal yang baik dan bermanfaat bagi sesama makhluk hidup dan lingkungan. Meskipun demikian, tak dapat dipungkiri bahwa salah satu penyebab arogansi dan glorifikasi profesi kedokteran berasal dari sekian banyak stigma yang berkembang dalam masyarakat. Dokter dianggap hebat karena mampu menyembuhkan penyakit, memiliki pengetahuan yang luas, dan mungkin yang paling lazim adalah kondisi ekonominya berada di atas rata-rata. Padahal ini tidak sepenuhnya benar.

Agak miris rasanya melihat sekian banyak orangtua yang menginginkan anaknya kelak menjadi seorang dokter. Ada yang karena orangtuanya menganggap jadi dokter seolah-olah menjamin kesuksesan, ada yang karena orangtuanya dulu tidak kesampaian menjadi dokter, ada juga yang karena orangtuanya dokter sehingga menginginkan anaknya meneruskan jejaknya. Kenapa miris? Karena mungkin ada beberapa orangtua yang tidak menanyakan pada anak yang bersangkutan, apakah si anak memang ingin menjadi dokter atau tidak.

Kadang, pada saat memberi kuliah pada mahasiswa, saya bilang, “Profesi kedokteran itu adalah sebuah passion. Entah apapun alasannya kita masuk di FK, apakah karena tes dan kebetulan lulus, atau karena permintaan orangtua, atau karena memang ingin menjadi dokter, toh kita sudah terlanjur masuk di FK. Oleh karena itu, belajarlah dengan baik supaya bisa menjadi dokter yang baik. Toh seandainya setelah lulus nanti kalian tidak ingin berprofesi sebagai dokter, tidak apa-apa, karena setiap orang berhak memilih jalan hidup masing-masing dan jalan menuju kesuksesan bukan hanya dengan menjadi seorang dokter.”

Yang lucu juga adalah pada saat meminta mahasiswa menjawab kuesioner di akhir salah satu blok/mata kuliah, salah satu pertanyannya adalah tentang setelah lulus nanti, mahasiswa tersebut mau menjadi dokter apa. Selama kurang lebih tiga tahun membaca jawaban kuesioner-kuesioner tersebut dari tiga FK di universitas yang berbeda, hampir tidak pernah saya dapati mahasiswa yang menjawab ingin menjadi dokter umum. Hampir semua ingin menjadi dokter spesialis tertentu, beberapa ingin menjadi dokter peneliti, tapi tidak ada yang ingin menjadi “hanya dokter umum”; seolah-olah profesi dokter umum itu hanyalah suatu persinggahan sebelum berkesempatan untuk melanjutkan pendidikan lebih jauh. Padahal, dalam kehidupan nyata justru dokter umumlah garda pertama yang paling banyak berhadapan dengan pasien.

Oleh karena itu, saya pun menyimpulkan bahwa arogansi profesi ini bukan hanya terjadi di profesi kedokteran vs profesi lain, melainkan juga dalam lingkungan internal profesi kedokteran itu sendiri. Arogansi ini, yang dalam aplikasinya melahirkan “perbedaan derajat” antara profesi dokter dengan profesi lain, justru menimbulkan kerugian bagi profesi kedokteran. Salah satu hal yang paling mudah dilihat adalah karena profesi dokter yang dianggap mulia, sehingga dokter dituntut untuk menjadi sempurna. Contoh, dokter yang protes BPJS dengan alasan biaya atau dokter yang menuntut kenaikan upah atau pembayaran gaji akan dicap sebagai dokter yang mata duitan dan tidak tulus melayani pasien. Dokter yang salah memperkirakan jenis kelamin bayi tabung kemudian dituntut. Dokter seolah-olah diharamkan menganggap dirinya sebagai penyedia jasa layanan kesehatan karena kesannya hubungan dokter-pasien adalah hubungan bisnis. Karena dipandang mulia, profesi dokter justru menjadi penuh dengan tuntutan, harus selalu sempurna, dan “dilarang” untuk mengeluh. Mereka menyangka dokter adalah makhluk suci, padahal dokter juga manusia biasa.

Di kalangan dokter sendiri juga demikian. Saya tidak menyangkal bahwa menjadi dokter memerlukan sangat banyak pengorbanan, tetapi haruskah pengorbanan itu dijadikan pembenaran untuk menganggap diri lebih tinggi dibanding dengan orang lain? Ketika wacana kriminalisasi dokter sedang hangat-hangatnya dibicarakan, banyak teman sejawat yang kemudian tersinggung karena mungkin merasa kriminalisasi dokter adalah sebuah penghinaan. Memang sih, tidak ada seorang dokter pun yang akan mencelakai pasiennya dengan sengaja, tetapi niat baik tidak boleh dijadikan justifikasi untuk membenarkan suatu perbuatan yang memang salah. Mau tidak mau saya jadi ingat sebuah perkataan yang entah siapa pencetusnya, “When you’re accustomed to privilege, equality feels like oppression.

Hal serupa dapat kita amati pada profesi lain yang juga dianggap “mulia”, yakni profesi guru. Saya menghormati dan sangat berterima kasih pada guru-guru saya, baik guru di sekolah maupun di luar sekolah, akan tetapi karena terlanjur dilabeli “pahlawan tanpa tanda jasa”, kesannya seolah-olah mereka cukup hanya diberi imbalan berupa penghormatan dan penghargaan. Jika ada guru/dokter yang menorehkan suatu prestasi, maka akan dianggap “wajar” dan dipuja-puja setinggi langit, namun jika ada guru/dokter yang mengeluhkan sesuatu, palingan ditanggapi dengan, “Lho, tugas guru/dokter kan memang begitu, kenapa mengeluh? Tidak ikhlas ya?” WTF.

Akhir kata, secara pribadi saya tidak setuju dengan adanya glorifikasi profesi-profesi tertentu, sebab glorifikasi tersebut hanya akan menimbulkan arogansi profesi, yang di kemudian hari rasanya tidak akan memberikan suatu dampak yang positif. Toh sebagai manusia yang merupakan bagian dari masyarakat dunia, setiap profesi memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing, di mana antara profesi satu dengan lainnya saling membutuhkan satu sama lain.

Advertisements

4 thoughts on “Arogansi Profesi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s